Batu Bara Sebabkan Emisi Gas Rumah Kaca Belanda Naik

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 07 September 2016 | 00:12 WIB
Batu Bara Sebabkan Emisi Gas Rumah Kaca Belanda Naik
Ilustrasi emisi karbon dioksida dari industri (Shutterstock).

Suara.com - Emisi gas rumah kaca di Belanda naik 5 persen tahun 2015 kemarin. Belanda kesulitan mencapai targetnya mengurangi emisi sesuai Protokol Kyoto 2020.

Badan Pusat Statistik Belanda mengatakan kenaikan emisi disebabkan tingginya jumlah penggunaan bahan bakar batubara. Sebab 3 pembangkit listrik batubara baru telah diresmikan pada 2015.

Opsi itu dipilih karena pembangkit berbahan gas cukup mahal biaya operasinya walau menghasilkan lebih sedikit karbon dioksida.

Pengadilan pada Juni 2015 menyatakan pemerintah pimpinan Perdana Menteri Mark Rutte gagal memastikan Belanda akan mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 25 persen dari jumlahnya pada 1990 sampai 2020 mendatang.

Alhasil, pihak itu memerintahkan pemerintah mengubah kebijakan terkait. Pemerintah sepakat menjalankan keputusan tersebut walaupun tak menjelaskan rinciannya hingga musim gugur.

Sementara itu Menteri Ekonomi Henk Kamp menjelaskan solusi nantinya mencakup peningkatan pembiayaan untuk program energi terbarukan, proyek karantina karbon, dan pengelolaan energi panas bumi.

Ia mengatakan, pemerintah akan mempertimbangkan menutup dua pembangkit listrik batubara - tetapi bukan tiga fasilitas yang beru saja dibangun perusahaan Jerman E.ON dan RWE, serta korporasi Prancis Engie, senilai 5,5 miliar euro (6,13 miliar dolar Amerika Serikat).

Hasil kajian konsultan CE dari Delft pekan lalu memperlihatkan, strategi termurah mencapai target pada 2020 adalah menutup satu dari tiga pembangkit yang baru. Namun, Kamp dalam siaran televisi Minggu mengatakan tak berencana melakukan hal tersebut.

"Ketiganya adalah pembangkit listrik batu bara paling ramah lingkungan di Eropa, tentunya kami tak akan menutup fasilitas tersebut," kata Kamp.

Emisi karbon dioksida di Belanda tercatat dua persen lebih tinggi pada 2015 dibanding pada 1990. Peningkatan terjadi khususnya akibat penggunaan bahan bakar batubara. Secara keseluruhan, emisi gas rumah kaca tahun lalu di negara itu lebih rendah 12 persen dibanding nilainya pada 1990. Pasalnya, penggunaan metana, nitro oksida, dan florin yang mengandung gas telah banyak berkurang. (Reuters)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Forester Sehat dan Bahagia Melalui "e-Twenty Peduli"

Forester Sehat dan Bahagia Melalui "e-Twenty Peduli"

Press Release | Senin, 22 Agustus 2016 | 15:09 WIB

Paving Blok Ramah Lingkungan Ini Terbuat dari Limbah

Paving Blok Ramah Lingkungan Ini Terbuat dari Limbah

News | Kamis, 21 Juli 2016 | 01:09 WIB

Presiden Jokowi akan Hadiri Peluncuran Taman Nasional Zamrud

Presiden Jokowi akan Hadiri Peluncuran Taman Nasional Zamrud

News | Senin, 11 Juli 2016 | 11:22 WIB

Terkini

Salep Pure Paw Paw untuk Apa? Intip 5 Varian dan Manfaatnya, Bukan Cuma untuk Bibir

Salep Pure Paw Paw untuk Apa? Intip 5 Varian dan Manfaatnya, Bukan Cuma untuk Bibir

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 07:19 WIB

Mengintip Redmi Note 17 Pro Max 5G: Bawa Baterai Jumbo, 100W HyperCharge, dan Bodi Tangguh

Mengintip Redmi Note 17 Pro Max 5G: Bawa Baterai Jumbo, 100W HyperCharge, dan Bodi Tangguh

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Proposal Cinta di Bawah Proyek Mangkrak dan Halusinasi Negara

Proposal Cinta di Bawah Proyek Mangkrak dan Halusinasi Negara

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 06:31 WIB

Ajak Relasi Gabung BRI Prioritas, Nikmati Reward Eksklusif dari BRI!

Ajak Relasi Gabung BRI Prioritas, Nikmati Reward Eksklusif dari BRI!

Bri | Minggu, 04 Oktober 2026 | 06:05 WIB

Dede Sunandar Tumbang Tak Sadarkan Diri Usai Dihantam Vicky Prasetyo

Dede Sunandar Tumbang Tak Sadarkan Diri Usai Dihantam Vicky Prasetyo

Entertainment | Minggu, 04 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Tebarkan Energi Positif, Grup Vokal Anak DayDrm Ajak Si Kecil Berani Bermimpi Lewat Lagu 'Shine!'

Tebarkan Energi Positif, Grup Vokal Anak DayDrm Ajak Si Kecil Berani Bermimpi Lewat Lagu 'Shine!'

Entertainment | Minggu, 04 Oktober 2026 | 05:55 WIB

Raih Gelar di Olimpiade Catur 2026, Laysa Latifah Dapat Bonus Rp50 Juta dari Percasi Jakarta

Raih Gelar di Olimpiade Catur 2026, Laysa Latifah Dapat Bonus Rp50 Juta dari Percasi Jakarta

Sport | Minggu, 04 Oktober 2026 | 03:43 WIB

Pajak Marketplace Mulai Berlaku, Harga Barang Bisa Naik? Ini Kata idEA

Pajak Marketplace Mulai Berlaku, Harga Barang Bisa Naik? Ini Kata idEA

Bisnis | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:25 WIB

Dari Gambut Kalimantan ke Pasar Modern: Mengubah Rumput Purun Jadi Napas Baru Perajin Lokal

Dari Gambut Kalimantan ke Pasar Modern: Mengubah Rumput Purun Jadi Napas Baru Perajin Lokal

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:09 WIB

F1 Sepang, Transportasi Jadi Masalah: Antrean Bus Bak Film Zombie, Penonton Jalan Kaki 9 Km

F1 Sepang, Transportasi Jadi Masalah: Antrean Bus Bak Film Zombie, Penonton Jalan Kaki 9 Km

News | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:05 WIB

×