Pasien Anak Diduga Usus Buntu Meninggal, Orang Tuanya Menuntut Jawaban RS

Siswanto, ABC

Senin, 16 Mei 2022 | 15:51 WIB
Pasien Anak Diduga Usus Buntu Meninggal, Orang Tuanya Menuntut Jawaban RS
ilustrasi sakit perut (Pixabay)

Suara.com - Ketika Chandra SekharLankadan Satya Tarapureddi membawa putri mereka Amrita ke Monash's Children Hospital di Melbourne karena menderita sakit perut, mereka tak pernah menduga tragedi yang bakal terjadi 21 jam kemudian.

Amrita Varshini Lanka menderita sakit perut, muntah, dan demam pada 29 April ketika ayahnya membawanya ke dokter umum, yang kemudian merujuk Amrita ke rumah sakit dengan dugaan radang usus buntu.

Setelah dua jam menunggu di ruang UGD (unit gawat darurat), petugas rumah sakit akhirnya melakukan pemindaian pada perut bocah berusia delapan tahun itu.

Staf medis kemudian memberi tahu Satya bahwa apa yang dialami anaknya itu bukan radang usus buntu, dan putrinya kemungkinan menderita gastroenteritis.

Sekitar jam 9 malam, Amrita pun diberi cairan melalui infus tapi menurut orang tuanya, dia "sulit bernafas" tak lama setelah itu.

"Dia bilang,'Mama, saya susah bernafas, susah bernafas'. Saya langsung menekan tombol bantuan tapi tidak ada orang yang datang," katanya.

"Saya pergi ke meja resepsionis dan melaporkan bahwa saya sudah menunggu 20-25 menit, putri saya mengalami sesak napas. Bisakah seseorang melihatnya," ujar Satya.

"Sekitar 15 menit kemudian, mereka datang dan menyampaikan bahwa perut Amitra kosong dia tidak makan selama dua hari jadi itu hal biasa. Katanya tidak perlu khawatir," tambahnya.

Satya menyebut staf rumah sakit menyampaikan bahwa anaknya bisa dipulangkan beberapa jam setelah menerima infus dan diperiksa ulang besok paginya.

baca juga

Pada pukul 3 pagi keesokan harinya, seorang dokter melakukan tes darah sebagai tanggapan atas keluhan tentang pernapasan Amrita. Itu sudahhampir enam jam setelah keluarganya melapor.

Tiga jam kemudian, pukul 6 pagi, Amritadipindahkan ke ruang perawatan singkat, danstaf medis tampaknya menyadari bahwa pasien ini sudah dalam kondisi kritis.

"

Tak lama kemudian Amrita mengalami serangan jantung.

"

Ayahnya Chandra yang telah pulang ke rumah bersama kakak Amrita, Venkata, akhirnya bergegas kembali ke rumah sakit setelah mendengar kabar ini.

"Pada saat saya melihat anakku, jantungnya telahberhenti selama dua menit, tapi mereka berhasil menghidupkan degup jantungnya kembali," ujar Chandra.

"Dia sempat bilang, 'Saya ingin bicara dengan Ayah'," katanya.

"Saya menangis. Dia tak menangis. Hanya menatapku. Saya sampaikan, 'Nak, banyak sekali dokter di sini, kamu akan segera sembuh, mereka sedang berusaha'," ujarnya.

Amrita Lanka meninggal pada pukul 10:17 pada Sabtu pagi, sekitar 21 jam setelah dia tiba di RS Monash's Children Hospital, pada akhir April itu.

Mencari jawaban

Orang tua Amrita menyatakan menyambut baik adanya penyelidikan eksternal atas keadaan yang menyebabkan anaknya mengalami serangan jantung.

"Kami ingin kebenarannya terungkap.Jika itu harus melalui penyelidikan eksternal, silakan saja. Tapi pada akhirnya semua orang yang pergi ke rumah sakit seharusnya merasa aman. Kamiperlutahu apa yang terjadi dalam kasus kami," kata Chandra Lanka.

