- Psikolog keluarga Ajeng Raviando menyatakan pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab seluruh anggota keluarga.
- Frisian Flag mengadakan kampanye #TanggalMerahUntukIbu melalui penyajian sarapan terbanyak di Bandung pada 28 September 2026.
- Acara pemecahan rekor MURI tersebut juga akan dilanjutkan ke Yogyakarta pada tanggal 2 hingga 4 Oktober 2026.
Suara.com - Menjadi ibu sering kali berarti harus selalu siap ketika keluarga membutuhkan. Mulai dari menyiapkan sarapan, memastikan kebutuhan anak terpenuhi, mengurus rumah, sampai memikirkan hal-hal kecil yang mungkin tidak terlihat oleh anggota keluarga lainnya.
Karena sudah menjadi bagian dari keseharian, berbagai pekerjaan tersebut terkadang dianggap sebagai rutinitas biasa. Padahal, menurut psikolog keluarga Ajeng Raviando, pekerjaan rumah tangga bukan semata-mata tanggung jawab ibu.
“Pekerjaan di rumah itu adalah tanggung jawab seluruh anggota keluarga, bukan hanya tanggung jawab ibu,” ujar Ajeng.
Menurut Ajeng, ada pekerjaan domestik yang terlihat dan mudah dihitung, seperti memasak, mencuci, atau membereskan rumah. Namun, ada pula pekerjaan yang tidak terlihat tetapi tetap menguras energi ibu, yakni beban mental untuk terus memikirkan kebutuhan keluarga.
Contohnya saat menyiapkan sarapan. Pekerjaan ibu bukan hanya membuat dan menyajikan makanan, tetapi juga memikirkan apakah bahan tersedia, apa menu yang akan dibuat, hingga kembali memikirkan sarapan untuk keesokan harinya.
“Kadang-kadang kalau di rumah sering kali pekerjaan yang terlihat kayaknya lebih gampang diukur daripada pekerjaan yang tidak terlihat,” kata Ajeng.
Beban yang tidak terlihat itu membuat ibu bisa saja tetap merasa “bekerja” meski secara fisik sedang tidak melakukan pekerjaan rumah.
Suami Tak Harus Menunggu Diminta
Karena itu, Ajeng menilai berbagi peran dalam keluarga sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika ibu meminta bantuan.
Menurutnya, suami juga perlu mengambil inisiatif untuk mengurus pekerjaan rumah. Sebab, ketika ditanya apakah membutuhkan bantuan, ibu yang sudah terbiasa mengurus semuanya bisa saja justru mengatakan tidak.
“Keputusan untuk membantu itu harusnya proaktif. Misalnya nih, ini hari Minggu, aku aja deh yang take care. Aku aja yang handle kerjaan semuanya. Jadi kamu boleh bangun agak siang,” ujarnya.
Dengan demikian, suami bukan hanya membantu ibu menyelesaikan pekerjaannya, tetapi ikut mengambil tanggung jawab atas kehidupan rumah tangga.
Bagi Ajeng, memberikan waktu kepada ibu juga bukan sekadar memberikan kesempatan untuk melakukan me time. Lebih dari itu, ibu membutuhkan waktu untuk melakukan recovery.
“Boleh kasih tanggal merah untuk ibu supaya ibu-ibu juga bisa punya waktu untuk recovery,” katanya.
Menurut Ajeng, recovery dibutuhkan agar ibu dapat memulihkan energi, baik secara fisik maupun mental. Sebab, selama ini keluarga sering kali fokus memastikan anak dan anggota keluarga lain mendapatkan perhatian, sementara kebutuhan ibu untuk dirawat justru terlupakan.
“Bukan perkara me time. Tapi lebih kepada bagaimana menciptakan waktu untuk ibu recovery, baik secara mental, fisiknya juga kan capek,” ujarnya.
“Tanggal Merah” untuk Ibu
Gagasan memberikan waktu istirahat bagi ibu tersebut kemudian diangkat dalam kampanye #TanggalMerahUntukIbu dari Frisian Flag.
Melalui kampanye ini, para bapak dan keluarga diajak memberikan perhatian kepada ibu melalui tindakan sederhana. Salah satunya dengan mengambil alih rutinitas yang biasanya dikerjakan ibu, termasuk menyiapkan sarapan.
