Besok, Selasa (11/4) Anas Urbaningrum akan menghirup udara bebas. Mantan ketua umum Partai Demokrat itu akan keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.
Seharusnya, Anas hirup udara bebas pada hari ini, Senin (10/4). Namun menurut keterangan dari Koordinator Nasional Sahabat Anas Urbaningrum, Muhammad Rahmad menyebut bahwa alasan mundurnya Anas bebas dari LP Sukamiskin disebabkan faktor keamanan.
"Pembebasan AU yang direncanakan pada 10 April 2023, mundur sehari karena alasan keamanan dan kenyamanan saat penjemputan," ungkap Rahmad seperti dikutip dari Antara.
Saat tersandung kasus megaproyek korupsi Hambalang, sejumlah petinggi Demokrat yang sebelumnya menjadi bagian dari kepengurusan Anas berbalik membelot mantan anggota KPU itu.
Sejumlah petinggi Demokrat kala itu menyampaikan pernyataan yang membuat Anas Urbaningrum terguling sebagai ketua umum partai Demokrat.
Berikut sejumlah tokoh yang dianggap jadi pembelot bagi Anas Urbaningrum
Ruhut yang menjadi bagian kepengurusan Demokrat dibawah pimpinan Anas Urbaningrum saat kasus megaproyek korupsi Hambalang terkuak jadi orang yang cukup vokal.
Beberapa kali pernyataan Ruhut menyudutkan Anas sebagai ketua umum Partai Demokrat kala itu. Ruhut misalnya mengatakan jika Anas tetap jadi ketua umum partai, Demokrat akan karam.
"Karamlah bersama antek-antekmu. Jangan bawa partai kami ikut karam," ucap Ruhut saat itu.
Ruhut juga sempat mengomentari saat Anas menunjuk Adnan Buyung Nasution sebagai pengacara. Menurut Ruhut saat itu, superman pun tak akan bisa bebaskan Anas.
"Jangankan Adnan, Superman pun tidak akan bebaskan Anas," kata Ruhut pada April 2013.
Selanjutnya ada nama Ulil Abshar. Tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) ini masuk ke DPP Partai Demokrat dibawah kepengurusan Anas sebagai Ketua Divisi Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan.
Ulil saat Anas tersandung kasus megaproyek korupsi Hambalang sempat berkomentar bahwa Partai Demokrat butuh nakhoda baru.
Pernyataan dari Ulil ini membuat ia menjadi kritikan pada loyalis Anas lain di partai Demokrat. Sekretaris DPD Demokrat Jakarta, Irfan Ghani saat itu bahkan menyebut Ulil sebagai seorang Brutus.
Terakhir ada nama Andi Nurpati yang sama dengan Anas pernah menjadi anggota KPU. Saat Anas jadi ketum Partai Demokrat, Andi Nurpati menjadi ketua divisi komunikasi publik DPP Partai Demokrat.
Saat Anas tersandung kasus Hambalang, Andi tersirat mengatakan bahwa ia sebagai kader Demokrat tunduk dan patuh kepada Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
SBY kala itu meminta para kader Demokrat meneken 10 poin pakta integritas saat kasus Anas jadi perhatian publik. Andi pun tegaskan bahwa dirinya hanya loyal kepada Majelis Tinggi dan Ketua Dewan Pembina Demokrat, SBY.