Penurunan Serangga Penyerbuk Ancam Ketahanan Pangan Global: Kok Bisa?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 19 Oktober 2026 | 11:19 WIB
Penurunan Serangga Penyerbuk Ancam Ketahanan Pangan Global: Kok Bisa?
Seekor lebah sedang mengumpulkan nektar. (dok.Pexels/ Erik Karits)

Suara.com - Penurunan populasi serangga penyerbuk tidak sekadar mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga kesehatan manusia. berkurangnya penyerbukan bisa menekan produksi pangan bergizi sekaligus memperparah risiko penyakit akibat pola makan yang kurang sehat.

Berdasarkan sebuah studi yang dipublikasikan dalam laman The Guardian telah memproyeksikan hilangnya serangga penyerbuk secara global ini ada kaitannya dengan sekitar 500.000 kematian dini setiap tahunnya. 

Dampak tersebut timbul akibat berkurangnya pasokan buah, sayuran, dan kacang-kacangan yang sangat penting bagi pola makan sehat.

Di sisi lain, penelitian yang dipimpin oleh tim peneliti dari Universitas Bristol memperlhatkan bahwa penyerbuk juga mempunyai peran penting dalam menjaga kecukupan gizi dan pendapatan keluarga petani.

Kedua temuan ini sama-sama menyoroti bagaimana penurunan keanekaragaman hayati dapat merembet ke persoalan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Hilangnya Penyerbuk Ada Kaitannya dengan Risiko Penyakit

Sekitar tiga perempeat jenis tanaman membutuhkan penyerbukan. Namun, banyak populasi serangga penyerbuk mengalami penurunan tajam.

Fenomena ini sangat berdampak pada produksi berbagai komoditas pangan. Penelitian itu memproyeksikan bahwa penyerbukan yang tidak memadai menyebabkan kehilangan produksi buah sebesar 4,7 persen; sayuran 3,2 persen, dan kacang-kacangan sekitar 4,7 persen.

Dengan berkurangnya produksi pangan dapat memengaruhi pola makan masyarakat. Ketika pasokan buah, sayuran, dan kacang-kacangan menurun, konsumsi makanan bergizi berisiko ikut berkurang.

baca juga

Para peneliti mengaitkan perubahan produksi pangan dengan pola konsumsi dan risiko kesehatan masyarakat. Dalam kajiannya, mereka memperhitungkan penyakit jantung, stroke, diabetes, serta beberapa jenis kanker yang risikonya dapat diminimalisir melalui pola makan lebih sehat.

Seorang penulis senior penelitian tersebut, Dr. Samuel Myers dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, menyoroti relasi antara keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia.

"Salah satu hal penting yang hilang dalam diskusi tentang keanekaragaman hayati adalah kurangnya keterkaitan langsung dengan kesehatan manusia," kata Myers.

Ia memaparkan bahwa hilangnya penyerbuk telah berdampak pada kesehatan dalam skala yang setara dengan sejumlah faktor risiko kesehatan global lainnya.

Penelitian tersebut bahkan menemukan dampak kesehatan yang besar di sejumlah negera berpenghasilan menengah, termasuk Indonesia, Tiongkok, India, dan Rusia.

Dari negara-negara tersebut, penyakit tidak menular menjadi salah satu permasalahan kesehatan bagi masyarakat.

Para peneliti memprediksi estimasi kematian tersebut masih konservatif. Perhitungan mereka belum memasukkan seluruh dampak kekurangan mikronutrien, seperti vitamin A dan folat, maupun gangguan kesehatan akibat hilangnya pendapatan petani.

Penyerbuk Menopang Gizi dan Pendapatan Petani

Ancaman terhadap kesehatan manusia turut tersorot dalam penelitian yang diketuai oleh Universitas Bristol di Nepal. Studi itu menganalisis interaksi serangga penyerbuk liar, hasil panen, pola makan, dan pendapata masyarakat di sepuluh desa pertanian.

Ditemukan bahwa serangga penyerbuk berkontribusi sebesar 44 persen pendapatan pertanian masyarakat. Penyerbuk juga mendukung lebih dari 20 perse asupan vitamin A, folat, dan vitamin E keluarga yang diteliti.

Dari temuan itu memperlihatkan pentingnya serangga penyerbuk bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada pertanian skala kecil.

Ketika populasi penyerbuk menurun, produksi tanaman yang bergantung pada penyerbukan berpotensi mengalami gangguan.

Akibatnya, keluarga petani mengalami risiko kehilangan pendapatan sekaligus berkurangnya akses terhadap pangan bergizi.

Kondisi tersebut secara tidak langsung dapat memperburuk kerentanan terhadap kekurangan zat gizi dan masalah kesehatan.

Penulis utama studi dari Universitas Bristol, Dr. Thomas Timberlake, menekankan bahwa keanekaragaman hayati merupakan kebutuhan mendasar manusia.

"Studi kami menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati bukanlah suatu kemewahan, melainkan hal mendasar bagi kesehatan, nutrisi, dan mata pencaharian kita," tutur Timberlake.

Penelitian di Nepal turut meninjau risiko kekurangan gizi pada anak-anak. Salah satu peneliti dari University College London Institute for Global Health, Dr. Naomi Saville menjelaskan bahwa lebih dari setengah anak dalam penelitian tersebut memiliki tinggi badan di bawah rata-rata dari seusianya.