“Setiap pagi, perhatian Ibu hadir melalui berbagai hal sederhana yang mungkin sudah menjadi bagian dari rutinitas keluarga. Melalui #TanggalMerahUntukIbu, kami ingin mengajak bapak dan keluarga Indonesia untuk lebih menyadari dan mengapresiasi perhatian tersebut. Kalau biasanya Ibu yang menyiapkan dan menemani pagi keluarga, sekarang saatnya bapak beserta keluarga memberikan perhatian kepada Ibu,” ujar Intan Kartika, Marketing Director Frisian Flag Indonesia.
Semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan “Penyajian Sarapan Terbanyak untuk Istri” yang digelar di Trans Studio Mall Bandung, Senin (28/9/2026).
Sebanyak 1.000 peserta ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Para bapak menyiapkan kreasi sarapan roti dengan Frisian Flag Kental Manis, kemudian menyajikannya langsung kepada istri sebagai bentuk perhatian dan apresiasi.
Kegiatan tersebut juga diikuti sejumlah pasangan selebritas, yakni Adam Suseno dan Inul Daratista, Darius Sinathrya dan Donna Agnesia, serta Ananda Omesh dan Dian Ayu Lestari.

Aksi bersama tersebut kemudian tercatat dalam Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dengan rekor “Penyajian Sarapan Terbanyak untuk Istri”. Penghargaan tersebut diserahkan oleh perwakilan MURI kepada Intan Kartika, Marketing Director Frisian Flag Indonesia.
Bagi Darius, berbagi peran di rumah juga menjadi bagian dari keseharian bersama Donna.
“Kalau kita mungkin aku sama Donna sudah terbiasa untuk berbagi ya. Jadi berbagi beban. Karena mungkin menyadari bahwa ibu tuh bebannya di rumah luar biasa kan. Jadi sebisa mungkin proaktif lah sebagai bapak,” ujar Darius.
Ibu Bisa Punya Waktu untuk Dirinya Sendiri
Tak hanya mengajak para bapak mengambil alih urusan sarapan, rangkaian acara tersebut juga menyediakan ruang bagi para ibu untuk menikmati waktu bagi dirinya sendiri.
Di lokasi acara, ibu dapat mencoba sejumlah aktivitas, mulai dari express massage, personal color analysis, perawatan tangan dan kaki, hingga hairdo atau hijab-do.
Aktivitas tersebut menjadi salah satu cara memberikan kesempatan kepada ibu untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan menikmati waktu tanpa harus memikirkan pekerjaan rumah.
Konsepnya bukan semata-mata membuat ibu mendapatkan hiburan, tetapi memberikan kesempatan untuk mengisi kembali energi yang terkuras dari rutinitas sehari-hari.
Dengan begitu, “tanggal merah” untuk ibu bisa dimulai dari hal sederhana di rumah. Suami dapat mengambil alih pekerjaan rumah, menyiapkan sarapan, mengurus anak, atau sekadar memastikan ibu bisa tidur lebih lama tanpa harus memikirkan pekerjaan domestik.
Berlanjut ke Yogyakarta
Rangkaian #TanggalMerahUntukIbu tidak berhenti di Bandung. Setelah kegiatan di Trans Studio Mall Bandung, kampanye ini akan berlanjut ke Yogyakarta pada 2–4 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut akan digelar di Grand Atrium Pakuwon Mall Yogyakarta, dengan berbagai aktivitas yang mengajak ibu, bapak, dan keluarga menikmati waktu bersama.
Melalui kampanye #TanggalMerahUntukIbu, keluarga diajak kembali melihat bahwa perhatian kepada ibu tidak harus selalu hadir dalam bentuk hadiah atau sesuatu yang besar.
Kadang, perhatian justru bisa dimulai ketika suami mengambil alih pekerjaan rumah dan berkata, “Hari ini biar aku yang urus.”
Sebab bagi ibu, punya satu hari untuk berhenti sejenak bukan berarti mengabaikan keluarga. Justru, waktu untuk recovery bisa menjadi kesempatan untuk mengisi kembali energi sebelum kembali menjalani berbagai peran dalam keluarga.