facebook
abcaustralia

Penerbangan dari Bali Diwaspadai Bawa PMK Sapi ke Australia

Siswanto | ABC
Penerbangan dari Bali Diwaspadai Bawa PMK Sapi ke Australia
Ilustrasi Pesawat Terbang. (Pixabay.com)

Wisatawan yang kembali dari Bali memiliki risiko tinggi membawa penyakit hewan tanpa sengaja ke Australia yang berpotensi menghancurkan industri peternakan di negara ini.

Suara.com - Wisatawan yang kembali dari Bali memiliki risiko tinggi membawa penyakit hewan tanpa sengaja ke Australia yang berpotensi menghancurkan industri peternakan di negara ini.

Indonesia kini sedang menghadapi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak sapi, domba, babi, dan kambing.

Ribuan ternak diyakini telah terinfeksi di Jawa Timur dan Aceh, tapi wabah PMK - salah satu penyakit terburuk yang menyerang hewan diperkirakan telah menyebar ke berbagai wilayah lainnya.

Wabah merebak selama musim libur Lebaran, yang ditandai dengan mobilitas penduduk yang sangat tinggi ke berbagai daerah.

Baca Juga: Deteksi Penyakit Mulut dan Kuku Pada Hewan di Jateng, Ganjar Bentuk Tim Unit Reaksi Cepat

Seorang dokter hewan asal Australia yang kini bermukim di Bali, Dr Ross Ainsworth, memperingatkan wabah PMK bisa saja masuk ke Pulau Dewata.

"Pada hari libur nasional, minggu lalu, banyak orang dari Surabaya dan bagian Jawa lainnya yang mengendarai mobil sendiri ke sini," ujarnya kepada ABC.

"Jadi, cukup mengkhawatirkan karena penyakit PMK ini bisa segera masuk ke Bali," katanya.

Dr Ainsworth mengatakan jika PMK ditemukan di Bali, risiko turis Australia bertemu hewan yang terinfeksi sangat tinggi.

"Wisatawan akan sangat mudah menjumpai sapi dan berpotensi tertular hanya dengan berkunjung di kawasan wisata," katanya.

Baca Juga: PP Muhammadiyah: Masalah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Bukan Masalah Sederhana

"Jika kemudian mereka pulang dengan membawa material yang terinfeksi, katakanlah air liur ternak di sepatu mereka, maka mereka tanpa sengaja akan membawa penyakit ini masuk ke Australia. Cukup menakutkan," papar Dr Ainsworth.

Potensi kerugian Rp1kuadriliun

Menurut orgnisasi peternak Cattle Council, wabah PMK di Australia dapat merugikan sektor peternakan hingga A$100 miliar (Rp1 kuadriliun).

Dr Ainsworth menyebut penerbangan langsung dari Bali ke Darwin yang dibuka kembali bulan lalu menimbulkan risiko terbesar karena wabah PMK hanya dapat bertahan hidup di luar hewan inang untuk waktu singkat.

Rute Bali-Darwin ditempuh dalam waktusekitar tiga jam.

Sedangkan penerbangan langsung dari Sydney, Melbourne, Darwin, dan Perth ke Denpasar semuanya telah dibuka kembali untuk pertama kalinya sejak pandemi COVID-19.

Analis industri daging Simon Quilty menyatakan jika pariwisata Australia ke Bali bangkit kembali hingga mencapai rata-rata 1,3 juta orang per tahun, risiko turis Australia membawa pulang penyakit PMK semakin besar.

"Kita tidak menginginkan adanya jalan bebas hambatan PMK antara bandara-bandara kita dan Bali," katanya.

'Pabrik virus'

Bali memiliki sekitar 2,5 juta ekor ternak sapi dan 900.000 ekor babi.

Menurut Quilty, ternakbabi yang terinfeksi PMK menjadi perhatian khusus.

"Babi menghasilkan jutaan spora yang pada dasarnya menyebarkan virus dan menjadi pabrik virus," jelasnya.

"Jika hal itu sampai ke Bali dan menyerang populasi babi, maka kita pastikan akan menyebar ke seluruh Bali," kata Quilty.

Wabah PMK sendiri diyakini masuk ke Indonesia melalui kambing yang diselundupkan dari Malaysia.

Indeks Harga Daging yang dirilis Badan Pangan Dunia mencapai rekor tertinggi di bulan April setelah naik 16 persen dalam 12 bulan terakhir.

"Dengan kenaikan seperti itu timbullah keputusasaan," kata Quilty.

"Tidak ada keraguan bahwa ada hewan yang sakit dari negara sekitar sejauh ini sepertinya dari Malaysia yang telah dijual ke pasar (Indonesia) dengan harga diskon. Mereka yang inginmendapatkan protein yang lebih murah," demikian menurut analisa Quilty.

"Saya pikir kita bisa menarik garis tegas antara rekor kenaikan harga pangan global dan terjadinya penyebaran penyakit hewan," jelasnya.

Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News untuk ABC Indonesia.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar