Taliban Kini Kuasai Black Hawk dan Humvee Peninggalan Militer AS

Reza Gunadha, BBC

Senin, 30 Agustus 2021 | 15:52 WIB
Taliban Kini Kuasai Black Hawk dan Humvee Peninggalan Militer AS
Video Taliban mencoba menerbangann helikopter Blackhawk.[Twitter]

Suara.com - Rekaman video yang baru-baru ini viral menunjukkan militan Taliban sudah menguasai alat-alat militer Amerika Serikat di Bandara Kandahar.

Alat-alat perang militer AS itu di antara helikopter Black Hawk dan mobil Humvee.

Pesawat multiguna dengan empat baling-baling ini sekadar meluncur di landasan, tapi aktivitas itu mengirim pesan pada dunia: Taliban bukan lagi sekelompok tentara urakan yang memeluk senapan serbu Kalashnikov di truk pikcup yang sudah rusak.

Di tempat lain, sejak kejatuhan Kabul pada 15 Agustus ke tangan kelompok garis keras Islam ini, foto-foto tentara Taliban memamerkan sejumlah persenjataan dan kendaraan buatan AS tersebar.

Beberapa dari mereka terlihat dengan perlengkapan tempur lengkap di unggahan media sosial, dan tak bisa dibedakan dari pasukan khusus lain yang ada di seluruh dunia. Tak ada jenggot panjang, atau pakaian tradisional salwar kameez, dan tentu saja tak ada senjata yang berkarat.

Mereka menyita persenjataan tersebut setelah pasukan dari Pasukan Pertahanan dan Keamanan Aghanistan (Ands) menyerahkan satu per satu kota ke tangan Taliban.

Sejumlah unggahan di media sosial mengatakan, hal ini membuat Taliban menjadi satu-satunya kelompok ekstrimis yang memiliki angkatan udara.

Berapa banyak pesawat yang dimiliki Taliban?

Per akhir Juni lalu, angkatan udara pemerintah Afghanistan tercatat mengoperasikan 167 pesawat, termasuk helikopter serbu, menurut laporan Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (Sigar) yang berbasis di AS.

Tapi masih belum jelas berapa banyak di antara 167 pesawat itu yang benar-benar diambil alih oleh Taliban. Citra satelit di Bandara Kandahar yang diperoleh BBC dari Planet Labs, menunjukkan sejumlah pesawat militer Afghanistan terparkir di landasan.

baca juga

Sebuah gambar, sejak enam hari peralihan kekuasaan ke tangan Taliban, menunjukkan lima pesawat - setidaknya dua helikopter MI-17, dua Black Hawks (UH-60) dan helikopter ketiga yang bisa jadi UH-60, menurut Angad Singh, pakar penerbangan militer di Observer Research Foundation yang berbasis di Delhi.

Sebaliknya, 16 pesawat — termasuk sembilan helikopter Black Hawks dan dua MI-17 serta lima pesawat bersayap — dapat dilihat melalui citra satelit lain yang diambil pada 16 Juli.

Ini artinya sejumlah pesawat di sana telah diterbangkan ke luar negeri, atau dipindahkan ke pangkalan udara lainnya.

Taliban juga merebut sembilan pangkalan udara Afghanistan lain, termasuk di antaranya yang berada di Herat, Khost, Kunduz, dan Mazar-i-Sharif — tapi masih belum jelas berapa banyak pesawat yang telah mereka sita, karena citra satelit tak tersedia dari bandara-bandara ini.

Pasukan Taliban dan media lokal juga mengunggah gambar-gambar pesawat yang disita, dan pesawat tak berawak dari bandara-bandara tersebut. Sejumlah situs independen juga telah menemukan geo-lokasi sejumlah pesawat.

Tapi ada juga tanggapan bahwa sejumlah pesawat itu telah diterbangkan ke luar Afghanistan, sebelum negara itu diambil alih oleh pasukan Taliban.

Analisis citra satelit yang diambil pada 16 Agustus dari bandara Termez Uzbekistan menunjukkan lebih dari dua lusin helikopter, termasuk MI-17, MI-25, Black Hawks dan juga sejumlah pesawat A-29 serta C-208, menurut pakar penerbangan di Delhi yang enggan disebutkan namanya.

Para ahli di lembaga CSIS mengatakan, pesawat dan helikopter kemungkinan berasal dari Angkatan Udara Afghanistan.


Senjata tempur apa lagi yang dimiliki Taliban?

Di samping pertanyaan mengenai kekuatan udara Taliban, para ahli setuju, Taliban memiliki pengalaman mengoperasikan senjata, senapan dan kendaraan tempur yang canggih. Dan, perlengkapan militer seperti itu sangat banyak di Afghanistan.