"

Menurut dia, istrinya sampai lima kali memberi tahu petugas rumah sakit malam itu tentang kesulitan bernapas yang dialami Amrita. Tapi selalu ditepis dan diabaikan.

"

"Istri saya menekan tombol untuk meminta bantuan staf. Stafnya datangtapi mereka mengabaikannya dengan dalih 'mungkin karena perutnya kosong'," katanya.

"Jika saja mereka perhatian pada Amrita dan melakukan sesuatu dari jam 9 malam, mungkin keadaanya berbeda. Kami tidak tahu," tambahnya.

"Mungkin hari ini Amrita bisa duduk di sebelahku," tukas Satya.

"Kami ingin jawaban. Apa yang terjadi dengan Amrita," katanya.

Dalam sebuah pernyataan, Monash Health mengatakan telah menghubungi keluarga tersebut untuk memberikan dukungan dan pihaknya juga akan melakukan penyelidikan.

Menteri Kesehatan Negara Bagian Victoria Martin Foley menegaskan meminta Monash Health menyelesaikan tinjauan klinis lengkap.

"Mereka telah merujuk kasus ini ke Safer Care Victoria dan Koroner Victoria, yang merupakan praktik standar ketika seorang pasien meninggal dalam perawatan," katanya.

Setelah kejadian ini, muncul desakan untuk mempermudah proses bagi pasien yang ingin mendapatkan pendapat kedua (second opinion).

Bercita-cita jadi dokter hewan

Amrita telah dimakamkan akhir pekan lalu. Semasa hidupnya yang singkat itu, dia dikenal sebagai gadis lincah dan cerewet di rumah, tapi pendiam dan pemalu di luar rumah.

Menurut orang tuanya, dia mencintai hewan peliharaan dan bercita-cita menjadi dokter hewan.

Amrita sangat dekat dengan kakaknya, yang kini masih belum sepenuhnya menerima kehilangan adiknya.

"Setelah satu jam dari kematian Amrita, dia tanya saya, 'kapan Amrita akan pulang," kata Chandra Lanka.

"Saat itulah saya menyadari dia tidak mengerti apa itu kematian," katanya.

"Kami dikenal sebagai keluarga bahagia. Tapi sekarang tidak ada lagi kebahagiaan dalam keluarga kami. Kami merasakan kekosongan," tuturnya.

Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC Newsuntuk ABC Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dorong Industri Lokal Naik Kelas, Standar Mutu dan Keberlanjutan Jadi Perhatian

Dorong Industri Lokal Naik Kelas, Standar Mutu dan Keberlanjutan Jadi Perhatian

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 00:40 WIB

Pengamat Tanggapi Harga Saham BYAN Haji Isam

Pengamat Tanggapi Harga Saham BYAN Haji Isam

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 23:17 WIB

Menyusuri Makam Imam Al Bukhari di Uzbekistan, Ada Jejak Bung Karno di Soekarno Hall

Menyusuri Makam Imam Al Bukhari di Uzbekistan, Ada Jejak Bung Karno di Soekarno Hall

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Brace Balsa Sekulic Bawa Persib Hajar Melbourne FC, Maung Bandung Sempurna di ACL Two

Brace Balsa Sekulic Bawa Persib Hajar Melbourne FC, Maung Bandung Sempurna di ACL Two

Bola | Rabu, 28 Oktober 2026 | 22:55 WIB

Dramatis! Timnas Indonesia Singkirkan Moldova 9-8, Garuda Muda Tembus 16 Besar Piala Dunia U-15

Dramatis! Timnas Indonesia Singkirkan Moldova 9-8, Garuda Muda Tembus 16 Besar Piala Dunia U-15

Bola | Rabu, 28 Oktober 2026 | 22:49 WIB

300 Warga Tangerang Ditargetkan Terima Pemeriksaan Mata Gratis dan Bantuan Kacamata

300 Warga Tangerang Ditargetkan Terima Pemeriksaan Mata Gratis dan Bantuan Kacamata

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Demo di Jogja Ricuh: Gerbang DPRD DIY Didobrak, Wisatawan Malioboro Kocar-kacir

