- Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil merilis data shio penduduk Indonesia terbanyak pada Maret 2026 di Jakarta.
- Shio Tikus menempati urutan pertama dengan total 25.348.923 jiwa, disusul Shio Kelinci dan Shio Naga.
- Data shio membantu menggambarkan distribusi tahun kelahiran penduduk meskipun tidak menentukan tingkat produktivitas kelompok secara langsung.
Suara.com - Shio terbanyak di Indonesia berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) adalah Shio Tikus.
Berdasarkan Data Kependudukan Bersih (DKB) Semester II Tahun 2025 yang dipaparkan pada Maret 2026, jumlah penduduk dalam kelompok shio ini mencapai 25.348.923 jiwa.
Data tersebut menempatkan Shio Tikus di urutan pertama, disusul Shio Kelinci dan Shio Naga.
Menariknya, pengelompokan penduduk berdasarkan shio tidak hanya berkaitan dengan tradisi budaya Tionghoa, tetapi juga dapat digunakan untuk melihat distribusi penduduk berdasarkan tahun kelahiran.
Dalam pemaparannya, Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi menyampaikan data tersebut dalam acara Rilis Data Kependudukan Bersih Semester II Tahun 2025 di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Dari perspektif demografi, data shio dapat membantu menggambarkan kelompok kelahiran yang tersebar dalam rentang waktu tertentu. Namun, jumlah penduduk berdasarkan shio tidak serta-merta membuktikan bahwa kelompok tersebut memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.
Daftar Shio Terbanyak di Indonesia Berdasarkan Data Dukcapil

Berikut tiga shio dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia berdasarkan data yang dipaparkan Dukcapil pada Maret 2026.
1. Shio Tikus: 25.348.923 jiwa
Shio Tikus menempati posisi pertama sebagai kelompok shio dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Dalam siklus shio 12 tahunan, tahun kelahiran yang umumnya dikaitkan dengan Shio Tikus meliputi 1960, 1972, 1984, 1996, 2008, dan 2020.
Artinya, kelompok ini mencakup penduduk dari berbagai generasi, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dan kelompok usia yang lebih tua. Sebagian di antaranya berada dalam usia produktif, termasuk kelompok Milenial dan Gen Z.
Besarnya jumlah penduduk dalam kelompok ini dapat menjadi salah satu gambaran mengenai komposisi penduduk berdasarkan tahun kelahiran. Meski demikian, data tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa semua orang dengan Shio Tikus memiliki tingkat produktivitas yang sama.
2. Shio Kelinci: 25.112.854 jiwa
Di posisi kedua, terdapat Shio Kelinci dengan jumlah 25.112.854 jiwa. Tahun kelahiran yang umumnya dikaitkan dengan shio ini antara lain 1963, 1975, 1987, 1999, 2011, dan 2023.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kelompok Shio Kelinci juga memiliki populasi besar yang tersebar pada berbagai rentang usia.
Dalam analisis kependudukan, informasi seperti ini dapat membantu memberikan gambaran tentang distribusi kelompok kelahiran. Namun, untuk mengetahui jumlah penduduk usia produktif secara akurat, diperlukan pengelompokan berdasarkan usia, bukan hanya berdasarkan shio.
3. Shio Naga: 25.021.878 jiwa
Shio Naga berada di posisi ketiga dengan jumlah 25.021.878 jiwa. Beberapa tahun kelahiran yang umumnya diasosiasikan dengan shio ini adalah 1964, 1976, 1988, 2000, 2012, dan 2024.
Kelompok ini juga mencakup penduduk dari sejumlah generasi. Sebagian orang yang lahir pada tahun-tahun tersebut termasuk dalam kelompok usia kerja, sementara sebagian lainnya masih anak-anak atau sudah berusia lebih tua.
Dengan jumlah lebih dari 25 juta jiwa, Shio Naga menjadi salah satu kelompok besar dalam klasifikasi penduduk berdasarkan shio yang disampaikan Dukcapil.
Sementara itu, shio dengan jumlah penduduk paling sedikit dalam data tersebut adalah Shio Kambing, yakni 22.571.729 jiwa.
Shio Paling Produktif di Indonesia
Jika mengacu pada data Dukcapil, Shio Tikus memang menjadi kelompok dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Namun, status sebagai shio dengan populasi terbesar tidak otomatis berarti kelompok ini paling produktif.
"Shio Tikus dan Naga mencakup rentang usia produktif yang besar saat ini, kelompok ini menjadi penyumbang utama Bonus Demografi Indonesia. Mereka adalah penggerak ekonomi sekaligus target utama kebijakan ketenagakerjaan," kata Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi memberikan analisanya. Dukcapil
Dalam demografi, usia produktif umumnya merujuk pada penduduk berusia 15–64 tahun. Sementara itu, produktivitas berkaitan dengan berbagai faktor, seperti partisipasi dalam pekerjaan, tingkat pendidikan, keterampilan, kesehatan, dan kondisi ekonomi.
Karena setiap shio mencakup beberapa tahun kelahiran dengan jarak 12 tahun, satu kelompok shio dapat berisi anak-anak, penduduk usia kerja, hingga lansia secara bersamaan.
Untuk menentukan kelompok yang paling besar kontribusinya terhadap perekonomian, diperlukan data tambahan, misalnya jumlah penduduk yang bekerja, tingkat partisipasi angkatan kerja, serta produktivitas tenaga kerja berdasarkan kelompok umur.
Oleh karena itu, data tersebut lebih tepat dibaca sebagai gambaran jumlah penduduk berdasarkan kelompok tahun kelahiran, bukan sebagai penilaian karakter atau kemampuan seseorang berdasarkan shio.
Apa Manfaat Data Shio bagi Pemerintah?
Pengelompokan penduduk berdasarkan shio dapat menjadi cara alternatif untuk membaca data kependudukan melalui variabel tahun kelahiran. Informasi tersebut dapat melengkapi analisis demografi ketika dipadukan dengan data umur, pendidikan, pekerjaan, dan persebaran wilayah.
Bagi pemerintah, data kependudukan yang terperinci dapat membantu perencanaan layanan publik, termasuk pendidikan, administrasi kependudukan, kesehatan, serta ketenagakerjaan.
Meski demikian, kebutuhan layanan seperti perekaman KTP elektronik harus dihitung berdasarkan usia dan persyaratan administrasi yang berlaku, bukan berdasarkan shio semata.