Bagaimana Serangan Senjata Membentuk Anak-anak Sekolah Amerika Serikat?

Siswanto, BBC

Minggu, 29 Mei 2022 | 09:47 WIB
Bagaimana Serangan Senjata Membentuk Anak-anak Sekolah Amerika Serikat?
BBC

Suara.com - Penembakan di sekolah Amerika Serikat (AS) secara tak mengenakkan terasa familiar, namun situasinya tak akan pernah kembali seperti semula begitu kehebohan media tentang insiden itu berakhir.

Dalam insiden terbaru, Salvador Ramos, remaja laki-laki berusia 18 tahun, melepaskan tembakan di sebuah sekolah dasar di Texas, menewaskan 19 anak dan dua guru.

Sekolah Dasar Robb mendidik anak-anak berusia antara tujuh dan 10 tahun.

Ramos secara membabi-buta melakukan serangan dengan bersenjata lengkap, beserta pistol, senapan otomatis dan magasin berkapasitas tinggi.

Baca juga:

Remaja itu akhirnya ditembak mati oleh seorang petugas polisi perbatasan yang berada di sekitar lokasi pada saat insiden penembakan terjadi.

Namun, bagaimana aksi kekerasan seperti itu mempengaruhi kehidupan sehari-hari para siswa di sekolah-sekolah AS - juga para guru dan orang tua?

Sekolah layaknya benteng berpenjaga

Pembantaian di sekolah dapat dipahami menuai kecaman publik dan desakan langkah-langkah untuk mengamankan sekolah.

Menyusul insiden di sekolah Robb di Texas, beberapa distrik sekolah mengatakan mereka akan meningkatkan penjagaan polisi di sekolah-sekolah pekan ini.

baca juga

Hal serupa terjadi setelah insiden di sekolah menengah Columbine (1999), Universitas Virginia Tech (2007), sekolah dasar Sandy Hook (2012) dan sekolah menengah Parkland (2018).

Secara keseluruhan, insiden itu mengakibatkan terbunuhnya 88 orang tak bersalah.

"Setiap peristiwa besar telah memicu seruan untuk meningkatkan keamanan di sekolah masing-masing dan untuk mastikan individu di sekolah mereka bahwa anak-anak mereka tidak akan menjadi korban Columbine, Virginia Tech, atau Sandy Hook berikutnya," kata Cheryl Lero Jonson, seorang AS ahli penembakan di sekolah.

Menulis di jurnal Victims & Offenders, Jonson mengatakan bahwa, sebagai akibatnya, detektor logam, mesin X-ray, penjagaan dengan petugas bersenjata, dan staf yang diizinkan membawa senjata ke sekolah telah menjadi "hal yang umum".

Latihan yang 'traumatis'

Sekolah-sekolah AS juga telah terbiasa mempersiapkan diri terhadap aksi pembantaian.

Ini berarti mereka semakin banyak melakukan hal-hal seperti latihan penilaian ancaman, merancang rencana tanggap darurat, dan memiliki tim krisis dan rencana respons penembakan yang selalu dalam status siaga, kata Jonson.

Salah satu kebijakan paling kontroversial adalah active shooter drill (latihan penyelamatan dari serangan senjata), yang sudah dilaksanakan di lebih dari 95% sekolah dasar AS, menurut organisasi Everytown for Gun Safety Support Fund.

Dalam beberapa kasus yang paling intens, "aksi penembakan palsu" itu melibatkan pria bertopeng yang membawa senjata mainan dan siswa yang berperan sebagai korban yang berlumuran darah palsu.

Baca juga:

Dalam laporan tahun 2020, Everytown mengatakan "tidak ada penelitian" untuk mendukung efektivitas latihan semacam itu.

Sementara itu, bukti menunjukkan bahwa latihan ini sebenarnya bisa berbahaya bagi kesehatan mental.

Laporan itu mengutip orang tua yang mengatakan: "Anak TK saya terjebak di kamar mandi, sendirian, selama latihan dan menghabiskan satu tahun dalam terapi untuk gangguan kecemasan ekstrem.

"Bahkan di sekolah baru, dia masih harus menggunakan kamar mandi di ruang perawat karena dia mengalami PTSD (gangguan stres pasca trauma) dari kejadian itu."

Pada tahun 2019, sebuah sekolah di Indiana dikritik karena membuat siswa trauma dan guru "memar" dan "ketakutan" setelah ditembak dengan pistol pelet.

"Banyak latihan itu sebenarnya diperuntukkan bagi orang dewasa - profesional sekolah atau penegak hukum - untuk melihat bagaimana mereka bereaksi dalam situasi sebenarnya," David Schonfeld, dari National Centre for School Crisis and Bereavement, berkata kepada BBC saat itu.

"Anak-anak diminta berpose sebagai korban di lantai dengan berlumuran darah palsu tidak ada gunanya dan bisa menimbulkan trauma."

Dia menambahkan: "Saya prihatin bahwa latihan ini menyiratkan kepada anak-anak bahwa mereka dapat melakukan lebih dari yang mereka - atau siapa pun - sebenarnya mampu lakukan.

"Itu hanya menciptakan lebih banyak trauma bagi para penyintas penembakan."

Di luar gerbang sekolah

Penembakan di sekolah meninggalkan dampak kesehatan mental pada korban, menyebabkan kinerja pendidikan yang lebih buruk dan bahkan berdampak pada wilayah sekolah yang lebih luas, menurut beberapa penelitian.

Anak-anak yang selamat dari insiden penembakan seperti itu cenderung lebih sering absen masuk sekolah, ketimbang anak-anak di sekolah serupa yang tidak memiliki riwayat penembakan, menurut sebuah studi tahun 2021 oleh para ahli di Universitas Washington dan Universitas Pennsylvania.

