Negara Maju Blokir Rencana Bantu Negara Berkembang Bikin Vaksin Sendiri

Siswanto, BBC

Minggu, 21 Maret 2021 | 18:32 WIB
Negara Maju Blokir Rencana Bantu Negara Berkembang Bikin Vaksin Sendiri
BBC

Suara.com - Sekelompok negara maju - termasuk Inggris - memblokir proposal untuk membantu negara-negara berkembang dalam meningkatkan kemampuan membuat vaksin, demikian ungkap bocoran dokumen di tayangan BBC Newsnight.

Sejumlah negara berkembang sebelumnya telah meminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membantu mereka terkait gagasan itu.

Namun negara-negara maju malah menolak sejumlah ketentuan di dalam hukum internasional yang bisa membantu negara-negara berkembang mewujudkannya.

Ini menurut salinan bocoran naskah perundingan resolusi WHO terkait isu tersebut.

Di antara kelompok negara maju itu adalah Inggris, AS, dan yang tergabung dalam Uni Eropa.

"Kita bisa saja bersepakat untuk mempermudah negara-negara memproduksi lebih banyak vaksin dan obat di dalam negeri, termasuk inisiatif yang akan membiayai dan memfasilitasinya.

"Inggris dalam posisi yang menentang hal itu dengan berupaya menyingkirkan ide-ide progresif di dalam teks tersebut," kata Diarmaid McDonald dari Just Treatment, yaitu kelompok yang mendukung akses yang berkeadilan untuk obat-obatan.

Seorang juru bicara pemerintah Inggris mengatakan bahwa "pandemi global membutuhkan solusi global pula dan Inggris tengah memimpin upaya itu, untuk memastikan akses yang adil di seluruh dunia dalam mendapatkan vaksin dan perawatan Covid-19."

Juru bicara yang tidak disebutkan namanya itu juga menegaskan bahwa Inggris adalah salah satu donatur terbesar dalam upaya internasional untuk memastikan bahwa lebih dari satu miliar dosis vaksin virus corona dikirim ke negara-negara berkembang tahun ini.

baca juga

Bila dan kapan pemerintah harus campur tangan untuk memastikan pasokan obat-obatan yang terjangkau, merupakan masalah yang sudah berlangsung lama.

Namun kemampuan negara-negara yang berbeda untuk mendapatkan vaksin dan obat-obatan terus menjadi sorotan selama pandemi.

Banyak pakar menyatakan bahwa akses vaksin yang berkeadilan merupakan faktor kunci dalam mencegah penambahan kasus baru dan kematian, serta bahwa terwujudnya kekebalan populasi.

Namun, kapasitas memproduksi vaksin di tingkat global baru mencapai sepertiga dari yang dibutuhkan, ungkap Ellen t'Hoen, pakar kebijakan obat-obatan dan hukum kekayaan intelektual.

"Ini adalah vaksin-vaksin yang diproduksi di negara-negara maju dan pada umumnya disimpan oleh negara-negara maju pula."

"Negara-negara berkembang sudah menyatakan butuh pembagian peran, bukan hanya dapat jatah vaksin, namun juga hak untuk memproduksi vaksin," lanjutnya.

Untuk membuat vaksin, tidak hanya diwajibkan punya hak untuk memproduksi substansi aktual dari bahan pokoknya (yang dilindungi oleh hak paten), namun juga harus punya pengetahuan mengenai pembuatannya karena teknologinya rumit.

WHO tidak memiliki kewenangan untuk mengabaikan hak paten, namun organisasi itu tengah berupaya membuat negara-negara untuk bisa bersama-sama mencari cara untuk mendongkrak pasokan vaksin.

Pembicaraan yang tengah berlangsung di WHO tersebut menggunakan ketentuan-ketentuan dalam hukum internasional untuk menyiasati hak paten dan membantu negara-negara untuk memiliki kemampuan teknis membuat vaksin.

Apa reaksi pihak industri obat?

Namun kalangan industri obat menyatakan bahwa mengabaikan hak paten akan menghambat kemampuan mereka untuk berinvestasi lebih lanjut terkait Covid-19 dan penyakit-penyakit lain.

Awal bulan ini, perwakilan industri obat-obatan AS menulis surat kepada Presiden Joe Biden dan menyatakan keprihatinan mereka.

"Menghapuskan proteksi [atas hak paten] itu akan menghambat respons global atas pandemi," tulis mereka. Ini termasuk upaya dalam mengatasi varian-varian baru Covid-19.

Selain itu, lanjut argumen mereka, akan menciptakan kebingungan yang berpotensi merusak kepercayaan publik atas keamanan vaksin dan menghambat berbagi informasi," lanjut kalangan industri obat-obatan itu.

"Lebih penting lagi, menghilangkan proteksi itu tidak akan mempercepat produksi [vaksin]," tambah mereka.

Kalangan pakar lainnya setuju. Anne Moore, pakar imunologi vaksin, khawatir mengenai dampak mengabaikan hak paten bagi penelitian di masa depan.

"Seiring berjalannya waktu, kita melihat makin sedikit organisasi dan perusahaan komersial yang bergerak di bidang vaksin karena keuntungannya sangat kecil," ujarnya.

Perusahaan-perusahaan obat mengungkapkan bahwa mereka telah memberi sumbangan keuangan maupun obat-obatan untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Namun, kalangan pegiat menyatakan bahwa sekitar £90 miliar (atau lebih dari Rp1.700 triliun) uang publik telah disalurkan untuk pengembangan perawatan Covid-19 dan vaksin, sehingga publik pun seharusnya juga punya bagian. Begitu pandemi berakhir, akan ada banyak uang yang dihasilkan, demikian argumen mereka.

