Jagat media sosial belakangan ini dihebohkan dengan seorang balita berusia 16 bulan di Kabupaten Bekasi yang memiliki berat badan 27 kilogram.
Bayi tersebut bernama Muhammad Kenzi Alfaro, anak ketiga pasangan M Sopiyan dan Pitriah. Kasus bayi Kenzi ini dapat diklasifikasi sebagai obesitas.
Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) mengingatkan para orangtua agar tidak menganggap lucu anak yang terlalu gemuk atau obesitas.
Sebab, kata dia, obesitas sebenarnya merupakan suatu penyakit.
"Obesitas adalah suatu penyakit, jangan dianggap itu adalah kondisi sehat atau anaknya jadi lucu, jangan jadi idaman semua orang tua," kata Piprim, Rabu (22/2/2023).
Menurut Piprim, obesitas bisa menjadi salah satu gejala sindrom metabolik selain hipertensi, gula darah tinggi, trigliserida tinggi, dan rendahnya kadar kolesterol HDL.
Ia menjelaskan, beberapa tahun kemudian, sindrom metabolik itu dapat berubah menjadi penyakit degeneratif seperti stroke, serangan jantung, keganasan atau kanker, diabetes melitus, dan lain-lain.
Untuk itu, Piprim menyarankan agar anak yang alami obesitas segera dibawa ke dokter.
Adapun cara mengetahui anak yang obesitas menurut laman resmi Kementerian Kesehatan, salah satunya adalah dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI).
Baca Juga: Heboh Bayi 16 Bulan di Bekasi Punya Berat Badan 27 Kg, Bobotnya Setara Anak Usia 11 Tahun
Rumusnya adalah berat badan dalam satuan kilogram dibagi kuadrat tinggi badan dalam satuan meter. A
nak dapat dikatakan kelebihan berat badan jika IMT lebih dari 22,9, dan dikatakan obesitas I jika IMT berada di angka 25-29,9 dan obesitas II jika IMT lebih dari 30.
Piprim menjelaskan bahwa untuk mencegah anak mengalami obesitas, kuncinya adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat.
"Stop ultraprocessed food, junk food tinggi gula dan tinggi tepung, kembali ke real food yang kaya akan protein hewani dan sayuran hijau. Kembali ke makanan yang tanpa barcode agar hidup keluarga kita lebih sehat," ujar Piprim.
"Jangan lupa juga, jadikan olahraga rutin sebagai budaya sehat keluarga," dr. Piprim mengingatkan.
Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi obesitas pada balita sebanyak 3,8 persen sedangkan obesitas usia 18 tahun ke atas sebanyak 21,8 persen.