- Spesies invasif asing blackchin tilapia asal Afrika Barat berkembang biak dengan cepat dan menjadi hama di perairan Thailand sejak lama.
- Ikan invasif tersebut menyebar ke sembilan belas provinsi di Thailand, mendesak spesies lokal, serta mengancam keseimbangan ekosistem perairan.
- Departemen Perikanan Thailand membatasi kepemilikan ikan, memantau wilayah pesisir, serta mengizinkan warga mengonsumsi tangkapan dengan ketentuan tertentu.
Suara.com - Ikan nila hitam yang menjadi perhatian di Thailand sebenarnya bukan ikan nila biasa, melainkan blackchin tilapia atau ikan blackchin tilapia (Sarotherodon melanotheron). Ikan ini merupakan spesies asing yang berasal dari Afrika Barat dan kini menjadi salah satu spesies invasif yang mendapat perhatian serius di Thailand.
Istilah ikan nila hitam kerap menimbulkan salah pengertian karena blackchin tilapia masih satu keluarga dengan ikan nila. Namun, keduanya merupakan spesies berbeda.
Ikan nila atau Nile tilapia memiliki nama ilmiah Oreochromis niloticus, sedangkan blackchin tilapia adalah Sarotherodon melanotheron. Departemen Perikanan Thailand juga membedakan kedua jenis ikan tersebut.
Kenapa blackchin tilapia menjadi hama di Thailand?
Masalah utama blackchin tilapia adalah kemampuannya berkembang biak dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Ikan ini dapat hidup di perairan tawar maupun payau dan mampu bertahan pada kondisi lingkungan yang beragam.
Departemen Perikanan Thailand menyebut blackchin tilapia sebagai hewan air asing yang dapat berkembang biak dengan cepat, beradaptasi dengan lingkungan dan bersaing dengan spesies lokal untuk mendapatkan habitat. Penyebarannya kemudian berdampak pada spesies ikan asli, ekosistem perairan dan usaha perikanan.
Kemampuan reproduksinya juga menjadi salah satu faktor penting. Berdasarkan informasi dari Office of Natural Resources and Environmental Policy and Planning Thailand, blackchin tilapia dapat berkembang biak sepanjang tahun.
Ikan betina dapat menghasilkan sekitar 50 hingga 300 telur atau lebih dalam sekali reproduksi. Telur dan larva kemudian dirawat di dalam mulut ikan jantan sehingga peluang kelangsungan hidup anak ikan relatif tinggi.
Bagaimana ikan ini mengganggu ekosistem?
Blackchin tilapia merupakan ikan dengan pola makan yang fleksibel. Makanannya dapat mencakup plankton, tumbuhan, hewan air hingga sisa organisme.
Ketika jumlahnya meningkat tajam, ikan ini dapat mengambil sumber makanan yang sebelumnya tersedia bagi spesies asli. Persaingan tersebut berpotensi mengurangi populasi ikan lokal sekaligus mengubah keseimbangan rantai makanan di perairan.
Sebuah kajian ilmiah mengenai invasi blackchin tilapia di Thailand menyebut keberadaan ikan ini berkaitan dengan penurunan populasi ikan asli, gangguan keseimbangan ekosistem dan berkurangnya keanekaragaman hayati. Ikan tersebut juga dapat bersaing dengan spesies lokal untuk memperoleh makanan dan habitat.
Dampaknya tidak hanya terjadi di sungai atau kanal. Blackchin tilapia juga dapat ditemukan di wilayah pesisir, muara dan tambak. Departemen Sumber Daya Kelautan dan Pesisir Thailand pada 2025 melakukan pemantauan penyebaran spesies tersebut di sejumlah ekosistem laut penting, termasuk kawasan muara sungai dan kanal.
Mengapa populasinya sulit dikendalikan?
Salah satu alasan blackchin tilapia mudah berkembang di lingkungan baru adalah kemampuan adaptasinya. Penelitian juga menemukan kemungkinan faktor biologis lain yang mendukung keberhasilannya sebagai spesies invasif.
Studi terhadap 164 blackchin tilapia di sejumlah lokasi di Provinsi Chumphon, Thailand, tidak menemukan cacing parasit pada sampel yang diperiksa. Para peneliti menyebut kondisi tersebut dapat mendukung keberhasilan invasi karena ikan mungkin terbebas dari sebagian tekanan parasit yang biasa dihadapi di habitat asalnya.
Penelitian terbaru yang terbit pada 2026 juga menemukan bukti bahwa blackchin tilapia di Thailand berasal dari beberapa introduksi dengan asal geografis berbeda, berdasarkan analisis genetik terhadap ratusan sampel. Temuan tersebut menunjukkan persoalan penyebarannya tidak sesederhana satu populasi yang berkembang dari satu sumber saja.
Sudah menyebar ke mana saja?
Pada 2024, Departemen Perikanan Thailand mencatat blackchin tilapia telah menyebar di 19 provinsi, termasuk Bangkok, Samut Prakan, Samut Sakhon, Samut Songkhram, Phetchaburi, Prachuap Khiri Khan, Chumphon, Surat Thani dan Songkhla.
Pemerintah Thailand kemudian menerapkan sejumlah langkah pengendalian. Salah satunya adalah pembatasan kepemilikan blackchin tilapia di luar wilayah yang telah ditetapkan sebagai area penyebaran.
Apakah blackchin tilapia berbahaya jika dimakan?
Statusnya sebagai spesies invasif tidak berarti ikan ini otomatis beracun bagi manusia. Persoalan utama blackchin tilapia di Thailand adalah dampaknya terhadap ekosistem dan perikanan.
Departemen Perikanan Thailand bahkan menyatakan bahwa masyarakat yang menangkap spesies tersebut dari perairan alami dapat mengonsumsinya atau menjualnya dengan ketentuan tertentu, termasuk memastikan ikan sudah mati sebelum dijual.
Bagi ekosistem, populasi blackchin tilapia yang tidak terkendali dapat menyebabkan persaingan dengan ikan lokal, mengubah ketersediaan makanan dan mengganggu keseimbangan komunitas organisme air. Karena itu, pengendalian penyebarannya menjadi bagian penting dalam menjaga keanekaragaman hayati perairan Thailand.