Tinggal di Tempat dengan Suhu 50 Derajat Celcius, Bagaimana Rasanya?

Siswanto, BBC

Sabtu, 06 November 2021 | 16:24 WIB
Tinggal di Tempat dengan Suhu 50 Derajat Celcius, Bagaimana Rasanya?
BBC

Suara.com - Di banyak tempat di dunia, dampak krisis iklim sudah dimulai dan terasa.

Tahun 2021 telah menjadi periode terpanas yang pernah tercatat. Jutaan orang hidup dengan suhu ekstrem, menghadapi ancaman banjir atau kebakaran hutan yang semakin meningkat.

BBC berbicara dengan lima orang yang menjelaskan bagaimana suhu ekstrem telah mengubah hidup mereka.

'Kami melewati banyak malam tanpa tidur'

Shakeela Bano sering menempatkan tempat tidur keluarganya di loteng rumah mereka di India.

Beberapa malam terlalu panas untuk tidur di dalam ruangan. Atapnya bisa terlalu panas.

"Sangat sulit," katanya. "Kami memiliki banyak malam tanpa tidur."

Shakeela tinggal bersama suami, putri, dan tiga cucunya di sebuah ruangan tak berjendela di Ahmedabad.

Baca juga:

Mereka hanya memiliki satu kipas langit-langit untuk bertahan.

baca juga

Perubahan iklim menyebabkan banyak kota di India sekarang mencapai 50C.

Daerah padat penduduk dan bangunan sangat dipengaruhi oleh sesuatu yang dikenal sebagai efek panas perkotaan (urban heat island effect).

Bahan seperti beton memancarkan panas, mendorong suhu lebih tinggi. Dan tidak ada jeda di malam hari karena kondisinya benar-benar bisa menjadi lebih panas.

Di rumah seperti kediaman Shakeela, suhu sekarang mencapai 46C. Dia pusing karena panas. Cucu-cucunya menderita ruam, kelelahan karena panas dan diare.

Metode tradisional untuk tetap sejuk, seperti minum buttermilk dan air lemon, tidak lagi berhasil.

Mereka mencoba cara lain dengan meminjam uang untuk mengecat atap rumah mereka dengan warna putih.

Permukaan putih memantulkan lebih banyak sinar matahari dan lapisan cat putih ke atap dapat menurunkan suhu di dalam hingga 3-4 derajat.

Bagi Shakeela, langkah itu menunjukkan perbedaan yang sangat besar; kamarnya lebih sejuk dan anak-anak tidur lebih nyenyak.

"Dia biasanya tidak akan tidur di siang hari," katanya, menunjuk cucunya yang sedang tidur. "Sekarang dia bisa tidur tenang."

'Panas seperti api'

"Saya datang dari tempat yang panas," kata Sidi Fadoua. Tapi panas di Mauritania utara, Afrika barat, sekarang terlalu panas bagi banyak orang untuk tinggal dan bekerja.

Panas di sini bukan panas biasa, katanya. "Ini seperti api."

Sidi, 44, tinggal di sebuah desa kecil dekat tepi Sahara. Dia bekerja sebagai penambang garam di flat terdekat.

Pekerjaannya berat, dan menjadi lebih sulit saat wilayahnya memanas karena perubahan iklim.

"Kami tidak tahan dengan suhu seperti itu," katanya. "Kami bukan mesin."

Untuk menghindari suhu di atas 45C di musim panas, Sidi mulai bekerja di malam hari.

Lapangan pekerjaan sangat langka. Mereka yang pernah mencari nafkah dengan memelihara ternak tidak bisa lagi melakukannya - tidak ada tanaman untuk domba dan kambing untuk digembalakan.

Jadi seperti yang dilakukan banyak tetangganya, Sidi memiliki rencana untuk bermigrasi ke kota pesisir Nouadhibou, di mana angin laut membuat kota lebih sejuk.

Penduduk setempat dapat menumpang dengan salah satu kereta terpanjang di dunia yang membawa bijih besi dari tambang terdekat ke pantai.

"Orang-orang pindah dari sini," jelas Sidi. "Mereka tidak tahan lagi dengan panasnya."

Perjalanan 20 jam itu berbahaya. Penduduk setempat dapat duduk di atas gerbong di mana mereka terkena panas dan sinar matahari di siang hari, sebelum suhu turun hingga mendekati titik beku di malam hari.

Di Nouadhibou, ia berharap mendapatkan pekerjaan di industri perikanan.

Angin sepoi-sepoi bisa membuat sedikit lega, tetapi dengan semakin banyaknya jumlah orang yang melarikan diri dari panasnya gurun, peluang kerja semakin sulit ditemukan. Sidi tetap berharap.

'Bagaimana Anda memadamkan api?'

Patrick Michell, kepala Kanaka Bar First Nation, pertama kali mulai menyadari perubahan yang mengkhawatirkan di hutan dekat cagar alamnya di British Columbia, Kanada, lebih dari tiga dekade lalu.

Air menjadi lebih sedikit di sungai, dan jamur berhenti tumbuh.

