Warga Asal Indonesia Usia di Atas 60 Tahun yang Masih Bekerja di Australia

Siswanto, ABC

Senin, 13 Desember 2021 | 12:35 WIB
Warga Asal Indonesia Usia di Atas 60 Tahun yang Masih Bekerja di Australia
Ilustrasi petani muda. [Ema Rohimah / SuaraJogja.id]

Suara.com - Tak ada ketentuan kapan warga di Australia bisa berhenti bekerja, meski yang diatur adalah kapan mereka bisa mulai mengakses uang pensiun.

Mulai 1 Juli tahun ini, uangpensiun bisa dimulai diambil saat usia 66 tahun dan 6 bulan, asalkan mereka lahir antara 1 Juli 1955 hingga 31 Desember 1956.

Sementara mereka yang lahir setelah 1 Januari 1957, mereka harus menunggu hingga berusia 67 tahun untuk mendapat uang pensiun, menurut situs Departemen Layanan Sosial Australia.

Dengan tak ada ketentuan usia untuk berhenti kerja,warga Australia bisa terusmelakukannya, asalkan mereka masih mampu dan ingin melakukannya. Bahkanada banyak di antara mereka yang malah menemukan karir kedua.

Seperti Angele Setyana, yang tinggal di Melbourne dan baru saja merayakan ulang tahun ke-70 bulan November lalu. Hingga sekarang ia masih bekerja di bagian "quality control" di Australia Post.

"Di tempat kerja saya ini saya sudah bekerja selama 13 tahun dan sebelumnya dalam jenis pekerjaan yang hampir sama di sebuah perusahaan percetakan saya bekerja selama 10 tahun," kata Angele kepada wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya.

"Pekerjaan saya banyak berhubungan dengan produksi barang-barang pos seperti perangko, koin jadi saya bekerja di bagian untuk mengawasi produksi barang-barang tersebut mengecek apakah ada kesalahan atau tidak dalam produksi dan juga pengiriman," katanya.

Angele yang memiliki empat orang anak dandua cucu mengakumasih menikmati pekerjaannya dan belum memutuskan kapan akan betul-betul berhenti bekerja.

"Sampai saat inimasih senang kerja, yadinikmati dulu.Di tempat saya bekerja ada teman yang sudah berusia 73 tahun," ujarnya yang pertama kali tiba di Australia pada tahun 1983.

baca juga

"

"Mungkin dua tahun lagi saya akan memutuskan apakah akan berhenti. Asal badan sehat dan suasana kerja juga cukup menyenangkan, teman bisa diajak bekerja sama," katanya lagi.

"

Ketika tiba di Australia mengikuti suaminya Oska Setyana yang bekerja di Radio Australia, Angele meninggalkan kariernya di Indonesia sebagai guru sekolah taman kanak-kanak.

"Di Australia pada awalnya saya hanya menjadi ibu rumah tangga karena anak-anak masih kecil," kata Angele, yang baru mulai bekerja lagi di Australia setelah berusia 45 tahun.

Walau masih bekerja 'full time' di usianya saat ini, Angele mengaku keluarga masih menjadi perhatian utamanya.

"Keluarga masih nomor satu, kalau keluarga membutuhkan saya, saya selalu berusaha melakukan."

"Beruntung bos di kantor saya cukup mengerti dan selalu memberikan izin bila ada keperluan untuk keluarga," katanya.

Salah satu kesibukan Angele di luar pekerjaannyaadalah membantu menjaga dua orang cucunya.

"Setiap dua minggu sekali saya punya satu hari libur tambahan hari Senin, tugas saya adalah menjaga cucu hari itu," katanya.

Mencari keseimbangan hidup

Freenyan Liwang yang lahir di Makassar saat ini berusia 60 tahun lebih dan tinggal di Sydney. Ia sempatpensiun dari pekerjaannya sebagai salah seorang direktur di sebuah bank swasta di Indonesia.

"Saya pensiun dari bank tersebut di tahun 2017 di usia 56 tahun, saya sebenarnya masih ditawari untuk menjadi komisaris namun saya memutuskan untuk berhenti sepenuhnya," katanya kepada ABC Indonesia.

