- Tren soft socializing Gen Z menghadirkan cara nongkrong baru yang kreatif.
- Workshop kerajinan menjadi pilihan populer soft socializing Gen Z saat ini.
- Aktivitas soft socializing Gen Z efektif mengurangi stres akibat penggunaan gawai.
Suara.com - Hangout tidak selalu harus duduk berjam-jam di kafe sambil mencari bahan ghibahan untuk diolah. Tren soft socializing menunjukkan bahwa anak muda mulai mencari cara bersosialisasi yang baru.
Bagi sebagian Gen Z, menghabiskan waktu bersama saat ini dapat dihabiskan dengan kegiatan-kegiatan yang fun seperti crafting, membuat keramik, melukis tote bag, merangkai bunga, atau mengikuti kelas membuat kerajinan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa cara anak muda menghabiskan waktu bersama mulai mengalami perubahan. Anggapan “nongkrong” tidak lagi selalu berarti duduk dan ngobrol di kafe.
Dalam laporan Values X Sucle mengenai tren Gen Z, pengalaman kreatif atau creative experiences seperti membuat perhiasan,melukis, dan mengikuti kegiatan workshop lainnya.
Aktivitas tersebut tidak hanya memberikan kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru, tetapi juga menjadi ruang untuk mengekspresikan diri dan membangun hubungan dengan orang lain.
Mengapa Kegiatan Ini Dianggap Lebih Menarik?
Salah satu alasan creative workshop menarik sebagai pilihan hangout adalah karena kebanyakan penyelenggara sudah menentukan rundown aktivitas yang harus dilakukan. Peserta hanya tinggal mengikuti aktivitas yang tersedia.
Selain itu, dampak gadget terhadap tingkat stres juga dapat mempengaruhi. Kegiatan mereka sehari-hari didominasi oleh aktivitas yang melibatkan gadget, dan kebanyakan dihabiskan untuk screen time berselancar di sosial media.
Dikutip dari Values, Fenomena tersebut sejalan dengan munculnya tren soft socializing, yaitu cara bersosialisasi yang lebih asyik.
Gen Z tetap membutuhkan ruang untuk melakukan interaksi dan membangun koneksi, tetapi kegiatan nongkrong di kafe tidak lagi harus menjadi pusat dari segalanya.
Mereka mulai menemukan cara lain untuk spare time bersama, salah satunya dengan melakukan aktivitas yang dapat dinikmati secara bersama-sama.
Selain aspek sosial, workshop kreatif juga menawarkan ruang untuk self-expression. Setiap orang dapat menghasilkan karya yang berbeda.
Cara menyelesaikan sebuah karya menjadi bentuk kecil dari bagaimana seseorang menunjukkan kreativitasnya.
Ada pula kepuasan lain yang tidak selalu ditemukan ketika nongkrong di kafe, yaitu sesuatu karya untuk dibawa pulang.
Setelah menghabiskan waktu selama satu atau dua jam, peserta tidak hanya membawa cerita tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu disana, tetapi juga sebuah karya yang menjadi cendera mata dari pengalaman tersebut.
Perluasan Makna
Hal inilah yang membuat workshop kreatif memiliki daya tarik tersendiri bagi Gen Z. Kegiatan tersebut memadukan antara rekreasi, pembelajaran, dan interaksi sosial.
Peserta dapat bersenang-senang, mempelajari keterampilan baru, sekaligus menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.
Namun, tren ini bukan berarti anak muda mulai meninggalkan kafe. Justru, pilihan aktivitas yang semakin beragam menunjukkan bahwa definisi “hangout” itu sendiri mengalami ekspansi makna.
Definisi “nongkrong” tidak lagi dipahami sebatas duduk dan mengolah informasi pribadi, tetapi dapat berupa suatu kegiatan yang menghadirkan pengalaman baru dan juga dapat menjadi tempat untuk belajar bersama.
Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah