El Nino Menguat di Tengah Krisis Iklim, Apa Dampaknya bagi Dunia?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:55 WIB
El Nino Menguat di Tengah Krisis Iklim, Apa Dampaknya bagi Dunia?
Ilustrasi Fenomena El Nino (Suara.com/Fery Bangkit)

Suara.com - Fenomena El Niño kembali menguat ketika dunia masih menghadapi dampak perubahan iklim. Kombinasi keduanya dikhawatirkan membuat suhu semakin panas dan meningkatkan risiko cuaca ekstrem di berbagai wilayah.

El Niño merupakan fenomena iklim yang ditandai oleh meningkatnya suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik di atas kondisi normal.

Pemanasan tersebut kemudian dapat mengubah pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di berbagai belahan dunia. Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Pasifik, tetapi dapat memengaruhi pola cuaca secara global.

Dalam kondisi perubahan iklim, dampak El Niño dapat menjadi lebih berat. Laut dan atmosfer yang semakin hangat menyimpan lebih banyak energi dan uap air, sehingga kondisi ekstrem seperti gelombang panas, hujan lebat, dan kekeringan berpotensi menjadi lebih sering atau intens.

"Kita sudah melewati musim panas yang ekstrem, ribuan nyawa melayang dalam kondisi yang sangat panas," kata Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres, dikutip dari Phys.org, Senin (3/8).

Menurut Guterres, El Niño kali ini diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk situasi Bumi yang sebelumnya telah terdampak perubahan iklim.

Ia menggambarkan El Niño seperti menambahkan bahan bakar ke api yang sudah menyala.

"Dua bulan lalu, saya memperingatkan bahwa El Niño akan segera tiba. Tapi, sekarang fenomena itu sudah terjadi dan terus menguat," ujarnya.

Suhu laut semakin panas
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan suhu permukaan laut saat ini berada sekitar tiga derajat Celsius di atas kondisi normal.

baca juga

Semakin hangat suhu laut, semakin besar energi yang tersedia untuk memengaruhi pola cuaca dan memperkuat dampak El Niño di berbagai wilayah.

WMO juga memproyeksikan bahwa hingga Oktober, hampir seluruh wilayah daratan di dunia akan mengalami suhu yang lebih tinggi dari biasanya.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gelombang panas dan kekeringan di sejumlah wilayah. Di tempat lain, cuaca yang lebih panas dan atmosfer yang menyimpan lebih banyak uap air dapat meningkatkan risiko hujan ekstrem dan banjir.

"Jika digabungkan, hal itu berisiko memecahkan setiap rekor musiman dan memicu dampak yang lebih parah di seluruh dunia," kata Guterres.

Dampak El Niño juga tidak selalu berupa kenaikan suhu.

Di India, misalnya, curah hujan tercatat jauh di bawah rata-rata. Sementara kondisi yang lebih panas dan kering diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Amerika Tengah dan Karibia, sebagian Amerika Selatan, Asia Selatan, Pasifik Barat Daya, Eropa, hingga Afrika.

Artinya, satu fenomena iklim dapat menghasilkan dampak yang berbeda-beda, tergantung kondisi wilayah yang mengalaminya.

PBB minta negara bersiap
Melihat risiko tersebut, Guterres meminta negara-negara mengambil langkah untuk melindungi masyarakat dari dampak cuaca ekstrem.

Langkah pertama adalah memperkuat perlindungan terhadap gelombang panas. Pemerintah di tingkat kota maupun nasional didorong memiliki rencana menghadapi suhu ekstrem, termasuk sistem peringatan dini dan akses yang lebih luas terhadap teknologi pendinginan yang ramah lingkungan.

Kedua, pemerintah perlu menetapkan standar keselamatan kerja ketika suhu udara sangat tinggi.

Langkah ini terutama penting bagi pekerja yang menghabiskan banyak waktu di luar ruangan. Paparan panas ekstrem dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan mereka.

