Ramainya Raker Komisi III dengan Kejaksaan Agung Tanpa Novanto

Arsito Hidayatullah | Bagus Santosa | Suara.com

Selasa, 19 Januari 2016 | 19:35 WIB
Ramainya Raker Komisi III dengan Kejaksaan Agung Tanpa Novanto
Jaksa Agung HM Prasetyo saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/1/2016). [Suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Komisi III DPR melakukan rapat kerja bersama Kejaksaan Agung, Selasa (19/1/2016). Rapat kali ini berjalan dengan banyak pertanyaan ketika Kejaksaan Agung memaparkan soal kasus pemufakatan jahat yang ditangani oleh Kejaksaan Agung.

Dalam kasus itu, Kejaksaan Agung menangani perkara yang bermula dari rekaman yang berisi suara Mantan Ketua DPR Setya Novanto, Pengusaha Riza Chalid dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, yang membicarakan perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia.

 
Yang menarik, politisi Golkar Setya Novanto tidak tampak dalam rapat kerja ini. Padahal, nama Setya ada di daftar hadir Komisi III tanpa tandatangan bukti hadir. Novanto sendiri namanya pernah diadukan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) untuk pelanggaran etik dalam kasus tersebut. Dia pun sudah mundur dari jabatannya sebagai Ketua DPR.

‎"Dia (Novanto) izin untuk tidak hadir," kata salah seorang staf Kesekretaritan‎ Komisi III, Selasa (19/1/2016).

‎Tanya jawab dalam rapat kali ini bergulir variatif. Sejumlah anggota Komisi III mempertanyakan kelanjutan kasus ini.

Seperti, anggota Komisi III dari Fraksi Gerindra Supratman yang meminta Jaksa Agung untuk adil dalam penanganan kasus ini. Selain tiga tokoh tadi, Supratman juga mengusulkan supaya Menteri ESDM Sudirman Said juga ditelisik keterkaitannya.

Apalagi, Sudirman sempat mengirim surat ke Presiden PT Freeport Mcmoran James R Moffett 'Jimbob' yang membicarakan soal perpanjangan kontrak. Padahal, berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 77 Tahun 2014, perpanjangan kontrak baru bisa dibicarakan tahu 2019, dua tahun sebelum kontrak berakhir.

"Bukti suratnya ada dalam rangka perpanjangan dan ini menyalahi UU Minerba, tapi aparat penegak hukum termsuk kejaksaan tidak melakukan upaya apa-apa menyangkut itu," ujar Supratman yang sempat menjadi Anggota MKD saat kasus ini bergulir.

Anggota Komisi III Fraksi PKS Nasir Djamil memberikan pandangannya, yang dikutip dari pendapat pakar hukum Andi Hamzah. Yaitu, sejauh ini tidak ditemukan adanya unsur pidana dalam pertemuan itu. ‎ Dengan dalih itu, dia pun mempertanyakan dilanjutkannya kasus ini.

"Jadi jangan yang enggak ada di cari-cari. Sementara yang ada ditiadakan. Ini lah yang jadi problem," kata Nasir.

Anggota Komisi III Fraksi PDIP Junimart Girsang memberikan pandangan supaya Reza Chalid dipanggil terlebih dahulu untuk mendalami kasus tersebut. Menurut Wakil Ketua MKD ini, Reza diduga membantu Novanto untuk membicarakan saham dalam pertemuan kala itu. Dugaan tersebut menguat karena dalam rekaman yang menjadi alat bukti ini, suara Reza lebih banyak terdengar.

"Sebaiknya panggil Riza dulu karena dia yang tahu anatomi pertemuan itu dann tentang isi pertemuan," ucapnya.

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Hanura Syarifuddin Suding meminta supaya Kejaksaan Agung untuk memutuskan adanya dua alat bukti dalam kasus ini. Saat sudah mengantongi itu, Kejaksaan harus menetapkan tersangka dan melanjutkan kasus tersebut ke penyidikan.

"Kalau belum ada bukti sebaiknya dihentikan untuk menghindari kegaduhan," ucap Sudding yang merupakan Anggota MKD.

Wakil Ketua Komisi III dari Fraksi Demokrat Benny K Harman menganggap Kejaksaan Agung terlalu ngotot untuk memeriksa Novanto. Sementara, Reza Chalid yang juga diduga terlibat tidak menjadi fokus Kejaksaan dan keberadaannya juga tidak diketahui. Dia menganalogikan kasus ini seperti tarian poco-poco yang hanya maju mundur.

