LINIMASA - Tidur merupakan aktivitas yang sangat dibutuhkan oleh manusia, tidur sama pentingnya dengan makan dan minum. Tidur yang cukup dapat membantu tubuh dan otak kembali segar dan siap melanjutkan aktivitas dengan baik.
Beberapa penelitian dilakukan untuk menguji pengaruh tidur terhadap risiko penyakit demensia dan alzheimer. Banyak ahli yang setuju tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan otak.
Setiap orang direkomendasikan untuk tidur cukup selama 7 jam atau lebih, namun banyak orang kesulitan untuk mendapatkan waktu tidur yang cukup. Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya waktu tidur menjadi sebuah isu global.
Masalah kesehatan global yang menjadi perhatian adalah demensia, terutama jenis demensia yang dikenal sebagai alzheimer. Diperkirakan sebanyak 55 juta orang didunia mengalami demensia dan akan semakin meningkat pada 2030.
Tidur sangatlah penting bagi kesehatan otak dan sebagian orang yang terkena demensia mengalami gangguan tidur.
Dalam artikel ini akan dibahas lebih lanjut penelitian hubungan antara tidur dengan risiko alzheimer.
Menurut dr. Karen D. Sullivan yang dikutip pada Medical News Today, tidur adalah inti dari kesehatan fisik dan mental termasuk juga kesehatan otak. Pada saat tidur, otak melakukukan konsolidasi memori, pemrosesan emosi dan proses pembersihan mendalam dari aktivitas-aktivitas yang kita lakukan sebelumnya.
Lanjut dr. Sullivan, tanpa tidur yang nyenyak dan konsisten, otak tidak dapat melakukan tugasnya dengan maksimal dan hasilnya adalah peradangan kronis yang berujung pada berbagai penyakit termasuk gangguan otak.
Salah satu studi pada Mei 2023 menemukan bahwa tidur yang tidak cukup akan mempengaruhi memori pada otak dan dapat meningkatkan risiko demensia.
Baca Juga: Arya Saloka Siap Jadi Imam Amanda Manopo Sampai Akhir Hayat dan Maut Memisahkan, Cek Faktanya
"Tidur yang buruk bukan hanya akan mengganggu proses pemulihan alami tubuh, menurunkan kemampuan otak untuk belajar dan mengingat informasi baru, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke dimana kedua penyakit ini juga meningkatkan risiko demensia.” Ujar dr. Owen Deland seorang ahli geriatri di Hakensack University Medical Center.
Kontributor: R. Inayah