Film G-30S/PKI, Staf Ahli Menkominfo: Jangan Ada Paksaan Nonton dan Harus Percaya

Erick Tanjung, Ummi Hadyah Saleh

Jum'at, 01 Oktober 2021 | 05:15 WIB
Film G-30S/PKI, Staf Ahli Menkominfo: Jangan Ada Paksaan Nonton dan Harus Percaya
Poster nobar Film G30 S PKI yang diselenggarakan FUI (Dok. Timesindonesia)

Suara.com - Gerakan 30 September atau G30S selalu menjadi momentum bersejarah yang kontroversial. Sebagian kelompok kepentingan kerap memanfaatkan momentum itu untuk menarik perhatian publik dengan menggaungkan isu pemberontakan Partai Komunis Indonesia atau PKI.

Salah satunya dengan menanyangkan film yang diproduksi di era pemerintahan otoriter orde baru dengan judul G30S/PKI.

Menanggapi hal itu, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Henry Subiakto mengatakan bahwa film G30S itu sejak dibuat dan diputar setiap tahun dipakai sebagai alat politik oleh kelompok tertentu. Kata Henri, film G30S itu dahulu dibuat sebagai sarana pembenar sejarah versi orde baru.

"Para seniman pembuat film G30S/PKI itu, sebagaimana para akademisi, wartawan, bahkan ulama diharuskan berperan sebagai ideological state aparatus, aparat ideologis yang membenarkan semua komunikasi versi negara," kata Henry kepada Suara.com, Kamis (30/9/2021).

Henry berujar, jika tidak membenarkan versi negara, pembuat film ketika itu tak akan mendapat izin membuat film atau izin pemutaran film. Pasalnya ketika itu, semua informasi dan komunikasi yang beredar di publik dikendalikan oleh pemerintah, sehingga hasilnya pro dan membenarkan versi sejarah orde baru.

"Karena di masa Orde Baru semua informasi dan komunikasi yang beredar di publik dikendalikan oleh negara. Ya hasilnya tentu yang pro dan membenarkan versi sejarah Orba," ucap dia.

Namun kata Henry, film G30S sekarang ini menuai kontroversi sehingga bergeser maknanya. Menurutnya, film G-30 S-PKI kalau diputar dan pihak yang memutar dan yang menonton bermakna anti terhadap PKI.

"Jadi pemutaran dan menonton film itu adalah pesan politik yang bermakna sebagai bukti anti terhadap PKI," tutur Henry.

Terkait soal adanya nonton bareng film G30S, Henry tak mempermasalahkannya. Bagi dia, yang terpenting tidak memaksakan orang untuk menonton dan tidak memaksakan orang untuk mempercayai isi filmnya. Sebab, film G30S memiliki banyak versi.

baca juga

"Yang penting tidak ada pemaksaan sebagai harus nonton dan tidak boleh ada pemaksaan harus percaya dengan isinya. Karena secara akademis harus diakui sejarah G30S/PKI itu terdapat banyak versi. Film itu hanya salah satu versi saja," kata dia.

Henry menuturkan, di era Orba cara pemerintah membuat rakyat tunduk dan terhegomoni selama 32 tahun itu melalui dua jenis apparatus. Pertama repressive state apparatus, yaitu tangan-tangan negara yang menggunakan kekerasan untuk membuat rakyat tunduk. Mereka adalah Tentara, Polisi, Kejaksaan, Intelejen dan lainnya.

"Kalau yang bekerja hanya Repressive State Apparatus, maka dikhawatirkan akan terjadi gejolak, karena dasarnya tekanan dengan hukum dan tindakan," ucap Henry.

Kedua, era Orba menggunakan Ideological State Apparatus agar ada ketertundukan secara soft. Yakni menggunakan kalangan intelektual, agamawan, seniman dan lain-lain untuk menyuarakan kebenaran versi penguasa orba.

Adapun film G30S/PKI merupakan bagian dari produk Ideological State Apparatus.

"Tapi Orba itu selama 32 tahun berhasil menanamkan ideologinya di berbagai lapisan masyarakat sehingga dianggap sebagai kebenaran yang pantas diterima. Hanya kalangan ilmuwan sosial yang kritis yang memiliki perspektif yang berbeda. Itu pun tidak banyak," tuturnya.

Ketika ditanya apakah generasi muda saat ini masih banyak yang memiliki keinginan untuk menonton Film G30S, Henry menyebut hal tersebut masih banyak. Menurutnya, apa yang ditanamkan orba masih sangat kuat meski generasi muda saat ini tidak terkena langsung.