Musim panas tahun ini ketakutannya menjadi kenyataan. Gelombang panas melanda Amerika Utara.

Pada tanggal 29 Juni, kota kelahirannya Lytton memecahkan rekor, mencapai 49,6C.

Keesokan harinya, istrinya mengiriminya foto termometer yang terbaca 53C. Satu jam kemudian, kotanya terbakar.

Putrinya, Serena, hamil delapan bulan, bergegas untuk membawa anak-anak dan hewan peliharaannya ke dalam mobil: "Kami pergi dengan pakaian di badan kami. Api setinggi tiga lantai dan tepat di samping kami."

Patrick berlari kembali untuk melihat apakah dia bisa menyelamatkan rumah itu.

Dia dibesarkan di tengah kondisi berurusan dengan kebakaran hutan. Tapi seperti iklim, api juga berubah.

"Ini bukan kebakaran hutan lagi, ini neraka," katanya. "Bagaimana Anda memadamkan api?"

Terlepas dari keadaan keluarga, Patrick melihat apa yang terjadi sebagai peluang: "Kita dapat membangun kembali Lytton untuk lingkungan yang akan datang dalam 100 tahun ke depan. Ini menakutkan, tetapi dalam hati saya ada optimisme itu."

'Ketika saya masih kecil, tidak seperti ini'

"Ketika saya masih kecil, cuacanya tidak seperti ini," kata Joy, yang tinggal di Delta Niger, di Nigeria.

Wilayah ini adalah salah satu daerah yang paling tercemar di Bumi, dan hari-hari yang lebih panas di siang dan malam semakin meningkat.

Joy menafkahi keluarganya dengan menggunakan panas dari suar atau nyala api pembakaran gas untuk mengeringkan tapioka dan menjualnya di pasar lokal.

"Saya memiliki rambut pendek," Joy menjelaskan, "karena jika saya memanjangkan rambut saya, api itu bisa membakar kepala saya jika berubah arah atau meledak."

Tapi di sisi lain, suar itu juga adalah sumber masalah. Perusahaan minyak menggunakannya untuk membakar gas yang dilepaskan dari tanah saat mereka mengebor minyak.

Nyala api, yang menjulang setinggi enam meter itu merupakan sumber signifikan emisi CO2 global, yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Perubahan iklim telah berdampak buruk di sini, mengubah tanah subur menjadi gurun di utara, sementara banjir bandang melanda selatan.

"Kebanyakan orang di sini tidak cukup informasi untuk menjelaskan mengapa iklim berubah dengan cepat," kata Joy.

"Tapi kami curiga dengan suar tanpa henti."

Joy ingin pemerintah melarang pembakaran gas, meskipun dia mengandalkannya untuk menafkahi keluarganya.

Hampir tidak ada kekayaan minyak yang diinvestasikan kembali di Nigeria, di mana 98 juta orang hidup dalam kemiskinan. Termasuk Joy dan keluarganya. Selama lima hari kerja, mereka mendapat untung Rp90 ribu atau 4.

Dia pesimis tentang masa depan. "Saya pikir kehidupan [di Bumi] sekarang akan segera berakhir."

'Panas ini tidak normal'

Enam tahun lalu, Om Naief mulai menanam pepohonan di sepetak lahan gurun dekat jalan raya.

Seorang pensiunan pegawai negeri sipil di Kuwait itu prihatin dengan suhu musim panas yang semakin parah dan badai debu yang memburuk.

"Saya berbicara dengan beberapa pejabat. Mereka semua mengatakan tidak mungkin menanam apa pun di pasir," katanya.

"Mereka bilang tanahnya berpasir dan suhunya terlalu tinggi. Saya ingin melakukan sesuatu yang akan mengejutkan semua orang."

Om tinggal di Timur Tengah, yang memanas lebih cepat daripada sebagian besar dunia.

Kuwait sedang menuju suhu yang tak tertahankan - biasanya lebih panas dari 50C. Beberapa prediksi menunjukkan suhu rata-rata akan naik 4C pada tahun 2050, padahal ekonomi Kuwait didominasi oleh ekspor bahan bakar fosil.

Dua lahan yang ditanam Om adalah langkah sederhana tetapi memiliki tujuan.

"Pohon menangkis debu, menghilangkan polusi, membersihkan udara, dan menurunkan suhu," katanya.

Landak dan kadal berekor berduri sekarang mengunjungi tempat tersebut. "Ada air tawar dan naungan. Ini hal yang indah."

Beberapa warga Kuwait sekarang menyerukan agar sabuk hijau (pepohonan) skala besar ditanam oleh pemerintah.

Harapan adalah Kuwait siap untuk melawan krisis iklim. Om mengatakan, mereka harus melindungi tanah dan tidak membiarkannya mengering.

"Panas ini tidak normal," tutup Om.

"Ini adalah tanah nenek moyang kami. Kami harus mengembalikannya, karena itu telah memberi banyak kepada kami."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

El Nino Menguat di Tengah Krisis Iklim, Apa Dampaknya bagi Dunia?

