LINIMASA - Megaproyek Food Estate yang digagas oleh Presiden Joko Widodo telah menjadi pusat perhatian dan kontroversi.
Walaupun proyek ini memiliki tujuan mulia dalam mendukung ketahanan pangan nasional, tapi berbagai kritik dan kekhawatiran muncul terkait dampak lingkungan dan pelaksanaannya.
Proyek Food Estate mendapat kritik keras, terutama dari pihak-pihak yang berpendapat bahwa dampak lingkungan menjadi perhatian utama.
Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, adalah salah satu yang mengkritik proyek ini.
Ia khawatir terhadap penebangan hutan dan dugaan aliran dana hasil kejahatan lingkungan ke dalam politik.
Program Food Estate direncanakan untuk diimplementasikan di lima daerah berbeda di Indonesia:
1. Sumatera Utara
Proyek ini dilakukan di beberapa kabupaten di Sumatera Utara. Namun, proyek ini dianggap gagal dan terdapat dugaan penyalahgunaan. Penebangan hutan menjadi salah satu dampak negatif yang muncul.
2. Kalimantan Tengah
Baca Juga: Cek Fakta: Joe Biden Siap Kawal Putri Ariani Lolos di Ajang Final America's Got Talent
Meskipun telah disiapkan lahan seluas 148.000 hektar untuk penanaman padi, hasil pelaksanaan proyek di Kalimantan Tengah belum sesuai dengan harapan. Kritik mengenai pemangkuan anggaran muncul dan ada panggilan untuk melibatkan PPATK dalam investigasi.
3. Sumatera Selatan
Food Estate di Sumatera Selatan bertujuan memproduksi padi dan jagung untuk ketahanan pangan. Namun, detail pelaksanaannya masih perlu pengawasan lebih lanjut.
4. Nusa Tenggara Timur (NTT)
Di NTT, program ini fokus pada penanaman jagung, tomat, dan kacang hijau di beberapa kabupaten.
5. Papua