LINIMASA - Budiman Sujatmiko membantah tudingan yang menyebut bahwa dukuangan dirinya terhadap Prabowo Subianto untuk maju sebagai capres di Pilpres 2024 bukan didasari faktor kondisi psikologis Stockholm Syndrome.
Budiman Sujatmiko dikenal sebagai aktivis 1998. Ia pun merupakan salah satu pentolah Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang pada masa Orde Baru merupakan partai terlarang.
Budiman mengaku dirinya tidak pernah berhadapan langsung dengan Prabowo--kala itu menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, di masa pergerakan mendapatkan reformasi itu.
"Stockholm Syndrome itu tidak tepat karena saya juga tidak pernah berhadapan langsung dengan beliau saat itu," kata Budiman dalam siniar bersama Akbar Faizal, dikutip Jumat (25/8/2023)
Stockholm Syndrome sendiri bisa diartikan sebagai kondisi psikis di mana adanya ikatan emosional antara korban dengan penculikan dan menjadi simpatik.
"Pada masa itu, memang beliau mengakui mendapat perintah untuk menangkap saya dan yang menangkap saya pada 1996 banyak dari Badan Intelijen ABRI, bukan Kopassus," tambah dia.
Meski sempat kalah karena berhasil ditangkap pada 1996, tapi Budiman mengatakan gerakan mahasiswa dan para aktivis dari berbagai unsur berhasil menang dan membuat rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto senja kala pada 1998.
Menurut Budiman, peran Prabowo kala itu hanya sebatas menjalankan perintah negara untuk melanggengkan keuasaan Presiden Soeharto. Di sisi lain, Budiman mengakui kalau tugas dirinya kala itu untuk meraih reformasi.
"Setelah 25 tahun, ketika suatu bangsa sudah memadukan antara sejarah dengan panggilan negara, sudah demokratis, maka bangsa itu harus melakukan perubahan-perubahan prioritas agendanya," tutur Budiman.
Baca Juga: Indra Bekti dan Aldila Jelita Kembali Rujuk, Gelar Syukuran Hari Ini
"Prioritas 25 tahun lalu adalah kebebasan, prioritas hari ini adalah kemajuan dan untuk mencapai kemajuan, kita butuh persatuan. Bentuk-bentuk persatuan untuk kemajuan, butuh arah strategis, butuh kepemimpinan strategis," tandas dia.
Diberitakan sebelumnya, Budiman dipecat dari PDIP lantaran menyatakan dukungannya terhadap Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Pernyataan tersebut tidak sesuai dengan keputusan partai yang mengusung kadernya sendiri, Ganjar Pranowo.