Pasalnya, kata Henry, masih terdapat fanatisme orangtua terhadap kebenaran sejarah versi orba masih kuat. Terlebih diperkuat dengan adanya perang komunikasi politik di media sosial.

"Anak muda memang tidak terkena langsung, tapi fanatisme orang-orang tua terhadap kebenaran sejarah versi Orba masih kuat, dan mereka lah yang mensosialisasikan sejarah itu, termasuk kebencian terhadap mereka yang dilabeli atau dituduh komunis," kata dia.

"Prasangka sosial yang sudah ada sejak Orba itu kan diperkuat dengan perang komunikasi politik di medsos sekarang.
Penayangan dan menonton Film G30S/PKI itu tidak bisa dilepaskan dengan keriuhan perang komunikasi di medsos," tuturnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Baba Entong Anti PKI

Baba Entong Anti PKI

Bogor | Kamis, 30 September 2021 | 19:44 WIB

Peristiwa 1965: Warga Pekanbaru Turun ke Jalan, Ketua PKI Riau Dihukum Mati

Peristiwa 1965: Warga Pekanbaru Turun ke Jalan, Ketua PKI Riau Dihukum Mati

Riau | Kamis, 30 September 2021 | 18:20 WIB

Siapa DN Aidit? Pemimpin PKI yang Dituding Dalang G30S PKI

Siapa DN Aidit? Pemimpin PKI yang Dituding Dalang G30S PKI

News | Kamis, 30 September 2021 | 14:22 WIB

Terkini

Good Talk GNFI di UAD: Pendidikan RI Dianggap Hanya Cetak Tenaga Kerja

Good Talk GNFI di UAD: Pendidikan RI Dianggap Hanya Cetak Tenaga Kerja

Your Say | Jum'at, 25 September 2026 | 20:00 WIB

LRT Kelapa GadingManggarai Sedot 100 Ribu Penumpang dalam Sembilan Hari

LRT Kelapa GadingManggarai Sedot 100 Ribu Penumpang dalam Sembilan Hari

News | Jum'at, 25 September 2026 | 19:59 WIB

Rekam Jejak Rustam Lutfullin Wasit Timnas Indonesia vs Singapura: Hati-hati Justin Hubner

Rekam Jejak Rustam Lutfullin Wasit Timnas Indonesia vs Singapura: Hati-hati Justin Hubner

Bola | Jum'at, 25 September 2026 | 19:50 WIB

Menikmati Sore Bareng Ipang Lazuardi di PestaPora 2026

Menikmati Sore Bareng Ipang Lazuardi di PestaPora 2026

Entertainment | Jum'at, 25 September 2026 | 19:48 WIB

Salma Rilis Lagu 'maha benar', Sindiran Keras Buat Netizen Julid dan Si Paling Paham Hidup Orang!

Salma Rilis Lagu 'maha benar', Sindiran Keras Buat Netizen Julid dan Si Paling Paham Hidup Orang!

Your Say | Jum'at, 25 September 2026 | 19:47 WIB

Gaya Hidup Deputi II Bakom Timothy Ivan Triyono Disorot, Terseret Dugaan Skandal Rp1,5 Miliar

Gaya Hidup Deputi II Bakom Timothy Ivan Triyono Disorot, Terseret Dugaan Skandal Rp1,5 Miliar

News | Jum'at, 25 September 2026 | 19:38 WIB

Warga Eks Bantaran Rel Pasar Gaplok Ingin Huntara Senen Jadi Tempat Tinggal Tetap

Warga Eks Bantaran Rel Pasar Gaplok Ingin Huntara Senen Jadi Tempat Tinggal Tetap

News | Jum'at, 25 September 2026 | 19:37 WIB

Starting XI Timnas Indonesia vs Singapura: Trisula Lini Depan Romeny, Baker, Vickery

Starting XI Timnas Indonesia vs Singapura: Trisula Lini Depan Romeny, Baker, Vickery

Bola | Jum'at, 25 September 2026 | 19:31 WIB

Korea Selatan Libatkan Warga Lawan Deepfake, Indonesia Bisa Belajar Apa?

Korea Selatan Libatkan Warga Lawan Deepfake, Indonesia Bisa Belajar Apa?

Your Say | Jum'at, 25 September 2026 | 19:30 WIB

Cara Dapat Merchandise Eksklusif Pestapora 2026 dari BRI

Cara Dapat Merchandise Eksklusif Pestapora 2026 dari BRI

Bri | Jum'at, 25 September 2026 | 19:10 WIB

×