Ia kemudian menetap di Sydney karena istrinya dan kedua anak perempuannya sudah tinggal lebih lama di Sydney, tapi Freenyantidak ingin tanpa melakukan kegiatan sama sekali.

"Saya memiliki beberapa usaha di antaranya berkenaan dengan perusahaan pembuatan pakaian, juga ada kerja sama untuk mengekspor ikan salmon dan tuna dari Australia ke Indonesia untuk kemudian diproses kembali dan juga bisnis pembayaran digital," ujarnya yang juga pernah bekerja di China selama belasan tahun.

"Semua yang saya lakukan sekarang setelah pensiun memang masih ada hubungan dengan apa yang pernah saya sebelumnya di bidang perbankan, perdagangan internasional, dan produksi pakaian, semua yang pernah saya lakukan selama 30 tahun sebelumnya," katanya lagi.

Tapi sekarang Freenyan mengatakan ia memilih lebih mengutamakan keseimbangan hidup di tengah kesibukannya.

Selain bekerja dalam beberapa proyek bisnisnya, Freenyan secara teratur sering melakukan kegiatan bersepeda dan berjalan kaki ke hutan-hutan di sekitar Sydney.

"Bisnis yang saya lakukan adalah untuk mencari kegiatan supaya tetap sibuk, supaya otak kita tetap jalan, agar otak tidak jadi bodoh," katanya.

"Namun kesibukan itu juga jangan membuat kita stres. Kita harus menemukan keseimbangan hidup antara bekerja dan juga menikmati hidup," katanya.

Freenyan mengaku ia lebihmenikmati apa yang dilakukannya di Australia, sangat berbeda dengan yang pernah ia rasakan saat tinggal di Jakarta, meski lebih banyak fasilitas.

"Di Indonesia kita bisa hidup seperti raja, sopir ada, di rumah ada pembantu, pada dasarnya kita tinggal makan saja."

"Juga kalau ada proyek ada begitu banyak orang yang terlibat.

"Di Australia, walau saya seorang direktur apa-apa harus saya kerjakan sendiri, harus masak sendiri.

"

"Namun saya suka melakukannya, saya tidak mengeluh. Kalaupergi ke hutan, kita bisa menikmati suara burung, menikmati alam ke daerah yang tidak jauh dari kota." katanya lagi.

"

'Saya merasa berguna'

Tahun lalu, Widianti Oh berhenti dari pekerjaan 'full time'-nyasebagai tenaga pendidik anak-anak balita di sebuah pusat penitipan dan perawatan anak-anak atau 'childcare'di Melbourne.

Tapi saat ini masih bekerja dengan status 'casual', sekitar 2 atau 3 hari seminggu tergantung permintaan dan kebutuhan dari tempat kerjanya.

Widianti yang lahir di Jakarta 67 tahun lalumengatakan masih membuka diri untuk terus aktif selama beberapa tahun lagi.

"Kartu [izin] untuk bekerja dengan anak-anak berakhir bulan Mei tahun 2023, jadi nanti saya lihat apakah saya masih mau bekerja. Kalau iya, saya bisa perpanjang [kartu izin] lima tahun lagi," kata Wi, panggilan akrabnya.

Tiba di Australia lewat Singapura di tahun 1970 untuk belajar dan mendapatkan diploma bisnis, Widianti pada awalnya tidaklah pernah bekerja di bidang bisnis.

"Setelah berkeluarga, saya tidak bisa memilih antara kerja dan keluarga. Pada awalnya saya mengasuh tiga anak sendiri dan juga anak-anak saudara lain," ujarnya, mengenai perkenalannya dengan tempat penitipan anak.

Setelah pernah tinggal di Adelaide dan Shanghai, China, ia mengikuti suaminya yang bekerja di Melbourne pada tahun 1999.

Ia pernah juga menjadi relawan, sebagaipengemudi untuk warga lanjut usia membantu mereka pergibelanja, ke dokter, atau kebutuhan lainnya.

"Saya tidak pernah mencari pekerjaan di childcare , kebetulan di tempat childcareada teman yang menawarkan saya untuk bekerja," katanya lagi.

