Tanpa banyak bicara, Sandy Sanjaya, mantan suami Pinkan Mambo turun tangan langsung mengurusi anak mereka yang mengalami kekerasan seksual.
Nama Sandy Sanjaya belakangan ini ikut viral, ia adalah ayah dari MA, putri Pinkan Mambo yang mengalami kekerasan seksual, dilakukan si bapak tiri, Steve Wantania. Tanpa banyak bicara, ia menempuh perjalanan lintas pulau, Bali ke Jakarta di Pulau Jawa yang berjarak sekira 1.200 kilometer.
Dikutip Metro Suara.com dari podcast Denny Sumargo, Curhat Bang, terjawab keingintahuan akan peran sang ayah biologis atau bapak kandung MA dalam peristiwa penderaan--istilah yang digunakan dalam podcast Denny Sumargo, untuk kata ganti kekerasan, dalam hal ini seksual, sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia--itu.
MA yang masih tampak bergulat dengan perasaan, memilah mana perkataan yang boleh dilontarkan atau tidak--agar tidak menimbulkan salah persepsi di masyarakat--menyatakan bahwa bapaknya ada di saat ia membutuhkan. Memiliki feeling yang kuat bahwa MA tengah dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Kepada Denny Sumargo, MA menyatakan bahwa relasi dengan Papa, demikian ia menyebut bapak kandungnya, Sandy Sanjaya, jarang berjumpa.
"Mungkin hanya dua kali selama ini. Kami sama-sama saling mencari, saat Papa temukan aku, ia diblocked Mami. Jadi giliran aku yang mencari, begitu terus," jelasnya.
Begitu pun soal telepon, yang disebutkan MA tidak dibolehkan sang ibu.
"Hubungan dengan Papa ini tersembunyi di belakang Mami," demikian disebutkan MA.
Pada 2018, ketika ia berusia antara 12-13 tahun, penderaan seksual itu terjadi. Lantas ada jeda enam bulan, mengingat Pinkan Mambo dan Steve Wantania bertikai dan suaminya setelah Sandy Sanjaya itu pergi dari rumah.
Saat itu, MA melaporkan kepada ibunya tentang pelecehan seksual yang dialami, akan tetapi penerimaan ibunya hanya 50-50, antara percaya dan tidak. Sampai si bapak tiri kembali lagi, dan MA kembali mengalami pelecehan demi pelecehan.
MA dalam posisi tidak bisa berkutik, karena ia tidak mempercayai orang-orang di rumah ibunya bisa membantu. Ditambah sikap ibunya, ia pesimistis akan terjadi perubahan dan penderaan berakhir.
"Aku dihubungi Papa, ia tanya "Apa kabar?", karena sudah lama tidak hubungi. Aku bilang baik-baik saja, kok. Tetapi ia tahu ada sesuatu hal tidak baik yang sedang aku alami. Dia feeling, dari nada bicaranya. Langsung tanya, what happened? Akhirnya aku sampaikan," kata MA perlahan.
Reaksi Sandy Sanjaya saat itu akan langsung bertindak, panggil polisi ke rumah.
![Sandy Sanjaya dan Pinkan Mambo saat masih menjadi pasangan suami-istri [[screenshot TikTok].]](https://media.suara.com/suara-partners/metro/thumbs/1200x675/2023/08/01/1-sandy-sanjaya-dan-pinkan-mambo-saat-masih-menjadi-pasangan-suami-istri.jpg)
"Tapi posisinya, aku tidak bisa percaya siapa-siapa, kan? Di rumah itu aku cuma bisa andalkan diri sendiri. Karena Papa di Bali, saat itu di rumah adalah orang-orang yang tidak bisa bantu aku. Aku bilang ke Papa: kalau panggil Polisi sekarang aku nggak tahu konsekuensinya. Takutnya lebih parah, aku dicegat, atau ditahan," lanjutnya.
Ketika situasi semakin memburuk, MA akhirnya ia menelepon Sandy Sanjaya agar ke Jakarta.
Merasa anak gadisnya dalam bahaya, Sandy Sanjaya buru-buru meninggalkan Bali.
"Ia tinggalkan kerjanya untuk aku, langsung naik mobil dari Bali ke Jakarta," kata MA.
Padahal, jarak yang ditempuh Sandy Sanjaya bukan perjalanan singkat. Antara Pulau Bali, dan Pulau Jawa, titik di Jakarta di mana MA perlu diselamatkan tidak kurang dari 1.200 kilometer jauhnya, dengan perjalanan tanpa kemacetan dan berhenti bisa mencapai 18 jam.
Namun itulah perjalanan panjang bermobil yang mengakhiri penderaan yang dialami MA.
"Papa sudah menunggu di jalan ketika aku ke luar rumah, waktu itu jam 12 malam," jelas MA tentang ayah kandungnya.
Baca Juga: Ditertawakan Tante K, Luna Maya Menyatakan Tidak Takut dan Tantang Balik
Dari sana MA dibawa Sandy Sanjaya ke Bali, dan disertai keluarga Sandy mereka melaporkan kejadian penderaan seksual kepada Polisi.
Setelah hadir di podcast Naila Alaydrus untuk speak up pertama kali tentang kekerasan seksual yang dialaminya, MA baru mengetahui bahwa ada kronologis sidang atas Steve Wantania melakukan penderaan seksual terhadap anak tirinya di media online.
"Saat selesai proses pengadilan aku ditanya apakah kasus dipublikasi ke media atau disimpan. Dan aku jawab saat itu belum bisa untuk mengeluarkan perasaan mixed ini. Sekarang pun masih didampingi psikolog, namun mulai bisa bicara," tutup MA.