alexametrics

Gegara Banyak Pengangguran, Anies Beri Diskon Pajak Kendaraan 50 Persen

Dwi Bowo Raharjo | Fakhri Fuadi Muflih
Gegara Banyak Pengangguran, Anies Beri Diskon Pajak Kendaraan 50 Persen
Ilustrasi. Warga mengantre membayar pajak kendaraan di mobil Samsat Keliling, Taman Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. (Anatara/Adeng Bustomi/wsj).

Insentif PKB hanya diberikan untuk kendaraan bermotor umum untuk angkutan orang.

Suara.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan diskon Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) sebesar 50 persen. Keringanan ini berlaku sampai akhir tahun 2020.

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 115 Tahun 2020 tentang Pemberian Keringanan Pokok Pajak Dan/Atau Penghapusan Sanksi Administrasitf Tahun Pajak 2020 yang disahkan pada 11 Desember 2020 lalu.

Namun, insentif PKB hanya diberikan untuk kendaraan bermotor umum untuk angkutan orang.

“Keringanan pokok pajak sebagaimana dimaksud, diberikan sepanjang tidak memiliki tunggakan pada tahun sebelumnya,” ujar Anies dalam Pergub itu yang dikutip Sabtu (19/12/2020).

Baca Juga: Supaya Pengangguran Tak Melonjak, Pemerintah Diminta Tak Naikan Cukai SKT

Selain itu, proses untuk mendapatkan keringanan pajak ini diberikan keringanan. Sebab ada penyesuaian secara sistem manajemen pajak tanpa melalui mekanisme permohonan wajib pajak.

Namun syarat yang harus dipenuhi adalah wajib pajak harus memenuhi kewajiban pembayaran pokok pajak untuk jenis Pajak PBB-P2, PKB, Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Parkir, Pajak Hiburan.

"Sebelum berlakunya Peraturan Gubernur ini, tidak diberikan restitusi dan/atau kompensasi, dalam hal terdapat kelebihan pembayaran pajak,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta, Mohammad Tsani Annafari mengatakan pihaknya memberikan opsi keringanan pajak karena tingginya angka pengangguran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka pengangguran DKI mencapai 10,95 persen.

“Tembus dua digit itu cukup mengkhawatirkan kita coba lihat kontribusinya dari sektor mana. Menurut data BPS sektor akomodasi, makanan dan minuman jadi hotel, restoran, ritel, pusat perbelanjaan kita lihat data piutang macetnya cukup besar,” pungkasnya.

Baca Juga: Tahun Ini, Jumlah Pengangguran di Gorontalo Sentuh 25.410 Orang

Komentar