Suara.com - Berwudu, salat, menyalakan listrik, mengelola sampah, hingga menjaga kebersihan. Bagi umat Muslim, rangkaian kegiatan itu akrab dalam keseharian di masjid. Kini, kegiatan-kegiatan tersebut dipandang bisa menjadi pintu masuk aksi menghadapi krisis iklim.
Pandangan itu mengemuka lewat peluncuran Panduan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, pada 7 Oktober 2026. Panduan ini disusun Greenpeace Indonesia bersama Kader Hijau Muhammadiyah, EcoMasjid, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Mengapa masjid? Greenpeace Indonesia menyebut bencana iklim yang datang silih berganti terus menguji ketangguhan umat, sementara peran masjid dalam kehidupan bermasyarakat kian meluas. Masjid tidak hanya dipakai untuk beribadah. Di banyak komunitas, tempat ini juga menjadi ruang warga berkumpul, belajar, saling membantu, dan bergerak bersama.
Dasar pemikirannya adalah laporan Green Mosques Initiative dari Ummah for Earth yang terbit pada 2021. Laporan itu menempatkan masjid sebagai ruang yang berpengaruh besar bagi kehidupan komunitas dan berpotensi menjadi bagian dari solusi krisis iklim. Potensi tersebut mendorong Greenpeace Indonesia dan mitra menyusun panduan.
Bagi warga awam, istilah ketahanan iklim bisa terdengar teknis. Dalam panduan ini, istilah tersebut berkaitan dengan kesiapan masjid dan komunitasnya menghadapi dampak krisis iklim, termasuk bencana, lewat pengetahuan dan kerja bersama.
Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia, Riska Rahman, mengatakan tim penyusun melihat ketahanan masjid menghadapi krisis iklim dapat dibangun melalui “pengetahuan, gotong royong, pemanfaatan instrumen ZISWAF untuk lingkungan, serta aksi nyata”. ZISWAF adalah singkatan dari zakat, infak, sedekah, dan wakaf, yakni instrumen keuangan sosial Islam yang dalam panduan ini diarahkan untuk kepentingan lingkungan.
Menurut Riska, aksi nyata itu dilakukan oleh jamaah dan anggota komunitas di sekitar masjid. Pendekatan ini menempatkan jamaah dan warga sekitar sebagai pelaku aksi, bukan hanya pengurus masjid.
Dari sisi pengelola, David menyampaikan bahwa di masjid-masjid yang dikelola Muhammadiyah, pihaknya berupaya menjadikan setiap kegiatan sebagai kesempatan mempraktikkan nilai-nilai Islam ramah lingkungan.
Kegiatan yang ia sebut meliputi berwudu, salat, penggunaan listrik, pengelolaan sampah, dan menjaga kebersihan. Dengan cara itu, kegiatan yang sudah rutin dijalankan menjadi titik awal aksi lingkungan.
Panduan tersebut memuat beragam materi yang dibutuhkan masjid untuk bersiap menghadapi dampak krisis iklim. Materinya dimulai dari dasar-dasar aksi iklim, dilanjutkan penanggulangan bencana, pemanfaatan instrumen keuangan Islam, hingga pengembangan sumber daya manusia masjid. Dengan susunan itu, panduan menjadi rujukan bagi pengurus dan jamaah yang ingin memulai langkah di masjid masing-masing.
Greenpeace Indonesia menutup rilisnya dengan ajakan agar aksi iklim dimulai dari masjid. Pesan utamanya: aksi iklim bisa dimulai dari kegiatan sederhana yang sudah akrab bagi jamaah. Panduan lengkap dapat diakses melalui situs resmi Greenpeace Indonesia.
Penulis: Inesia Dian