Suara.com - Dari luar, RT 08 RW 04 Malaka Jaya terlihat seperti permukiman padat biasa. Rumah-rumah berdiri rapat, jalan gang terbatas, dan hampir tak ada tanah kosong. Namun di antara ruang yang sempit itu, warga membangun cara sendiri untuk mengelola sampah, air, pangan, dan energi.
Di depan rumah, lubang resapan biopori berderet. Selokan sepanjang 42 meter dimanfaatkan sebagai kolam ikan. Sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan maggot, sementara atap rumah dipasangi panel surya untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi warga.
Semua itu bermula dari persoalan yang sederhana dan dekat: sampah yang setiap hari menumpuk di depan rumah.
Ketua RT 08, Taufiq Supriadi, masih mengingat bagaimana semuanya dimulai.
“Begitu ke depan pintu, ketemu sampah,” katanya.
Taufiq mulai menggerakkan warga pada 14 Oktober 2023. Ia menyebut dirinya “pemimpin terkecil di republik” dan memegang prinsip people, profit, planet. Baginya, perubahan lingkungan harus berjalan bersama kebutuhan hidup warga.
Dimulai dari Tong Komposter

Semua dimulai dari langkah sederhana. Ia meminta setiap warga memiliki satu tong komposter untuk setiap rumah.
Pada 21 Januari 2024, RT 08 menggelar kegiatan komposting skala rumah tangga bersama lurah, camat, hingga wali kota. Taufiq sengaja mengundang para pejabat. Ia berharap kegiatan itu diberitakan sehingga semakin banyak orang mengetahui apa yang sedang dikerjakan warga.
Dukungan kemudian berdatangan. Salah satunya berupa 800 tanaman produktif. Persoalannya kembali ke soal ruang. Tidak ada lahan kosong yang cukup untuk menanam ratusan tanaman. Warga akhirnya menaruhnya di pot-pot yang ditempatkan di sudut gang.
Pengelolaan sampah organik menjadi inti dari sistem lingkungan RT 08. Ada empat jalur yang digunakan: lubang resapan biopori, ekoenzim, komposter, dan budi daya maggot.
Maggot yang sudah besar dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ayam. Sementara sampah anorganik dikumpulkan melalui bank sampah.
Hasilnya terlihat di saluran air sepanjang 42 meter. Selokan tersebut disulap menjadi kolam bertingkat menggunakan beton U-Ditch. Bagian bawah tetap digunakan sebagai saluran drainase, sementara bagian atas diisi air bersih untuk budi daya lele dan gurame.
Sekitar 500 ekor lele dan puluhan gurame dipelihara di sana. Ikan dipanen sekitar tiga bulan sekali dan dibagikan untuk warga melalui apa yang mereka sebut “Kolam Gizi Warga”.
Ikan itu diperuntukkan bagi ibu hamil, lansia, dan balita sebagai bagian dari upaya mencegah stunting. Kelompok yang sama juga mendapat telur dari ayam petelur Lohmann Brown yang dipelihara di kandang komunal.
Kandang tersebut dibuat agar tidak menimbulkan bau. Alasnya menggunakan cacahan daun dan sampah organik yang kemudian dikomposkan.
Sistem itu bahkan mencoba memenuhi kebutuhan energinya sendiri. Panel surya berkapasitas 10.000 watt di atap rumah warga digunakan untuk menyalakan pompa kolam, lampu gang, dan mesin pencacah daun. Air hujan ditampung untuk menyiram tanaman.
Hampir 32 ton tak sampai ke Bantargebang
Taufiq, yang berlatar belakang akuntan, ingin semua usaha ini terukur. Menurut catatan RT, hampir 32 ton sampah organik tidak dikirim ke Bantargebang dalam 2,5 tahun terakhir. Laporan keuangan RT juga dibuka untuk semua warga lewat aplikasi RTOnline dan situs web, sehingga kepercayaan warga tumbuh seiring kerja nyata.
Dari 40 rumah di RT 08, sekitar separuhnya terlibat sebagai pengurus dengan tugas masing-masing, dari pengelolaan sampah hingga perawatan ayam. Taufiq mengatakan butuh sekitar 70 hari sejak kampanye hingga warga bergerak bersama.
Prinsipnya, ia memilih memberi "kail" ketimbang "umpan matang". Pendekatan ini mengajak warga belajar dan bergerak sendiri, bukan sekadar menerima bantuan. "Saya kan konduktor doang, yang kerja warga," ujarnya. Ia juga mengajak mulai dari warga yang mau lebih dulu, lalu membiarkan manfaatnya yang meyakinkan yang lain.
Dilirik Dunia

Gerakan kecil ini mulai menarik perhatian luar negeri. Taufiq menyebut RT-nya telah dikunjungi perwakilan dari 13 negara. Salah satunya Gerard, perwakilan Yayasan Future Kampung asal Belanda. Ia mengaku sangat antusias dengan apa yang dilihatnya dan berharap inisiatif ini bisa terus bertahan hingga masa depan.
Ke depan, Taufiq menyiapkan satu langkah lagi: instalasi pengolahan air limbah agar saluran hitam di belakang permukiman bisa menjadi jernih. Harapan itu datang dari warga sendiri, yang menurutnya mau jika airnya menjadi bening.
Di tengah kewajiban pilah sampah yang kini berlaku untuk seluruh Jakarta, RT 08 Malaka Jaya menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari gang sempit, selama warganya bergerak bersama.
Penulis: Inesia Dian