Suara.com - Anggota Presidium Penyelamat Partai Golkar Zainal Bintang menilai hanya Wakil Presiden Jusuf Kalla yang bisa mendamaikan pertikaian di internal Partai Golkar menjelang musyawarah nasional IX dengan agenda memilih ketua umum baru.
"Itu wajib hukumnya," kata Zainal kepada suara.com, Kamis (27/11/2014).
Zainal mengatakan Golkar merupakan 'rumah' Jusuf Kalla. Itu sebabnya, ia berharap kepada JK agar tak membiarkan 'rumahnya' rusak.
Tapi, kata Zainal, pada saat menjadi penengah di antara poros Aburizal Bakrie dan Agung Laksono, Jusuf Kalla (mantan Ketua Umum Golkar) harus mengesampingkan kepentingan Koalisi Indonesia Hebat.
"JK mesti membuang kepentingan KIH untuk kepentingan Indonesia Raya," katanya.
Jusuf Kalla dinilai tokoh yang tepat untuk menjadi mediator konflik karena memiliki kekuasaan politik, seorang Wakil Presiden.
"Dalam budaya kita, kader-kader kita di daerah, mereka butuh panutan dari tingkat pusat yang punya kekuasaan. Kalau dulu kan kekuasaan simbolnya raja," kata Zainal.
Seperti diketahui, saat ini Golkar sedang terbelah menjelang pemilihan ketua umum baru. Kelompok Aburizal Bakrie menginginkan munas dipercepat menjadi 30 November 2014 di Bali, sedangkan kelompok Agung Laksono ingin tetap konsisten dengan hasil pleno DPP Januari 2014 yang memutuskan bahwa munas digelar Januari 2015.
Langkah Aburizal yang mengubah jadwal pelaksanaan munas melalui mobilisasi dukungan di Rapimnas di Yogyakarta telah membuat jengkel kader Golkar yang lain. Puncaknya, dua hari lalu terjadi bentrok fisik di tengah rapat pleno untuk membentuk panitia munas.