Elon Musk sebagai jenius di bidang teknologi kendaraan elektrifikasi disebut-sebut produknya terkena karma?
Indonesia membuka peluang sebagai negara tuan rumah untuk produksi mobil listrik Tesla Incorporation. Tahun silam, rombongan Indonesia di bawah pimpinan Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan bertandang ke markas Tesla dan jumpa Elon Musk.
Kemudian Presiden RI Joko Widodo juga mendatangi markas pemilik Tesla Incorporation serta SpaceX ini.
Hingga kekinian, Tesla belum memberikan pernyataan resmi untuk meminang Indonesia sebagai salah satu negara produsen. Atau dengan kata lain belum ada keputusan akan membuat Tesla Gigafactory atau pabrik Tesla di negara kita.
Disimak Metro Suara.com dari kanal YouTube, terdapat unggahan atas nama akun hunting permen asik. Judulnya adalah "KARMA MENGHIANATI INDONESIA! TESLA ELON MUSK TAK LAKU MALAH DAPAT SAINGAN BARU". Dengan thumbnail "TAK PILIH INDONESIA TESLA AMBRUK?"
Narasi dibuka dengan pernyataan Elon Musk tentang bagaimana Tesla bertahan di masa sulit dalam produksi mobil listrik Tesla Incorporation. Antara lain di pabriknya yang berada di Amerika Serikat, antara lain California dan Nevada.
Kemudian berlanjut pemaparan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan di kesempatan berbeda, yang menyebutkan soal Tesla mesti ada di Indonesia, karena pengadaan listrik cukup murah. Inilah yang coba ditawarkan kepada Elon Musk.
Dilanjutkan dengan pernyataan Presiden RI Joko Widodo dalam sebuah pidato bahwa Indonesia harus menjadi pemain besar di sektor mobil listrik. Memiliki nikel, dan kobalt, yang bisa diolah menjadi baterai kendaraan listrik Lithium. Juga bauksit untuk aluminium yang diolah menjadi kerangka mobil listrik. dan tembaga untuk baterai dan sistem kabel mobil listrik.
PENJELASAN
Dalam video tidak ditemukan sama sekali bahasan soal karma maupun Tesla mengkhianati Indonesia seperti judul yang disebutkan.
Bagian pembuka yang mencuplik pernyataan Elon Musk menyatakan bagaimana perusahaan bertahan hingga kini. Bukan soal persaingan baru karena bisnis mobil listrik sendiri adalah bidang kompetitif, dengan manufaktur berbagai brand hadir di China. Negara yang memiliki pasar otomotif terbesar di dunia.
Tentu saja muncul persaingan ketat, mulai perusahaan mobil listrik Eropa yang memiliki pabrik di China, pabrik-pabrik mobil listrik Asia dengan pabrik di negara sendiri maupun yang berlokasi di China, sampai China sendiri sebagai tuan rumah.
Pembahasan video ini lebih banyak mengenai Indonesia tidak bisa terus-menerus menjadi eksportir bahan atau materi baterai mobil listrik semata.
Juga disebutkan tentang kebijakan Tesla memberikan diskon atau harga menarik kepada para konsumen.
KESIMPULAN
Video masuk dalam koneksi yang salah, antara judul dan konten tidak saling mendukung. Sementara judul video adalah hoax.
Catatan Redaksi:
Artikel ini merupakan bagian dari konten Cek Fakta Suara.com. Dibuat seakurat mungkin dengan sumber sejelas mungkin, namun tidak mesti menjadi rujukan kebenaran yang sesungguhnya (karena masih ada potensi salah informasi).
Pembaca (publik) juga dipersilakan memberi komentar/kritik, baik melalui kolom komentar di setiap konten terkait, mengontak Redaksi Suara.com, atau menyampaikan isu/klaim yang butuh diverifikasi atau diperiksa faktanya melalui email [email protected].