Ketiga, perlindungan terhadap panas ekstrem perlu menjadi bagian dari perencanaan pembangunan.

Menurut Guterres, hal itu dapat dimulai dari desain kota, perumahan, sekolah, hingga rumah sakit. Perlindungan dari panas juga perlu dimasukkan ke dalam kebijakan dan anggaran pemerintah.

Namun, langkah-langkah adaptasi tersebut hanya dapat mengurangi dampak yang sudah terjadi.

Guterres menilai dunia tetap harus mengatasi penyebab utama perubahan iklim, yakni penggunaan bahan bakar fosil.

Menurut dia, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil jauh lebih penting daripada hanya merespons bencana setelah terjadi.

Pasalnya, gelombang panas, kekeringan, hujan ekstrem, dan berbagai kejadian cuaca lainnya tidak berdiri sendiri. Frekuensi dan intensitasnya semakin berkaitan dengan krisis iklim yang lebih luas.

"Melihat kondisi tersebut, kesimpulannya sudah jelas sendiri. Krisis iklim sudah mencapai puncaknya," kata Guterres.

Ia pun kembali menyerukan tindakan untuk mengurangi pemanasan global.

"Dunia harus berhenti memperburuk krisis," ujarnya.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menhut Raja Juli: Indonesia Masuk Fase El Nino Godzilla, Mirip 2015

Menhut Raja Juli: Indonesia Masuk Fase El Nino Godzilla, Mirip 2015

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 14:04 WIB

Korban Tewas Gempa Kolombia Tembus 180 Jiwa, 200 Orang Hilang dan Korban Luka 2.600 Pasien

Korban Tewas Gempa Kolombia Tembus 180 Jiwa, 200 Orang Hilang dan Korban Luka 2.600 Pasien

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:07 WIB

El Nino Diprediksi Menguat, Bagaimana BMKG Antisipasi Kekeringan dan Karhutla?

El Nino Diprediksi Menguat, Bagaimana BMKG Antisipasi Kekeringan dan Karhutla?

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:47 WIB

Terkini

65 Kasus Flu Babi H1N1 Terdeteksi di Bandung

65 Kasus Flu Babi H1N1 Terdeteksi di Bandung

Jabar | Sabtu, 26 September 2026 | 22:14 WIB

Menikmati Sejuknya Jogja dengan Nuansa Jepang di Onsen Resort Kaliurang

Menikmati Sejuknya Jogja dengan Nuansa Jepang di Onsen Resort Kaliurang

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 21:59 WIB

Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya

Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya

Lifestyle | Sabtu, 26 September 2026 | 21:25 WIB

Isuzu Andalkan Kualitas dan Layanan Purnajual untuk Hadapi Gempuran Merek China

Isuzu Andalkan Kualitas dan Layanan Purnajual untuk Hadapi Gempuran Merek China

Otomotif | Sabtu, 26 September 2026 | 20:54 WIB

Sinopsis 100 Days of Deception: Misi Rahasia di Era Penjajahan Jepang

Sinopsis 100 Days of Deception: Misi Rahasia di Era Penjajahan Jepang

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:40 WIB

Buntut Temuan Sel Mewah, Kalapas Cibinong dan 4 Pejabat Resmi Dicopot

Buntut Temuan Sel Mewah, Kalapas Cibinong dan 4 Pejabat Resmi Dicopot

Bogor | Sabtu, 26 September 2026 | 20:18 WIB

Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai

Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:15 WIB

Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi

Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:10 WIB

Resmi di Indonesia! Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai Jumbo 10.000 mAh

Resmi di Indonesia! Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai Jumbo 10.000 mAh

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:00 WIB

4 Pore Tightening Toner Atasi Tekstur Kasar dan Bruntusan Kulit Berminyak

4 Pore Tightening Toner Atasi Tekstur Kasar dan Bruntusan Kulit Berminyak

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 19:35 WIB

×