- Joysparks Group melalui Lintas Bookstore akan membuka gerai pertamanya di Summarecon Mall Kelapa Gading pada akhir 2026.
- Lintas Bookstore menawarkan konsep destinasi budaya yang menyediakan buku, produk gaya hidup, dan ruang bagi komunitas.
- Joysparks Group juga melakukan ekspansi bisnis untuk Lintas Bookstore serta menambah jaringan supermarket dan department store di berbagai kota.
Suara.com - Di tengah perubahan kebiasaan masyarakat dalam mencari hiburan dan menghabiskan waktu, toko buku perlahan mengalami perubahan wajah.
Ruang yang dahulu identik dengan rak-rak buku dan aktivitas membaca kini mulai berkembang menjadi tempat untuk menikmati berbagai pengalaman, bertemu komunitas, hingga menemukan produk yang mendukung gaya hidup.
Fenomena ini menarik di tengah tantangan literasi di Indonesia. Minat baca masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah, sementara kehadiran konten digital membuat orang memiliki semakin banyak pilihan untuk mendapatkan informasi dan hiburan.
Untuk itu, toko buku dituntut menawarkan pengalaman yang lebih relevan agar tetap memiliki tempat dalam keseharian masyarakat.
Perubahan tersebut turut terlihat dari rencana kehadiran Lintas Bookstore, bagian dari Joysparks Group, yang akan membuka gerai pertamanya di Summarecon Mall Kelapa Gading pada akhir 2026.
Konsep yang ditawarkan tidak hanya berfokus pada penjualan buku, tetapi menjadikan toko buku sebagai ruang yang mempertemukan literasi, kreativitas, gaya hidup, dan komunitas.
Mengusung filosofi “A Home for Curious Minds”, Lintas Bookstore akan menghadirkan buku lokal dan internasional dalam bahasa Indonesia, Inggris, serta Mandarin.
Namun, pengunjung nantinya juga dapat menemukan koleksi vinyl, stationery, produk gaya hidup, hingga area cafe dan restoran. Konsep semacam ini menunjukkan bagaimana pengalaman berbelanja kini semakin bergeser.
Konsumen tidak selalu datang hanya karena membutuhkan sebuah produk, tetapi juga mencari suasana, aktivitas, dan pengalaman yang membuat mereka betah berada di suatu tempat.
“Lintas Bookstore dirancang bukan sekadar sebagai toko buku, tetapi sebagai destinasi budaya dan gaya hidup yang menghubungkan literasi, kreativitas, dan komunitas,” jelas Deddy Wongso, Finance Director Joysparks Group mengenai konsep yang diusung Joysparks Group.
Ruang komunitas juga menjadi bagian penting dari konsep tersebut. Berbagai aktivitas dapat menjadi cara untuk mempertemukan orang dengan minat yang sama, sekaligus membuat toko buku terasa lebih hidup. Dengan demikian, kunjungan ke toko buku tidak harus selalu berakhir dengan membawa pulang sebuah buku.
Pada saat yang sama, perubahan pengalaman belanja juga menjadi perhatian Joysparks Group dalam mengembangkan lini bisnis lainnya. Deddy mengatakan perusahaan juga melakukan transformasi besar pada bisnisnya karena perilaku konsumen dan industri ritel terus berubah.
“Joysparks Group lahir dari perjalanan perusahaan yang terus berkembang. Hari ini kami tidak lagi hanya mengelola satu atau dua brand, tetapi membangun sebuah ekosistem ritel yang saling melengkapi,” ujar Deddy.
Menurutnya, perusahaan membutuhkan identitas yang dapat menyatukan berbagai portofolio bisnis sekaligus menjadi fondasi untuk berkembang bersama pelanggan dan mitra.
Gagasan menghadirkan pengalaman yang lebih beragam juga terlihat pada Happy Harvest Supermarket. Selain berbelanja kebutuhan sehari-hari, pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas, mulai dari program Lelang Buah dan TTM (Tebak Tebus Murah) hingga kegiatan komunitas.