Pada awalnya siapa saja boleh bekerja dengananak-anak,namun peraturan kemudian diubah dengan syaratpekerja 'child care' harusmemiliki Sertifikat III di bidang pengasuhan anak-anak,yang bisa didapatkan dalam waktu antara 6 bulan sampai 1 tahun di sekolah kejuruan.

Di tahun 2019, saat itu usianya 56 tahun, Widianti belajar lagi untuk mendapatkan Sertifikat IVdan bekerja penuh waktu sampaimemutuskan berhenti di akhir tahun 2020.

"Alasan saya untuk pensiun adalah karena anak saya dan keluarganya pindah kembali ke Melbourne dari Shanghai, jadi saya ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan mereka."

"Namunsaya masih sehat dan pergi kerja di tempat yang saya sukai juga memang menyenangkan," kata Wi, yang sudah hidup dengan diabetes selama 30 tahun.

"

"Saya bekerja karena membuat saya merasa berguna. Mungkin dua tahun lagi kalau saya merasa berbeda, saya akan berhenti."

"

Kerja di rumah sakit sambil jadi penyanyi

Ani Rajakgukguk, usia 65 tahun, masih aktif bekerja penuh waktu di bagian administrasi untuksebuah klinik yang menanganipenyakit pernapasan di rumah sakit Prince of Wales di Sydney.

Tiba di Australia di tahun 1980, Ani lulusan seni musik dari Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta, pernah mengajar musik selama beberapa tahun di awal karirnya di Australia, termasuk aktif dalam kegiatan seni bersama komunitas Indonesia.

"Waktu itu anak-anak masih kecil jadi saya baru mulai kerja di tahun 1989 awalnya masih paruh waktu, baru di tahun 2000 bekerja penuh waktu di rumah sakit," kata Ani kepada ABC Indonesia.

Karena tidak adanya keharusan untuk pensiun di usia tertentu di Australia, Ani mengatakan sampai sekarang belum memikirkan untuk berhenti bekerja di rumah sakit.

Ia juga mengatakan sumber pendapatannya juga membantukegiatannya bermusik baik secara profesional atau bersama komunitas Indonesia.

Ani pernah menjadi penyanyi profesional yang rutin manggung diberbagai klub di Sydney selama delapantahun.

"Sebagai seniman menyanyi di klub atau diundang untuk tampil di acara, kepuasannya lebih besar."

"Saya kanmemiliki latar belakang musik dari Indonesia, saya bisa main keyboard."

"Namun dalam waktu bersamaan, kerja di rumah sakit kan permanen, jadi sayang juga kalau ditinggalkan," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Luke Vickery: 2024 Main di GBT Bela Australia, 2026 Cetak Assist di GBK Bersama Timnas Indonesia

Luke Vickery: 2024 Main di GBT Bela Australia, 2026 Cetak Assist di GBK Bersama Timnas Indonesia

Bola | Jum'at, 25 September 2026 | 20:54 WIB

Agen OpenAI Retas Situs Pemerintah, Bobol Data Kesehatan Publik Australia

Agen OpenAI Retas Situs Pemerintah, Bobol Data Kesehatan Publik Australia

News | Kamis, 24 September 2026 | 08:12 WIB

Warga Australia Habisi 2 Anak Kandung dengan Sadis di Bali, Lalu Bunuh Diri

Warga Australia Habisi 2 Anak Kandung dengan Sadis di Bali, Lalu Bunuh Diri

News | Selasa, 15 September 2026 | 16:16 WIB

Hubungan Seks di Halaman Rumah Warga! WNA Australia Dilarang ke Indonesia 10 Tahun

Hubungan Seks di Halaman Rumah Warga! WNA Australia Dilarang ke Indonesia 10 Tahun

News | Rabu, 09 September 2026 | 15:10 WIB

Warga Australia Diblokir Masuk Bali Selama 10 Tahun karena Kasus Asusila

Warga Australia Diblokir Masuk Bali Selama 10 Tahun karena Kasus Asusila

News | Rabu, 09 September 2026 | 14:29 WIB

Tampang Pria Australia Pembunuh Ibu Dua Orang Anak Asal Indonesia di Melbourne

Tampang Pria Australia Pembunuh Ibu Dua Orang Anak Asal Indonesia di Melbourne

News | Selasa, 08 September 2026 | 16:23 WIB

Australia Tersingkir, Kreator yang Nyinyir Timnas Indonesia U-20 Jadi Sasaran Netizen

