Sampai saat ini pengurus NU pusat belum merilis penetapan tanggal untuk Ramadhan 2023. Pasalnya, metode yang digunakannya adalah dengan cara rukyatul hilal. Yakni dengan melihat hilal tanpa bantuan alat seperti teleskop atau mata telanjang.
Tanggal 1 Ramadhan bisa ditetapkan jika bulan tsabit muda sudah mencapai tinggi 3-6,4 derajat. Kemunculan tersebut harus dikonfirmasi petugas di lapangan.
Selain itu, ada tiga faktor yang harus terpenuhi, antara lain sebelum matahari tenggelam, ijtimak minimal 8 jam, dan terlihat bulan di atas ufuk.
Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) KH. Sirril Wafa menyampaikan, ketinggian hilal sekitar 8 derajat 00 menit 05 detik di atas ufuk serta elongasi sebesar 9 derajat 43 menit 10 detik sebagaimana dikutip dari laman NU Online (8/3).
Apabila hilal dapat terlihat, maka jadwal puasa Ramadan 1444 H bisa dilaksanakan bersama pada 23 Maret 2023. Namun, potensi perbedaan masih tetap ada. Hal tersebut didasarkan oleh ketinggian hilal belum sesuai petunjuk qath'i ruqyah, yakni di atas 3 derajat dan elongasi 9,9 derajat.