- Fenomena api biru di Gunung Papandayan Garut disebabkan oleh pembakaran gas belerang vulkanik.
- Peningkatan suhu fumarol sejak tahun 2022 membuat gas belerang dapat terbakar secara spontan.
- Pengunjung dilarang mendekati titik api karena paparan gas beracun serta kondisi tanah rapuh.
Suara.com - Fenomena blue fire atau api biru di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, belakangan menjadi perhatian setelah sejumlah pendaki membagikan rekamannya di media sosial.
Namun, nyala api berwarna biru itu bukan berasal dari lava. Fenomena tersebut merupakan hasil pembakaran gas belerang yang keluar melalui rekahan vulkanik.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, mengatakan fenomena blue fire di Papandayan memiliki mekanisme serupa dengan yang selama ini dikenal di Kawah Ijen, Jawa Timur.
“Mekanisme blue fire adalah ketika magma di bawah Papandayan melepaskan gas hidrogen sulfida (HS) dan sulfur dioksida (SO) bersuhu sekitar 200–600 derajat Celsius melalui rekahan fumarol atau solfatara,” kata Sonni.
Gas HS yang keluar dari rekahan kemudian bertemu dengan oksigen di udara dan mengalami pembakaran.
Proses tersebut menghasilkan panas dan nyala api berwarna biru. Suhu api bahkan dapat mencapai sekitar 600 derajat Celsius.
“Pembakaran gas belerang inilah yang menghasilkan nyala api berwarna biru elektrik,” ujarnya.
Fenomena ini lebih mudah terlihat pada malam hari. Sebab, cahaya biru dari api relatif redup sehingga sulit diamati ketika terdapat cahaya matahari.
Di Papandayan, blue fire dapat muncul di sekitar fumarol aktif, yaitu lubang tempat gas vulkanik keluar ke atmosfer. Beberapa lokasi yang disebut dapat memperlihatkan fenomena tersebut antara lain Blok Mas dan kawasan Golden Sunrise.
Api biasanya lebih mudah terlihat ketika kondisi benar-benar gelap, terutama sekitar pukul 02.00 hingga 05.00 WIB.
Bukan Fenomena Baru
Meski kembali ramai diperbincangkan, Sonni mengatakan blue fire di Gunung Papandayan bukan fenomena baru.
Menurutnya, fenomena tersebut telah muncul sejak sekitar 2002, setelah erupsi pada November tahun itu membuka sejumlah rekahan dan jalur fumarol baru di kawasan Kawah Mas, Kawah Baru, dan Nangklak.
“Setelah erupsi 2002, banyak rekahan baru terbuka. Gas yang sebelumnya menyebar kemudian menjadi lebih terpusat pada celah-celah sempit dengan tekanan yang lebih tinggi,” kata Sonni.
Ketika gas tersebut bercampur dengan udara, proses pembakaran dapat terjadi dan menghasilkan nyala api berwarna biru.
Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas vulkanik Papandayan juga menunjukkan perubahan.