Australia Tersingkir, Kreator yang Nyinyir Timnas Indonesia U-20 Jadi Sasaran Netizen

Bola | Selasa, 08 September 2026 | 14:57 WIB

Dibuat Malu Timnas Indonesia U-20, PSSI-nya Australia Ngamuk: Kami Di Bawah Standar

Dibuat Malu Timnas Indonesia U-20, PSSI-nya Australia Ngamuk: Kami Di Bawah Standar

Bola | Selasa, 08 September 2026 | 12:53 WIB

Anak Krakatau dan Lewotobi Erupsi, Pemerintah Australia Ungkap Bahaya Lain yang Mengintai Turis

Anak Krakatau dan Lewotobi Erupsi, Pemerintah Australia Ungkap Bahaya Lain yang Mengintai Turis

News | Senin, 07 September 2026 | 14:23 WIB

Sedang Berlangsung! Link Streaming Timnas Indonesia U-20 vs Australia: Garuda Muda Unggul 1-0

Sedang Berlangsung! Link Streaming Timnas Indonesia U-20 vs Australia: Garuda Muda Unggul 1-0

Bola | Minggu, 06 September 2026 | 17:02 WIB

Terkini

Review 'dejavu' Olivia Rodrigo: Sindiran Telak Buat Mantan yang Minim Ide

Review 'dejavu' Olivia Rodrigo: Sindiran Telak Buat Mantan yang Minim Ide

Your Say | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 11:30 WIB

Bermodal Pengalaman Parlemen dan Partai, Ini Janji Bamsoet Usai Dilantik Jadi Wantimpres

Bermodal Pengalaman Parlemen dan Partai, Ini Janji Bamsoet Usai Dilantik Jadi Wantimpres

News | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 11:28 WIB

Dilema Segelas Latte: Apakah Hidup Sehat Berarti Harus Mengorbankan Kebahagiaan Kecil?

Dilema Segelas Latte: Apakah Hidup Sehat Berarti Harus Mengorbankan Kebahagiaan Kecil?

Your Say | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 11:22 WIB

Harga HP Infinix Terbaru Oktober 2026: Pilihan Lengkap dari Entry-Level hingga Flagship

Harga HP Infinix Terbaru Oktober 2026: Pilihan Lengkap dari Entry-Level hingga Flagship

Tekno | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 11:14 WIB

Jadwal MotoGP Jepang 2026: Apakah Ducati Siap Hadapi Ancaman Aprilia?

Jadwal MotoGP Jepang 2026: Apakah Ducati Siap Hadapi Ancaman Aprilia?

Your Say | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 11:11 WIB

Kobarkan Semangat Merah Putih, BRI Dukung Perjuangan Atlet Indonesia di Asian Games 2026

Kobarkan Semangat Merah Putih, BRI Dukung Perjuangan Atlet Indonesia di Asian Games 2026

Surakarta | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 11:11 WIB

BRI Dukung Kontingen Indonesia di Asian Games AichiNagoya 2026, Kobarkan Semangat Merah Putih

BRI Dukung Kontingen Indonesia di Asian Games AichiNagoya 2026, Kobarkan Semangat Merah Putih

Jogja | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 11:08 WIB

Urutan Zodiak Paling Romantis dan Jago Memberikan Kejutan Manis

Urutan Zodiak Paling Romantis dan Jago Memberikan Kejutan Manis

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 11:07 WIB

Dukung MotoGP Mandalika 2026, BRI Dorong Perputaran Ekonomi hingga UMKM Lokal

Dukung MotoGP Mandalika 2026, BRI Dorong Perputaran Ekonomi hingga UMKM Lokal

Jawa Tengah | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 11:04 WIB

Rombakan Besar di Tubuh Polri: Kapolri Suyudi Rotasi Kabareskrim, Kabarhakam, hingga Kadensus 88

Rombakan Besar di Tubuh Polri: Kapolri Suyudi Rotasi Kabareskrim, Kabarhakam, hingga Kadensus 88

News | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 11:00 WIB

×