- Gubernur Sumut menggelar Operasi Modifikasi Cuaca yang sukses menurunkan hujan deras pada 17 Oktober 2026.
- Hujan lebat tersebut berhasil meluruhkan partikel asap akibat kebakaran hutan dan lahan serta memperbaiki kualitas udara di Sumatera Utara.
- Operasi modifikasi cuaca dilakukan melalui penyemaian awan menggunakan bahan seperti Natrium Klorida untuk mempercepat kondensasi air hujan.
Suara.com - Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat mengepung Sumatera Utara akhirnya mulai menipis, setelah
Gubernur Sumut, Muhammad Bobby Afif Nasution menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memancing hujan.
Pada Sabtu (17/10/2026), hujan deras sukses membasahi wilayah Kota Medan, Binjai, hingga Kabupaten Deli Serdang.
Guyuran air dari langit tersebut seketika meluruhkan partikel asap, membuat kabut berangsur sirna dan kualitas udara membaik.
Keberhasilan ini lantas memicu rasa penasaran publik. Bagaimana sebenarnya cara kerja modifikasi cuaca hingga bisa membuat langit menumpahkan air hujan di lokasi yang diinginkan?

Banyak orang mengira modifikasi cuaca adalah teknologi menyulap langit kering menjadi hujan. Nyatanya tidak demikian.
Melansir penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), modifikasi cuaca pada hakikatnya adalah usaha membantu proses pembentukan hujan alami dengan memanfaatkan bibit awan yang sudah tersedia di atmosfer.
Secara ilmiah, teknologi ini tidak bisa menciptakan awan dari nol. Prinsip utamanya adalah mempercepat proses kondensasi (pengembunan) titik-titik air di dalam awan potensial agar lebih cepat membesar, memberat, dan jatuh ke bumi sebagai rintik hujan.
Namun, penyemaian awan tidak bisa dilakukan serampangan. Melansir jurnal internasional Bulletin of the American Meteorological Society, keberhasilan modifikasi cuaca sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor alam.
Tidak semua awan di langit layak disemai. Petugas harus memastikan awan target memenuhi parameter meteorologi yang ketat, antara lain:
- Tingkat kelembapan udara yang tinggi.
- Suhu udara di lapisan atmosfer yang mendukung.
- Kandungan massa air di dalam awan yang cukup tebal.
Oleh sebab itu, sebelum pesawat lepas landas, tim BMKG terlebih dahulu memantau radar cuaca secara real-time untuk menganalisis pergerakan awan, arah angin, serta koordinat titik paling potensial.
Bagaimana Proses 'Penyemaian' Berlangsung?
Setelah awan target terdeteksi oleh radar, operasi penyemaian (cloud seeding) pun dimulai. Tahapan kerjanya secara garis besar terbagi dalam dua metode:
1. Melalui Udara (Airborne)
Pesawat khusus. seperti armada TNI AU atau pesawat carteran terbang langsung menembus langit menuju awan target.
Begitu berada di koordinat yang tepat, pesawat akan melepaskan bubuk Natrium Klorida (NaCl) alias garam dapur khusus ke dalam gumpalan awan.
Partikel garam yang bersifat higroskopis atau sangat mudah menyerap air ini bertindak sebagai inti kondensasi.
Partikel tersebut memicu butiran-butiran uap air di awan saling bertubrukan dan menyatu (proses mikrofisika).
Akibatnya, tetesan air membesar jauh lebih cepat dibanding siklus alami, lalu luruh menjadi hujan lebat di area sasaran.
2. Melalui Jalur Darat (Ground-Based)
Selain lewat pesawat, penyemaian bisa ditembakkan dari darat menggunakan roket, meriam khusus, atau menara generator darat yang dikenal sebagai Ground Based Generator (GBG).
Metode GBG biasanya dipasang di kawasan perbukitan atau topografi tinggi untuk membakar tabung suar (flare) berisi Kalium Klorida (KCl).
Metode darat ini umumnya difokuskan untuk menjaga ketersediaan air di waduk-waduk strategis yang berada di dekat menara pantau.
Bahan Semai untuk Modifikasi Cuaca
Dalam dunia modifikasi cuaca, ada tiga jenis bahan semai utama yang kerap diandalkan:
- Natrium Klorida (NaCl): Paling umum digunakan di Indonesia, bersifat higroskopis untuk menarik uap air pada awan hangat tropis.
- Perak Iodida (AgI): Bahan kimia yang memiliki struktur mirip kristal es, sangat efektif memicu proses pembekuan pada awan dingin.
- Bahan Berbasis Klorida Lainnya: Berfungsi mengendalikan daya serap uap air di dalam sel-sel awan.
Keberhasilan Operasi Modifikasi Cuaca, seperti yang digagas Bobby Nasution di Sumatera Utara bukanlah kerja individu, melainkan kolaborasi lintas instansi.
BMKG memegang peranan krusial sebagai penunjuk arah melalui analisis radar cuaca dan dinamika angin.
Sedangkan, TNI AU menyiapkan armada pesawat terbang serta penerbang andal yang berani bermanuver di sekitar awan tebal.
Lalu, BNPB dan KLHK berperan dalam komando kedaruratan bencana serta pembiayaan operasional lewat Dana Siap Pakai (DSP) maupun kolaborasi pendanaan CSR lingkungan.