"Jelas bahwa ada rencana yang berjangka lebih lama lagi untuk meningkatkan harga vaksin-vaksin ini, begitu fase paling darurat dari pandemi ini usai. Jadi itu alasan lain mengapa negara-negara berkembang menyatakan kami perlu mendapatkan kemampuan untuk memproduksi vaksin secara mandiri," kata t'Hoen.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jadi Kandidat Dirjen WHO, Menkes Budi Minta Doa: Ini Ditugaskan Bapak

Jadi Kandidat Dirjen WHO, Menkes Budi Minta Doa: Ini Ditugaskan Bapak

News | Senin, 28 September 2026 | 18:45 WIB

Skandal Manchester City Picu Ketegangan Inggris-UEA, Ancam Investasi Rp500 Triliun

Skandal Manchester City Picu Ketegangan Inggris-UEA, Ancam Investasi Rp500 Triliun

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 14:42 WIB

Detail Tuduhan 'Manipulasi' Bisnis Manchester City Hingga Ancaman Denda Rp2 Triliun

Detail Tuduhan 'Manipulasi' Bisnis Manchester City Hingga Ancaman Denda Rp2 Triliun

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 13:48 WIB

Menkeu Suahasil Mau RI Belajar dari Korea Selatan demi Jadi Negara Maju

Menkeu Suahasil Mau RI Belajar dari Korea Selatan demi Jadi Negara Maju

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 15:17 WIB

Inggris Siap Ikut Perang Arab Saudi vs Houthi, Tentara Akan Dikirim

Inggris Siap Ikut Perang Arab Saudi vs Houthi, Tentara Akan Dikirim

News | Selasa, 22 September 2026 | 10:50 WIB

Kondisi Eks Timnas Inggris Andros Townsend Usai Digilas Mesin Perata Rumput

Kondisi Eks Timnas Inggris Andros Townsend Usai Digilas Mesin Perata Rumput

Bola | Senin, 21 September 2026 | 11:05 WIB

Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan

Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 17:35 WIB

Inggris 'Kiamat Kecil', 2.000 Penerbangan Mendadak Dibatalkan

Inggris 'Kiamat Kecil', 2.000 Penerbangan Mendadak Dibatalkan

News | Kamis, 10 September 2026 | 15:10 WIB

Bukan Anggota Kerajaan Inggris Lagi, Pangeran Harry Kehilangan Apa Saja?

Bukan Anggota Kerajaan Inggris Lagi, Pangeran Harry Kehilangan Apa Saja?

Entertainment | Rabu, 09 September 2026 | 11:04 WIB

Pangeran Harry Resmi Jadi Rakyat Biasa Pulang ke Inggris

Pangeran Harry Resmi Jadi Rakyat Biasa Pulang ke Inggris

Entertainment | Rabu, 09 September 2026 | 10:34 WIB

Terkini

Golf dan Staycation Mewah Gratis dari BRI, Nasabah Bisa Langsung Klaim

Golf dan Staycation Mewah Gratis dari BRI, Nasabah Bisa Langsung Klaim

Bri | Senin, 28 September 2026 | 21:18 WIB

Aktivis HAM Ungkap Ada Belasan Pelanggaran Kemananusiaan Saat Rezim Soeharto

Aktivis HAM Ungkap Ada Belasan Pelanggaran Kemananusiaan Saat Rezim Soeharto

News | Senin, 28 September 2026 | 21:17 WIB

Polemik Lahan Teuku Umar 2, Temasra Jaya Bantah Klaim Aset BMN Mabes TNI

Polemik Lahan Teuku Umar 2, Temasra Jaya Bantah Klaim Aset BMN Mabes TNI

News | Senin, 28 September 2026 | 21:12 WIB

Dear Bakom RI! Ini Santapan Lamine Yamal Biar Gesit, Apa Ada di Menu MBG?

Dear Bakom RI! Ini Santapan Lamine Yamal Biar Gesit, Apa Ada di Menu MBG?

Bola | Senin, 28 September 2026 | 21:06 WIB

Motul Pamerkan Teknologi Pelumas McLaren di Grand Prix Italia

Motul Pamerkan Teknologi Pelumas McLaren di Grand Prix Italia

Otomotif | Senin, 28 September 2026 | 21:05 WIB

Prabowo Takziah ke Kediaman Megawati, Sampaikan Belasungkawa Atas Berpulangnya Guruh

Prabowo Takziah ke Kediaman Megawati, Sampaikan Belasungkawa Atas Berpulangnya Guruh

News | Senin, 28 September 2026 | 21:00 WIB

Menko Polkam Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelaku Karhutla

Menko Polkam Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelaku Karhutla

Video | Senin, 28 September 2026 | 21:00 WIB

Bakom RI Sebut Lamine Yamal Saat Bicara MBG, Publik: Takut Nanti Yamal Keracunan

Bakom RI Sebut Lamine Yamal Saat Bicara MBG, Publik: Takut Nanti Yamal Keracunan

News | Senin, 28 September 2026 | 20:55 WIB

Bukan Lagi Sekadar Glowing, Tren Kecantikan Kini Fokus pada Struktur Kulit

Bukan Lagi Sekadar Glowing, Tren Kecantikan Kini Fokus pada Struktur Kulit

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 20:43 WIB

Dari 49 ke 14 Tahun, Temuan 400 Ribu Data Invalid Ubah Peta Antrean Haji

Dari 49 ke 14 Tahun, Temuan 400 Ribu Data Invalid Ubah Peta Antrean Haji

News | Senin, 28 September 2026 | 20:39 WIB

×