Antara 2003-2016, AS menggunakan sejumlah besar perangkat keras militer saat pasukan mereka bertempur bersama pasukan Afghanistan: 358.530 senapan berbagai merek, lebih dari 64.000 senapan mesin, 25.327 peluncur granat, dan 22.174 Humvee (kendaraan tempur segala medan), menurut laporan Akuntabilitas Pemerintah AS.

Setelah pasukan NATO mengakhiri pertempuran mereka pada 2014, pasukan Afghanistan ditugaskan untuk mengamankan negara. Saat mereka berjuang melawan Taliban, AS menyediakan lebih banyak perlengkapan perang, dan menggantikan peralatan yang sudah tua.

Pada 2017, AS mengirim setidaknya 20.000 senapan M16. Pada tahun-tahun berikutnya, AS memasok lagi setidaknya 3.598 senapan M4, dan 3.012 Humvee untuk mempersenjatai pasukan Afghanistan antara 2017-2021, menurut Sigar.

Pasukan Afghanistan juga punya kendaraan lapis baja, yang digunakan untuk serangan cepat. Kendaraan 4x4 ini juga bisa digunakan untuk mengangkut pasukan atau peralatan perang lainnya.

Apa yang bisa dilakukan Taliban dengan persenjataan barunya?

Tergantung pada persenjataanya.

Mengambil alih pesawat mungkin mudah bagi Taliban, tapi mengoperasikan dan memeliharanya akan sulit, kata Dr Jonathan Schroden, direktur di grup kunsultasi CNA sekaligus mantan penasihat pasukan di Afghanistan.

Suku cadang kerap perlu servis dan kadang harus diganti, dan sebuah pasukan udara sangat bergantung dari tim teknis yang bekerja untuk menjaga kelayakan setiap pesawat.

Banyak pemeliharaan pesawat dilakukan oleh kontraktor swasta AS, yang telah meninggalkan negara tersebut, bahkan sebelum Taliban mulai mengambil alih kota-kota dan provinsi pada Agustus.

Jodi Vittori, profesor bidang politik dan keamanan di Universitas Georgetow sekaligus veteran pasukan udara AS yang bertugas di Afghanistan, setuju kalau Taliban kekurangan ahli untuk membuat pesawat ini beroperasi.

"Jadi, tak ada ancaman langsung bahwa Taliban akan menggunakan pesawat-pesawat itu," katanya sekaligus menekankan, bisa saja pesawat-pesawat itu sudah dipreteli sebelum pasukan Afghanistan menyerah.

Bagaimana pun, Taliban akan berusaha memaksa mantan-mantan pilot Afghanistan untuk menerbangkan pesawat-pesawat itu, kata Jason Campbell, seorang peneliti di Rand Corporation. "Taliban akan mengancam mereka dan keluarganya. Jadi mereka mungkin bisa membawa pesawat-pesawat ini terbang ke angkasa, tapi dalam jangka-panjang terlihat suram."

Dan, Taliban kemungkinan bisa mengoperasikan helikopter MI-17 buatan Rusia, karena helikopter-helikopter itu sudah ada di negara itu selama beberapa dekade. Tapi untuk pesawat sisanya, mereka mungkin akan mencari negara-negara lain untuk meminta pelatihan dan pemeliharaan.

Persenjataan lain akan jauh lebih mudah dikuasai para milisi. Bahkan pasukan Taliban lebih akrab dengan persenjataan berbasis darat yang mereka sita.

Selama bertahun-tahun, pos-pos keamanan yang direbut dan pasukan yang membelot telah membuat mereka terbiasa dengan persenjataan tersebut.

Bahwa kelompok ini memiliki akses pada persenjataan modern seperti itu merupakan "kegagalan besar" kata Michael Kugelman, wakil direktur Wilson Center di Washington.

Tapi efeknya tidak akan terbatas pada Afghanistan. Ada kekhawatiran senjata-senjata akan mulai bermunculan di pasar gelap, dan memicu pemberontakan di seluruh dunia.

Ini bukan risiko langsung, kata Vittori, tapi rantai dagang bisa muncul beberapa bulan kemudian. Tanggung jawab untuk menghentikan ini ada di tangan negara-negara tetangga Afghanistan, seperti Pakistan, China dan Rusia.

Champbell mengatakan, Taliban nampaknya ingin menunjukkan wajah bertanggung jawab, meskipun sulit bagi mereka untuk tidak mendukung kelompok-kelompok dengan ideologi yang sama di seluruh dunia.

Persatuan di antara Taliban adalah faktor penting lain yang akan bermain dalam hal bagaimana senjata-senjata itu digunakan.

Vittori mengatakan ada kemungkinan bahwa kelompok sempalan dari sekutu-sekutu Taliban memutuskan untuk hengkang, dan membawa serta persenjataan mereka. Jadi, ini akan bergantung pada bagaimana para pemimpin Taliban menyatukan kelompok setelah euforia awal pengambilalihan Afghanistan mereda.

