LINIMASA - Manusia memiliki berbagai macam perasaan, di antaranya sedih dan murung. Perasaan ini sangat wajar terjadi, tapi bisa menimbulkan masalah apabila dirasakan berlarut-larut dan mempengaruhi aktivitas dan pergaulan.
Depressive disorder atau yang lebih dikenal sebagai depresi merupakan gangguan mental yang umum terjadi. Gejala yang muncul dapat dikategorikan ringan dan sementara, berat dan berkepanjangan.
Gangguan ini melibatkan suasana hati yang tertekan, kehilangan perasaan senang dan minat melakukan aktivitas.
Dalam laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 3,8 persen orang di dunia mengalami depresi. Depresi bisa terjadi pada siapa saja, wanita memiliki peluang depresi lebih besar daripada laki-laki.
Meskipun pengobatan terhadap depresi telah ada seperti pemberian obat-obatan dan terapi psikologi, tidak semua orang berhasil dengan metode yang sudah ada.
Dikutip dari laman Medical News Today, penelitian baru dilakukan untuk menguji efektivitas suplemen bagi penderita depresi.
Gejala-gejala dari depresi di antaranya meliputi suasana hati yang tertekan, kehilangan minat pada aktivitas, penurunan atau peningkatan berat badan yang tidak disadari, penurunan atau peningkatan nafsu makan, gangguan tidur, kelelahan berlebih, gangguan berpikir atau konsenstrasi, hingga pikiran untuk bunuh diri.
Sebagian besar obat antidepresan umumnya efektif mengobati depresi dalam tingkat yang lebih parah. Pengobatan pertama pada penderita depresi umumnya adalah inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) yakni fluoxetine (Prozac) dan citalopram dengan efek samping seperti sulit tidur, agitasi, disfungsi seksual dan keinginan untuk bunuh diri.
Efek samping dari beberapa obat depresan membuat sebagian besar orang mencari alternatif lain seperti mengkonsumsi suplemen nutrisi. Pertanyaannya adalah apakah suplemen makanan dapat meringankan gejala atau meningkatkan efektivitas antidepresan?
Sebhem Unluisler, insinyur genetika di London Regenerative Institute mengatakan bahwa ada beberapa bukti suplemen makanan tertentu memiliki efek mengurangi gejala depresi. Namun hal ini tidak dapat menjadi patokan sebagai pengobatan mandiri dan hasil yang didapat dapat berbeda pada masing-masing individu.
Penelitian yang dilakukan pada 2019 menunjukkan suplemen gizi dengan kandungan asam folat dan vitamin D tidak lebih baik dalam upaya pencegahan depresi berat dibandingkan plasebo. Sebaliknya, penurunan berat badan dan diet sehat dapat membantu mengatasi gejala depresi.
Pada 2022 temuan dari 41 studi bahwa vitamin D memiliki manfaat bagi penderita gejala depresi. Vitamin D mempengaruhi terhadap produksi dan pengaturan neurotransmitter seperti serotonin yang berperan dalam pengaturan suasana hati.
Selain itu, studi juga menunjukkan bahwa rendahnya zat besi juga dapat menimbulkan gejala depresi karena mengubah metabolisme dopamin dan mempengaruhi kadar serotonin dimana keduanya berperan dalam perubahan suasana hati.
Pada kesimpulannya, pencegahan dan pengobatan terbaik pada depresi adalah dengan mengikuti diet sehat dan konsumsi makanan sehat seperti sayur, buah dan makanan fermentasi yang mungkin memiliki manfaat yang sama dengan sedikit efek samping dibanding dengan obat-obatan antidepresan. Hal ini mengacu pada bukti penelitian yang belum valid.