El Nino Menguat di Tengah Krisis Iklim, Apa Dampaknya bagi Dunia?

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:55 WIB

Hutan Bakau Dunia Tambah 2.000 kilometer Persegi Sejak 2010, Mampukah Kurangi Ancaman Krisis Iklim?

Hutan Bakau Dunia Tambah 2.000 kilometer Persegi Sejak 2010, Mampukah Kurangi Ancaman Krisis Iklim?

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:57 WIB

Perubahan Iklim Tak Hanya Soal Teknologi, Mengapan Pengaruh Sosial Juga Berperan Penting?

Perubahan Iklim Tak Hanya Soal Teknologi, Mengapan Pengaruh Sosial Juga Berperan Penting?

Lifestyle | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:55 WIB

BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Sumsel Terjadi Agustus-September

BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Sumsel Terjadi Agustus-September

Foto | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 10:00 WIB

Sawah Terendam Rob Disulap Jadi Wisata Kano, Begini Penampakannya

Sawah Terendam Rob Disulap Jadi Wisata Kano, Begini Penampakannya

Foto | Kamis, 06 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Kekeringan Melanda Boyolali, Warga Rela Cari Air di Dasar Sungai

Kekeringan Melanda Boyolali, Warga Rela Cari Air di Dasar Sungai

Foto | Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:00 WIB

Generasi Muda Disebut Jadi Kunci Hadapi Tantangan Perubahan Iklim hingga Ketahanan Pangan

Generasi Muda Disebut Jadi Kunci Hadapi Tantangan Perubahan Iklim hingga Ketahanan Pangan

Lifestyle | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:17 WIB

Bisakah Laut Serap Lebih Banyak Karbon? Ilmuwan Uji Cara Baru Hadapi Perubahan Iklim

Bisakah Laut Serap Lebih Banyak Karbon? Ilmuwan Uji Cara Baru Hadapi Perubahan Iklim

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 13:30 WIB

Mural Lingkungan Warnai Tanggul Pantai Tambaklorok Semarang

Mural Lingkungan Warnai Tanggul Pantai Tambaklorok Semarang

Foto | Jum'at, 24 Juli 2026 | 10:00 WIB

Situ Ciburuy Mulai Mengering, Daratan Muncul di Tengah Danau

Situ Ciburuy Mulai Mengering, Daratan Muncul di Tengah Danau

Foto | Kamis, 23 Juli 2026 | 06:00 WIB

Terkini

The First Responders Season 2 dan Pertarungan Otak Melawan Dalang Kejahatan

The First Responders Season 2 dan Pertarungan Otak Melawan Dalang Kejahatan

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:00 WIB

12 Hari Hilang, Perempuan di Tasikmalaya Ditemukan Tewas dalam Sumur Berisi Kobra Jawa

12 Hari Hilang, Perempuan di Tasikmalaya Ditemukan Tewas dalam Sumur Berisi Kobra Jawa

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:58 WIB

BRI Perkuat Ekosistem UMKM Desa Brilian Hargobinangun Sleman

BRI Perkuat Ekosistem UMKM Desa Brilian Hargobinangun Sleman

Jawa Tengah | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:57 WIB

Dorong UMKM Tumbuh Berkelanjutan, BRI Peduli Perkuat Ekonomi Lokal Desa Brilian Hargobinangun

Dorong UMKM Tumbuh Berkelanjutan, BRI Peduli Perkuat Ekonomi Lokal Desa Brilian Hargobinangun

Jatim | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:57 WIB

Revisi Buku Ajar atau Nasib Guru, Mana Prioritas Pendidikan Nasional?

Revisi Buku Ajar atau Nasib Guru, Mana Prioritas Pendidikan Nasional?

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:55 WIB

Megawati Geram Disebut Oposisi: Buzzer Itu Goblok, Nggak Pernah Baca!

Megawati Geram Disebut Oposisi: Buzzer Itu Goblok, Nggak Pernah Baca!

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:53 WIB

BRI Peduli Dampingi UMKM Desa Brilian Hargobinangun agar Makin Berdaya dan Naik Kelas

BRI Peduli Dampingi UMKM Desa Brilian Hargobinangun agar Makin Berdaya dan Naik Kelas

Bekaci | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:52 WIB

4 Serum Salicylic Acid Mengandung Centella Asiatica untuk Jerawat dan Bruntusan

4 Serum Salicylic Acid Mengandung Centella Asiatica untuk Jerawat dan Bruntusan

Lifestyle | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:51 WIB

BRI x REI Expo Banjarmasin Resmi Digelar, Tawarkan Bunga KPR Mulai 1,75 Persen

BRI x REI Expo Banjarmasin Resmi Digelar, Tawarkan Bunga KPR Mulai 1,75 Persen

Bri | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:50 WIB

Strategi BRI Melejitkan Potensi Ekonomi Lokal Lewat UMKM Desa

Strategi BRI Melejitkan Potensi Ekonomi Lokal Lewat UMKM Desa

Kaltim | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:49 WIB

×