Menurut Saville, pola makan yang buruk menjadi salah satu faktor penting dalam kondisi tersebut. Penurunan penyerbuk berpotensi memperparah asupan vitamin dan gizi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang.

Praktik Ramah Penyerbuk Bisa Jadi Solusi

Kedua penelitian tersebut membuktikan pentingnya menjaga keberadaan serangga penyerbuk untuk menjamin ketahanan pangan maupun kesehatan. 

Melalui pemulihan populasi penyerbuk juga berpotensi mendukung produktivitas pertanian serta kesejahteraan petani.

Myers menyebut sejumlah upaya dapat membantu memulihkan populasi penyerbuk, mulai dari meningkatkan jumlah bunga di lahan pertanian hingga mengurangi penggunaan pestisida.

"Ini termasuk meningkatkan kelimpahan bunga di lahan pertanian, mengurangi penggunaan pestisida, dan melestarikan maupun memulihkan habitat alami di sekitarnya," tekan Myers.

Dengan melakukan penanaman bunga liar dapat memfasilitas sumber makanan bagi serangga penyerbuk. Sementara itu, pengurangan penggunaan pestisida dan perlindungan habitat alami dapat membantu meminimalisir tekanan terhadap populasi mereka.

Sebab, perlindungan serangga penyerbuk bukan sekadar bertumpu pada upaya mempertahankan keanekaragaman hayati. Langkah tersebut juga berpotensi membantu menjaga produksi pangan bergizi, mengurangi risiko kekurangan gizi, hingga menopang pendapatan keluarga petani.

Untuk itulah memulihkan hubungan antara pertanian dan ekosistem menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga sistem pangan yang mendukung kehidupan manusia.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sampah Plastik Disulap Jadi Perahu Unik, Festival Cilung Bikin Warga Terpukau

Sampah Plastik Disulap Jadi Perahu Unik, Festival Cilung Bikin Warga Terpukau

News | Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:25 WIB

Singapura Bongkar 7 Perusahaan Indonesia Terkait Karhutla, Ini Daftar Lengkapnya

Singapura Bongkar 7 Perusahaan Indonesia Terkait Karhutla, Ini Daftar Lengkapnya

News | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 14:50 WIB

Aspal Plastik Diklaim Lebih Unggul, Benarkah Lebih Aman Bagi Lingkungan?

Aspal Plastik Diklaim Lebih Unggul, Benarkah Lebih Aman Bagi Lingkungan?

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 17:06 WIB

Terkini

Subsidi BBM dan LPG Dipangkas Rp11,44 Triliun: Bijak atau Sembrono?

Subsidi BBM dan LPG Dipangkas Rp11,44 Triliun: Bijak atau Sembrono?

Your Say | Senin, 19 Oktober 2026 | 12:00 WIB

Tayang 2027, Kim Ji Woong dan Kang Ki Young ZEROBASEONE Bintangi Film Siren

Tayang 2027, Kim Ji Woong dan Kang Ki Young ZEROBASEONE Bintangi Film Siren

Your Say | Senin, 19 Oktober 2026 | 11:58 WIB

Sav Motor Sport Rebut Gelar Best Team BMW Cup 2026 di Mandalika

Sav Motor Sport Rebut Gelar Best Team BMW Cup 2026 di Mandalika

Otomotif | Senin, 19 Oktober 2026 | 11:58 WIB

Akui Arif Aiman Lawan Tersulit, Kevin Diks: Layak Main di Eropa

Akui Arif Aiman Lawan Tersulit, Kevin Diks: Layak Main di Eropa

Bola | Senin, 19 Oktober 2026 | 11:58 WIB

6 Rekomendasi Vacuum Cleaner Terbaik untuk Rumah, Bersih-Bersih Jadi Makin Praktis

6 Rekomendasi Vacuum Cleaner Terbaik untuk Rumah, Bersih-Bersih Jadi Makin Praktis

Lifestyle | Senin, 19 Oktober 2026 | 11:56 WIB

Geger Dugaan Aksi Bejat Oknum Gus, Ponpes di Probolinggo Mendadak Lengang Ditinggal Santriwati

Geger Dugaan Aksi Bejat Oknum Gus, Ponpes di Probolinggo Mendadak Lengang Ditinggal Santriwati

Jatim | Senin, 19 Oktober 2026 | 11:55 WIB

Pimpinan LIRA Kepri Ditangkap Bareskrim Polri, Diduga Peras Pengusaha Rp9 Juta

Pimpinan LIRA Kepri Ditangkap Bareskrim Polri, Diduga Peras Pengusaha Rp9 Juta

Batam | Senin, 19 Oktober 2026 | 11:49 WIB

Dekatkan Layanan ke Desa, PLN & Wamendagri Dorong Transaksi Listrik Mudah Lewat KDKMP di Jawa Barat

Dekatkan Layanan ke Desa, PLN & Wamendagri Dorong Transaksi Listrik Mudah Lewat KDKMP di Jawa Barat

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 11:46 WIB

Bos BRI Borong Saham di Rp2.700, Rogoh Kocek Rp2,97 Miliar

Bos BRI Borong Saham di Rp2.700, Rogoh Kocek Rp2,97 Miliar

Bisnis | Senin, 19 Oktober 2026 | 11:46 WIB

Kritik Karhutla di Panggung Musik: Peduli Bumi atau Peduli Reputasi?

Kritik Karhutla di Panggung Musik: Peduli Bumi atau Peduli Reputasi?

Your Say | Senin, 19 Oktober 2026 | 11:45 WIB

×