Kondom kerap kali menjadi trending topic setiap perayaan hari kasih sayang atau Valentine Day yang jatuh tiap tanggal 14 Februari. Apalagi di Indonesia, kondom kerap kali menjadi sasaran razia aparat Satpol PP tiap Valentine Day.
Pada perayaan Valentine tahun 2022 lalu, Satpol PP Kota Makassar melakukan razia kondom di sejumlah swalayan. Mereka beralasan, kondom berpotensi digunakan sebagai sarana bagi generasi muda untuk elakukan ritual negatif di malam Valentine.
Pihak Satpol PP Kota makassar meminta sejumlah minimarket untuk tak menjual kondom secara bebas untuk sementara waktu. Apalagi jelang Valentine Day.
Tindakan itu dinilai tak berdasar. Apalagi kondom tak masuk dalam daftar barang terlarang seperti narkotika.
Rokok saja yang masuk dalam kategori barang yang diawasi dan dibatasi masih boleh dijajakan dan diperjualbelikan di minimarket.
Sedangkan kondom sendiri masuk dalam kategori alat kontrasepsi yang juga memiliki fungsi untuk mengurangi risiko penularan penyakit seksual termasuk HIV.
Dikutip dari situs RumahCemara.or.id, kondom telah dikenal dalam kehidupan manusia sejak lama. Bangsa Mesir Kuno diketahui menggunakan penutup penis sejenis kondom sejak tahun 1350 Sebelum Masehi. Pada tahun 100 hingga 200 Masehi, sejarah mencatat bukti awal pemakaian kondom di Eropa yang terlihat dari lukisan berupa pemandangan gua di Combrelles, Prancis.
Selanjutnya, pada tahun 1564 untuk pertama kalinya dipublikasikan deskripsi dan percobaan alat mencegah penyakit berupa kondom di Italia. Ketika itu, ahli anatomi bernama Gabrielle Fallopius mengklaim telah menemukan sarung berbahan linen yang diuji coba pada 1.100 lelaki.
Dari percobaan itu tak satu pun yang terinfeksi penyakit sifilis. Pada 1700-an, kondom dibuat dari usus binatang.
Baca Juga: Legislator PPP Lihat Tidak Ada Penyimpangan Di Balik Vonis Mati Ferdy Sambo
Pelindung penis berbahan usus binatang makin populer pada abad ke-18 dan mulai dinamakan kondom. Dengan ditemukannya karet vulkanis pada tahun 1844, produksi massal kondom dari bahan lateks pun dimulai.
Cara Kerja dan Jenis Kondom
Kondom dipasang pada penis untuk menahan masuknya air mani ke dalam vagina, sehingga sperma tidak melakukan pembuahan. Kondom saat ini terbuat dari karet lateks.
Sedangkan yang terbuat dari usus hewan hanya sekitar satu persen saja. Kondom tersedia dalam berbagai ukuran, bentuk, ketebalan, ada tidaknya pelumas, dan ada tidaknya spermisida (pembunuh sperma) di luar maupun di dalam kondom. Kondom juga bisa berbentuk lurus, berputing, berpermukaan biasa atau bergerigi, bisa berwarna, bening, keputih-putihan, atau berwarna-warni.
Apakah Kondom Efektif Mencegah Penyakit?
Sebagian orang beranggapan kondom tidak efektif mencegah penyakit dan kehamilan. Padahal apabila ditelusuri, turunnya efektivitas kondom lebih disebabkan oleh pemakaian yang tidak tepat, bukan karena mutu kondom itu sendiri.
Kegagalan penggunaan kondom kemungkinan disebabkan:
1. Penyimpanan kondom yang kurang baik;
2. Pemakaian kondom yang sudah kedaluwarsa;
3. Pemakaian kondom yang tidak tepat pemasangannya;
4. Kondom tersebut koyak/ sobek saat menyobek bungkusnya.
Saat diproduksi di pabriknya, kondom melalui serangkaian pengujian ulang sebelum dikemas. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, kondom lateks sangat efektif dalam pencegahan penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV.
Ada anggapan bahwa kondom mengandung lubang-lubang yang bisa dilalui virus HIV. Hal ini memang benar, apabila kondom itu terbuat dari bahan alami seperti usus domba. Tetapi kondom jenis itu sudah jarang diproduksi.
Kondom lateks, yang lazim ditemukan di pasaran, cukup kuat dan sudah diuji untuk menahan mikro-organisme termasuk sperma dan HIV. Lubang pori-pori pada kondom lateks terlalu kecil untuk dapat dilalui oleh virus ini.
Kondom lateks juga terbukti efektif untuk mencegah virus dan kuman penyebab herpes simplex, CMV, hepatitis B, Chlamydia, dan gonorrhoea.