Demo di Jogja Ricuh: Gerbang DPRD DIY Didobrak, Wisatawan Malioboro Kocar-kacir

Video | Rabu, 28 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Ribuan Massa Gelar Aksi Indonesia Sadar di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutannya

Ribuan Massa Gelar Aksi Indonesia Sadar di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutannya

Video | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:05 WIB

Bikin Konten hingga Layani Pelanggan, UMKM Masa Kini Mulai Manfaatkan AI

Bikin Konten hingga Layani Pelanggan, UMKM Masa Kini Mulai Manfaatkan AI

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 22:05 WIB

Gerebek Kampung Berlan Matraman, Tim Gabungan Ciduk 8 Orang dan Sita Sabu hingga Ketamin

Gerebek Kampung Berlan Matraman, Tim Gabungan Ciduk 8 Orang dan Sita Sabu hingga Ketamin

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Terkini

Buka Suara Soal Pemeriksaan KPK, Wabup Bogor Jaro Ade: Kita Harus Taat Hukum

Buka Suara Soal Pemeriksaan KPK, Wabup Bogor Jaro Ade: Kita Harus Taat Hukum

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 05:05 WIB

Dihadiri Para Menteri dan Ketua MPR, EIGER Nature Resmi Diluncurkan di Kabupaten Bogor

Dihadiri Para Menteri dan Ketua MPR, EIGER Nature Resmi Diluncurkan di Kabupaten Bogor

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:10 WIB

Dari Cisarua ke Dramaga, Dugaan Keracunan MBG di Bogor Belum Temukan Titik Terang

Dari Cisarua ke Dramaga, Dugaan Keracunan MBG di Bogor Belum Temukan Titik Terang

Bogor | Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:10 WIB

Kronologi Kericuhan Malioboro Usai Demo Sumpah Pemuda, Massa Tak Dikenal Serang Gedung DPRD DIY

Kronologi Kericuhan Malioboro Usai Demo Sumpah Pemuda, Massa Tak Dikenal Serang Gedung DPRD DIY

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:18 WIB

20 Tahun Mengabdi, Irsan Jadi Calon Tunggal Ketua BPC Gapensi Kabupaten Bogor

20 Tahun Mengabdi, Irsan Jadi Calon Tunggal Ketua BPC Gapensi Kabupaten Bogor

Bogor | Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:05 WIB

Dari Serang, Jakarta hingga Sukabumi: Kronologi Polresta Serang Kota Gagalkan Peredaran 8,8 Kg Sabu

Dari Serang, Jakarta hingga Sukabumi: Kronologi Polresta Serang Kota Gagalkan Peredaran 8,8 Kg Sabu

Banten | Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:00 WIB

Persib Kalahkan Melbourne Victory 2-0, Igor Tolic: Grup Belum Usai

Persib Kalahkan Melbourne Victory 2-0, Igor Tolic: Grup Belum Usai

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:35 WIB

Umuh Muchtar Buka Suara Usai Pelaku Pembacokan Bobotoh Ditangkap: Mohon Bobotoh Jangan Dendam

Umuh Muchtar Buka Suara Usai Pelaku Pembacokan Bobotoh Ditangkap: Mohon Bobotoh Jangan Dendam

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:21 WIB

Polda DIY Pastikan Malioboro Dalam Kendali Penuh Usai Kerahkan Water Cannon dan Gas Air Mata

Polda DIY Pastikan Malioboro Dalam Kendali Penuh Usai Kerahkan Water Cannon dan Gas Air Mata

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:14 WIB

Mahasiswa Kemah di Kantor Gubernur Sumsel saat Sumpah Pemuda, Desak Transparansi Anggaran Karhutla

Mahasiswa Kemah di Kantor Gubernur Sumsel saat Sumpah Pemuda, Desak Transparansi Anggaran Karhutla

Sumsel | Rabu, 28 Oktober 2026 | 23:44 WIB

×