"Kenapa Jaksa Agung lumpuh dihadapan Riza Chalid? Novanto diobok-obok, Riza Chalid dibiarkan," ujar Benny.

Anggota Fraksi Nasdem Taufiqulhadi berbeda pandangan dengan yang lain. Ketika semuanya mempertanyakan kelanjutan kasus ini, dia malah mendukung kasus ini dilanjutkan oleh Kejaksaan Agung. Apalagi, ada putusan dari MKD tentang perkara tersebut.

"Yang penting, alat bukti cukup. Apalagi MKD menyatakan pelanggaran berat dan sedang di situ, itu dukungan politik," kata Taufiqulhadi.

Menanggapi ini, Prasetyo hanya menjawab singkat. Dia pun memastikan kasus ini berjalan sesuai fakta hukum, dan bukan berdasarkan kepentingan politik. Kejaksaan, tambahnya, juga sudah mempunyai bukti selain rekaman percakapan itu. Namun bukti itu belum bisa diungkap karena masih dalam tahap penyelidikan.

"Kami tidak ngotot atau tebang pilih dan sebagainya. Tidak ada unsur politis.Penegakan hukum berdasarkan fakta, itu jaminan saya," kata Prasetyo.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

MKD Sidang Bahas Kesimpulan Kasus Novanto

MKD Sidang Bahas Kesimpulan Kasus Novanto

News | Rabu, 13 Januari 2016 | 13:31 WIB

Terkini

Israel Lumpuh, Iran Sulap 2 Wilayah Zionis Ini Jadi Kota Hantu

Israel Lumpuh, Iran Sulap 2 Wilayah Zionis Ini Jadi Kota Hantu

News | Senin, 23 Maret 2026 | 10:44 WIB

Perang Iran Picu Krisis Energi Global, Bisakah Energi Terbarukan Jadi Jalan Keluar?

Perang Iran Picu Krisis Energi Global, Bisakah Energi Terbarukan Jadi Jalan Keluar?

News | Senin, 23 Maret 2026 | 10:44 WIB

Rudal Kiamat Iran Punya Jarak Tempuh 'Aceh-Papua' Bikin Ketar-ketir AS dan Inggris

Rudal Kiamat Iran Punya Jarak Tempuh 'Aceh-Papua' Bikin Ketar-ketir AS dan Inggris

News | Senin, 23 Maret 2026 | 10:27 WIB

Mojtaba Khamenei Menghilang, 2 Intelijen Paling Ditakuti Dunia Ketar-ketir Sendiri

Mojtaba Khamenei Menghilang, 2 Intelijen Paling Ditakuti Dunia Ketar-ketir Sendiri

News | Senin, 23 Maret 2026 | 10:15 WIB

Kesulitan Lacak Keberadaan Mojtaba Khamenei, Intelijen AS dan Israel Dibuat Bingung

Kesulitan Lacak Keberadaan Mojtaba Khamenei, Intelijen AS dan Israel Dibuat Bingung

News | Senin, 23 Maret 2026 | 10:15 WIB

Arus Balik Lebaran 2026: KAI Daop 1 Tambah 88 Perjalanan dan Perketat Keamanan

Arus Balik Lebaran 2026: KAI Daop 1 Tambah 88 Perjalanan dan Perketat Keamanan

News | Senin, 23 Maret 2026 | 10:12 WIB

Habis Lebaran, Israel Makin Biadab Berbuat Hal Keji Begini ke Rakyat Palestina

Habis Lebaran, Israel Makin Biadab Berbuat Hal Keji Begini ke Rakyat Palestina

News | Senin, 23 Maret 2026 | 09:44 WIB

Arus Balik Lebaran 2026: 51 Ribu Penumpang Tiba di Jakarta, Pasar Senen dan Gambir Terpadat

Arus Balik Lebaran 2026: 51 Ribu Penumpang Tiba di Jakarta, Pasar Senen dan Gambir Terpadat

News | Senin, 23 Maret 2026 | 09:39 WIB

Benjamin Netanyahu Mulai Kalang Kabut Hadapi Iran Sampai Lakukan Hal Memalukan Ini

Benjamin Netanyahu Mulai Kalang Kabut Hadapi Iran Sampai Lakukan Hal Memalukan Ini

News | Senin, 23 Maret 2026 | 09:30 WIB

Prakiraan Cuaca Jakarta Senin: Langit Berawan Tebal, Hujan Turun Mulai Sore Hari

Prakiraan Cuaca Jakarta Senin: Langit Berawan Tebal, Hujan Turun Mulai Sore Hari

News | Senin, 23 Maret 2026 | 09:01 WIB