- Masyarakat Jawa memiliki tradisi menafsirkan perilaku kucing berdasarkan naskah kuno Serat Ngalamating Kucing.
- Anggapan suara kucing melengking malam hari sebagai pertanda kematian merupakan mitos tanpa dasar ilmiah.
- Secara ilmiah, suara kucing melengking malam hari disebabkan aktivitas alami, perilaku seksual, atau masalah kesehatan.
Suara.com - Suara kucing menangis atau mengeong melengking di luar rumah saat malam hari kerap membuat sebagian orang bertanya-tanya. Suara yang panjang, nyaring, bahkan terdengar seperti tangisan manusia tersebut sering dikaitkan dengan berbagai kepercayaan, terutama dalam tradisi masyarakat Jawa.
Dalam kepercayaan yang berkembang di masyarakat, suara hewan pada waktu tertentu terkadang dianggap sebagai pertanda atau simbol dari suatu kejadian. Namun, penting membedakan antara kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun dan fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Arti Suara Kucing Menangis Malam Hari Menurut Kepercayaan
Kepercayaan mengenai kucing sebagai hewan yang memiliki pertanda tertentu memang tercatat dalam literatur budaya Jawa. Salah satu sumber yang dapat dirujuk adalah penelitian Mirya A. berjudul Serat Ngalamating Kucing: Mitos Kucing dalam Budaya Jawa yang diterbitkan dalam jurnal NUSA, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro pada 2017.
Penelitian tersebut mengkaji Serat Ngalamating Kucing, sebuah naskah Jawa lama yang berisi berbagai kepercayaan mengenai kucing. Naskah tersebut terdiri atas 24 bait dan memuat penafsiran terhadap jenis, ciri fisik, serta perilaku kucing sebagai pertanda tertentu bagi manusia. Teks tersebut juga diketahui telah tersebar di masyarakat Jawa dan terdapat di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Meski demikian, penelitian tersebut tidak secara khusus menyebut suara kucing menangis melengking di luar rumah pada malam hari sebagai pertanda kematian, musibah, atau kehadiran makhluk gaib.
Artinya, jika ada anggapan bahwa suara kucing melengking pada malam hari pasti menjadi tanda seseorang akan meninggal atau rumah akan mengalami kejadian buruk, klaim tersebut tidak dapat disebut sebagai kesimpulan dari Serat Ngalamating Kucing.
Kucing Memang Punya Banyak Pertanda dalam Kepercayaan Jawa
Serat Ngalamating Kucing menunjukkan bahwa masyarakat Jawa memiliki tradisi menafsirkan ciri dan perilaku kucing.
Dalam penelitian Mirya, misalnya, beberapa jenis kucing dipercaya membawa keberuntungan, sementara jenis lainnya dianggap membawa ketidakberuntungan bagi orang yang memeliharanya. Bahkan, ciri ekor kucing turut menjadi bagian dari penafsiran tersebut. Kucing berekor tumpul atau bundhel dalam beberapa bagian naskah justru dianggap memiliki pertanda lebih baik.
Salah satu contoh adalah kucing Wulan Krahingan, yang dalam Serat Ngalamating Kucing digambarkan memiliki tubuh hitam dengan corak putih di bagian kiri perut. Kucing tersebut dipercaya membawa kebaikan dan terkabulnya keinginan bagi orang yang memeliharanya.
Ada pula Leksana Nira, yakni kucing berbulu hitam dengan keempat kaki memiliki belang putih. Dalam naskah tersebut, kucing ini dipercaya membawa kebahagiaan dan rezeki kepada pemiliknya.
Hal ini menunjukkan bahwa tafsir mengenai kucing dalam tradisi Jawa tidak selalu berkaitan dengan sesuatu yang buruk.
Benarkah Suara Kucing Melengking Pertanda Kematian?
Anggapan tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai mitos atau kepercayaan masyarakat, bukan fakta yang telah terbukti.
Sartini dalam artikel akademik Mitos: Eksplorasi Definisi dan Fungsinya dalam Kebudayaan yang diterbitkan di Jurnal Filsafat Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa mitos merupakan cerita yang berkembang di masyarakat dan dipercaya memiliki keterkaitan dengan kekuatan spiritual masa lampau.
Mitos juga dapat berfungsi dalam membentuk kebudayaan serta memengaruhi sikap dan kebiasaan masyarakat.
Dengan kerangka tersebut, suara kucing yang terdengar seperti tangisan dapat dipahami sebagai fenomena yang kemudian diberi makna oleh masyarakat sesuai dengan tradisi dan kepercayaan yang berkembang di lingkungan mereka.