Siswa-siswa itu juga cenderung putus sekolah dan mencari pekerjaan lebih awal dalam hidup mereka.

Ada juga efek untuk area yang lebih luas - misalnya, para ekonom mengatakan penembakan membawa dampak ekonomi karena banyak keluarga meninggalkan area tersebut.

Baca juga:

Dan sebuah studi oleh Universitas Stanford menemukan bahwa penggunaan antidepresan oleh kaum muda (di bawah 20 tahun) naik 21% di komunitas di mana penembakan di sekolah pernah terjadi.

Maya Rossin-Slater, dari Stanford Institute for Economic Policy Research, mengatakan penembakan massal "terjadi begitu sering sehingga kita tidak peka terhadapnya".

"Mungkin bagi orang-orang yang selamat, mereka kembali ke kehidupan normal karena ini hanyalah kehidupan pada umumnya di Amerika. Tetapi apa yang ditunjukkan oleh penelitian kami, tampaknya tidak demikian.

"Ketika kita berpikir tentang kerugian dari penembakan di sekolah, itu sering diukur dalam hal biaya untuk individu yang meninggal atau terluka, dan keluarga mereka. Namun kenyataannya masih banyak lagi siswa yang terkena dampak penembakan di sekolah yang selamat," ujarnya.

‘Generasi penembakan massal’

Menurut penghitungan yang dilakukan oleh kelompok multi-platform khusus Education Week, ada 27 penembakan di sekolah dengan cedera atau kematian di AS, tahun ini saja.

Sedikitnya 67 orang terluka atau tewas.

Ada 119 penembakan sekolah di mana setidaknya satu orang terbunuh atau terluka sejak 2018, ketika kelompok itu mulai mengumpulkan data.

Jonson mengatakan generasi muda AS saat ini telah mendapatkan label "generasi penembakan massal".

Tapi, kendati memiliki banyak dampak pada kehidupan orang-orang, penembakan belum mampu secara signifikan mempengaruhi opini publik tentang kontrol senjata, dengan politisi dan pendukung Partai Republik masih menyukai opsi kepemilikan senjata.

Ketua DPR dari Partai Demokrat Nancy Pelosi mengatakan pria bersenjata Texas telah "mencuri masa depan anak-anak".

Ia juga mengkritik beberapa anggota Kongres karena dianggap menawarkan "kata-kata kosong setelah penembakan sambil menentang semua upaya untuk menyelamatkan nyawa".

Senator Partai Republik Texas Ted Cruz mengatakan penembakan itu adalah "aksi kejahatan dan pembunuhan massal" tetapi bersikeras kebijakan pengendalian senjata tidak akan mencegah insiden seperti itu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Jalan Merdeka Utara Jadi Lautan Merah, Ribuan Warga Antusias Rayakan HUT ke-81 RI

Jalan Merdeka Utara Jadi Lautan Merah, Ribuan Warga Antusias Rayakan HUT ke-81 RI

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 11:35 WIB

Samsung Galaxy S26 FE Segera Hadir, Bawa Exynos 2500 dan Baterai 4.900 mAh

Samsung Galaxy S26 FE Segera Hadir, Bawa Exynos 2500 dan Baterai 4.900 mAh

Your Say | Senin, 17 Agustus 2026 | 11:35 WIB

Katanya Sudah Merdeka, Tapi Kenapa Ibu Rumah Tangga Sulit Berinvestasi?

Katanya Sudah Merdeka, Tapi Kenapa Ibu Rumah Tangga Sulit Berinvestasi?

Your Say | Senin, 17 Agustus 2026 | 11:30 WIB

5 Shade Cushion untuk Kulit Olive Undertone Indonesia agar Tidak Kelihatan Abu-abu

5 Shade Cushion untuk Kulit Olive Undertone Indonesia agar Tidak Kelihatan Abu-abu

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 11:28 WIB

Dari Yogyakarta, Solo hingga Thailand Nova Arianto Buru Komposisi Terbaik Timnas Indonesia U-20

Dari Yogyakarta, Solo hingga Thailand Nova Arianto Buru Komposisi Terbaik Timnas Indonesia U-20

Bola | Senin, 17 Agustus 2026 | 11:26 WIB

Dolar AS Keok di HUT RI, Rupiah Tembus Level Rp17.796 Pagi Ini

Dolar AS Keok di HUT RI, Rupiah Tembus Level Rp17.796 Pagi Ini

Bisnis | Senin, 17 Agustus 2026 | 11:26 WIB

Siapa Penjahit Bendera Merah Putih? Ini Sosok Perempuan di Balik Berkibarnya Bendera Pusaka

Siapa Penjahit Bendera Merah Putih? Ini Sosok Perempuan di Balik Berkibarnya Bendera Pusaka

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 11:20 WIB

Bertahan Lebih dari 2.000 Tahun, Lukisan Tebing Huashan Ini Diduga Digambar dengan Darah Manusia

Bertahan Lebih dari 2.000 Tahun, Lukisan Tebing Huashan Ini Diduga Digambar dengan Darah Manusia

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 11:15 WIB

Bye Kulit Berminyak dan Kusam! Ini 4 Pelembap Brightening Berlabel Oil Free

Bye Kulit Berminyak dan Kusam! Ini 4 Pelembap Brightening Berlabel Oil Free

Your Say | Senin, 17 Agustus 2026 | 11:15 WIB

Pesona Istri Keenam Soekarno Ratna Sari Dewi Kenakan Kebaya Merah Jambu di Upacara HUT RI

Pesona Istri Keenam Soekarno Ratna Sari Dewi Kenakan Kebaya Merah Jambu di Upacara HUT RI

Entertainment | Senin, 17 Agustus 2026 | 11:14 WIB

×