- Festival Kue Bulan di Tian Fu Gong Jakarta pada September 2026 sukses menarik lebih dari 8.500 pengunjung.
- Acara tersebut menghadirkan tradisi kue bulan serta filosofi dewa jodoh Yue Lao untuk mengenalkan budaya Tionghoa.
- Kelenteng Tian Fu Gong di Riverwalk Island PIK berhasil menjadi ruang perjumpaan kegiatan spiritual dan pariwisata budaya.
Suara.com - Kue bulan bukan sekadar kudapan manis berbentuk bulat yang identik dengan perayaan masyarakat Tionghoa. Di balik bentuknya, tersimpan filosofi kebersamaan, keutuhan keluarga, dan harapan untuk berkumpul dengan orang-orang terkasih.
Tradisi inilah yang membuat Festival Kue Bulan tetap menarik untuk dikenalkan lintas generasi, termasuk melalui perayaan yang menghadirkan pengalaman budaya secara langsung.
Dalam tradisi Tionghoa, Festival Kue Bulan atau Mid-Autumn Festival dirayakan pada hari ke-15 bulan kedelapan dalam kalender lunar, ketika bulan purnama menjadi simbol keutuhan dan kebersamaan.
Perayaan ini memiliki sejarah panjang yang berkembang melalui berbagai tradisi, mulai dari ungkapan syukur atas hasil panen hingga kebiasaan berkumpul bersama keluarga sambil menikmati kue bulan.
Kue bulan atau mooncake menjadi bagian penting dari perayaan tersebut. Bentuknya yang bulat melambangkan keutuhan, sedangkan kebiasaan membagikannya kepada keluarga dan kerabat memperkuat makna kebersamaan.
Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi perayaan budaya yang dikenal luas di berbagai negara dan komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Di Jakarta, tradisi tersebut mendapat ruang untuk dinikmati melalui Festival Kue Bulan yang digelar di Tian Fu Gong, Riverwalk Island PIK, pada akhir September 2026.
Mengusung perayaan Yue Xia bersama Festival Kue Bulan, acara ini berhasil menarik lebih dari 8.500 pengunjung. Jumlah tersebut memperlihatkan bagaimana perayaan budaya dapat menjadi daya tarik wisata ketika tidak hanya menawarkan tontonan, tetapi juga pengalaman yang memungkinkan pengunjung mengenal tradisi dari dekat.
Bukan cuma menikmati kue bulan
Salah satu hal menarik dari perayaan ini adalah kehadiran Yue Xia Lao Ren atau Yue Lao, sosok yang dalam tradisi Tionghoa dikenal sebagai dewa yang berkaitan dengan jodoh.
Yue Lao identik dengan benang merah yang secara simbolis dipercaya menghubungkan dua orang yang ditakdirkan berjodoh. Kisah ini telah dikenal dalam tradisi sastra Tionghoa sejak era Dinasti Tang dan terus diwariskan hingga sekarang.
Dalam perayaan tersebut, kisah Yue Lao menjadi pintu masuk untuk mengenal filosofi mengenai takdir, pertemuan, dan usaha manusia. Ada keyakinan bahwa sebagian perjalanan hidup telah digariskan, tetapi manusia tetap memiliki ruang untuk menentukan pilihan dan mengambil langkahnya sendiri.
Gagasan tersebut membuat pengalaman festival tidak berhenti pada ritual atau cerita tradisional. Pengunjung juga diajak memahami nilai yang hidup di baliknya, yakni bahwa sebuah hubungan tidak hanya berkaitan dengan takdir, tetapi juga membutuhkan usaha dan keputusan.
Daya tarik acara semakin beragam melalui sejumlah kegiatan yang dapat dinikmati pengunjung. Selain makan malam bersama dan menikmati kue bulan, tersedia pula teh herbal dan madu, serta kegiatan pemeriksaan dan terapi kesehatan.
Rangkaian tersebut menghadirkan suasana yang memadukan tradisi, kebersamaan, dan pengalaman gaya hidup. Pengunjung dapat datang dengan tujuan berbeda, mulai dari mengikuti kegiatan spiritual hingga sekadar ingin menikmati suasana festival dan mengenal budaya Tionghoa.
Tian Fu Gong, ruang perjumpaan budaya
Festival ini juga memperkenalkan Tian Fu Gong sebagai ruang yang mempertemukan kegiatan spiritual dan pengalaman budaya masyarakat.
Kelenteng yang berlokasi di Riverwalk Island PIK tersebut diresmikan pada Mei 2026. Saat peresmian, Tian Fu Gong diperkenalkan sebagai simbol harmoni, spiritualitas, dan keberagaman, sekaligus menjadi rumah bagi 12 dewa-dewi.
Kehadiran Festival Kue Bulan memperlihatkan bagaimana tempat ibadah dan ruang budaya dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang lebih luas. Masyarakat memiliki kesempatan untuk mengenal tradisi melalui cerita, suasana perayaan, serta kegiatan yang berlangsung di dalamnya.
Lebih dari 8.500 orang yang datang dalam perayaan kali ini menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Mereka tidak hanya menikmati acara, tetapi juga berkesempatan mengenal simbol dan filosofi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Meski demikian, daya tarik sebuah festival budaya tidak semata-mata diukur dari jumlah pengunjung. Pengalaman yang diperoleh masyarakat dan pemahaman yang terbentuk setelah mengikuti acara juga menjadi bagian penting dari keberlangsungannya.
Melalui Festival Kue Bulan, tradisi yang berakar dari sejarah panjang masyarakat Tionghoa hadir dalam suasana yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini. Kue bulan menjadi pengingat tentang kebersamaan, sementara kisah Yue Lao memperkenalkan filosofi mengenai pertemuan dan perjalanan hidup.
Bagi wisatawan yang ingin mencari pengalaman berbeda di Jakarta, festival semacam ini menawarkan cara lain untuk menikmati sebuah destinasi: bukan hanya datang dan melihat, melainkan ikut merasakan cerita, nilai, dan tradisi yang hidup di dalamnya.