David Brown ikut berkontribusi dalam laporan ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Taliban Akan Kerja Sama dengan China, Uighur di Afganistan Cemas

Taliban Akan Kerja Sama dengan China, Uighur di Afganistan Cemas

News | Senin, 30 Agustus 2021 | 15:48 WIB

Bombardir ISIS, Drone AS Diduga Ikut Tewaskan Warga Sipil Afganistan

Bombardir ISIS, Drone AS Diduga Ikut Tewaskan Warga Sipil Afganistan

News | Senin, 30 Agustus 2021 | 14:19 WIB

China Ragu Investasi di Afganistan: Uang Suka Perdamaian Bukan Perang

China Ragu Investasi di Afganistan: Uang Suka Perdamaian Bukan Perang

News | Senin, 30 Agustus 2021 | 14:14 WIB

Usai Diguncang Ledakan, Bandara Kabul Kini Dihujani Roket

Usai Diguncang Ledakan, Bandara Kabul Kini Dihujani Roket

News | Senin, 30 Agustus 2021 | 12:45 WIB

Setelah Haramkan Musik, Taliban Bunuh Seorang Musisi Folk Afghanistan

Setelah Haramkan Musik, Taliban Bunuh Seorang Musisi Folk Afghanistan

News | Senin, 30 Agustus 2021 | 13:11 WIB

Tak Pernah Muncul ke Publik, Taliban Akhirnya Ungkap Keberadaan Pemimpin Tertingginya

Tak Pernah Muncul ke Publik, Taliban Akhirnya Ungkap Keberadaan Pemimpin Tertingginya

News | Senin, 30 Agustus 2021 | 11:46 WIB

Astra Gagal Lakukan Uji Peluncuran Roket Militer AS

Astra Gagal Lakukan Uji Peluncuran Roket Militer AS

Tekno | Senin, 30 Agustus 2021 | 09:45 WIB

Balas Dendam, AS Bombardir Militan ISIS-K di Kota Kabul Afghanistan

Balas Dendam, AS Bombardir Militan ISIS-K di Kota Kabul Afghanistan

Jatim | Senin, 30 Agustus 2021 | 09:01 WIB

Terkini

Kalahkan Persiba Tiga Gol, Kendal Tornado FC Ambil Alih Puncak Klasemen

Kalahkan Persiba Tiga Gol, Kendal Tornado FC Ambil Alih Puncak Klasemen

Jawa Tengah | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 23:33 WIB

Menggambar Bukan Sekadar Bermain, Ini Manfaatnya untuk Imajinasi Anak

Menggambar Bukan Sekadar Bermain, Ini Manfaatnya untuk Imajinasi Anak

Lifestyle | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 23:26 WIB

Mahasiswa Malaysia Pelajari Mitigasi Bencana dan Tata Air Pesisir Jakarta

Mahasiswa Malaysia Pelajari Mitigasi Bencana dan Tata Air Pesisir Jakarta

Jakarta | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 23:18 WIB

Memilih Produk Perawatan Pakaian, Apa yang Jadi Pertimbangan Konsumen?

Memilih Produk Perawatan Pakaian, Apa yang Jadi Pertimbangan Konsumen?

Lifestyle | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 23:05 WIB

UMKM Binaan Astra Catat Transaksi Ekspor Rp400 Miliar, Bidik Pasar Global

UMKM Binaan Astra Catat Transaksi Ekspor Rp400 Miliar, Bidik Pasar Global

Jakarta | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 23:00 WIB

Kabut Asap Karhutla Tekan Ekonomi Palembang, 7 Hotel Laporkan Penurunan Tingkat Hunian

Kabut Asap Karhutla Tekan Ekonomi Palembang, 7 Hotel Laporkan Penurunan Tingkat Hunian

Sumsel | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:56 WIB

Tangis Haru Heri Latif, 1,5 Tahun Cari Nafkah Pakai Pick-up Box Berbuah Hadiah Umrah Gratis

Tangis Haru Heri Latif, 1,5 Tahun Cari Nafkah Pakai Pick-up Box Berbuah Hadiah Umrah Gratis

Lifestyle | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Bukan Sekadar Tanam Mangrove: Strategi Baru Ubah Pesisir Malang Jadi Mesin Uang Warga

Bukan Sekadar Tanam Mangrove: Strategi Baru Ubah Pesisir Malang Jadi Mesin Uang Warga

Malang | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:49 WIB

KPK Bongkar Dugaan Setoran Upah Pungut ke Bupati Klaten Rp280 Juta

KPK Bongkar Dugaan Setoran Upah Pungut ke Bupati Klaten Rp280 Juta

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:24 WIB

Sumsel United vs Persikad Depok: Laskar Juaro Incar Kemenangan Ketiga, Hibiki Mochizuki Berpeluang M

Sumsel United vs Persikad Depok: Laskar Juaro Incar Kemenangan Ketiga, Hibiki Mochizuki Berpeluang M

Sumsel | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:10 WIB

×