Bertahan Lebih dari 2.000 Tahun, Lukisan Tebing Huashan Ini Diduga Digambar dengan Darah Manusia

Agung Pratnyawan

Senin, 17 Agustus 2026 | 11:15 WIB
Bertahan Lebih dari 2.000 Tahun, Lukisan Tebing Huashan Ini Diduga Digambar dengan Darah Manusia
Foto Lukisan Batu di Gunung Hua. [Wikipedia Common/ Rolfmueller]
baca 10 detik
  • Lukisan tebing Huashan bertahan dua milenium berkat campuran darah.
  • Studi ungkap pigmen cat kuno mengandung protein darah manusia.
  • Peradaban Luoyue menguasai teknik pencampuran mineral dan bahan organik.

Suara.com - Lukisan tebing kuno di China selatan berhasil bertahan selama lebih dari dua ribu tahun dari terjangan cuaca ekstrem. Bagaimana ini bisa terjadi?

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa rahasia keawetan lukisan purba tersebut berasal dari penggunaan campuran darah manusia dan kapur.

Kawasan seni cadas Huashan membentang sekitar 260 kilometer di sepanjang Sungai Zuojiang, Guangxi, dekat perbatasan China dengan Vietnam.

Situs bersejarah ini telah resmi diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2016 silam.

Bagaimana darah manusia bisa menjaga lukisan ini bertahan ribuan tahun?

Lebih dari delapan puluh situs menampilkan gambar berwarna merah berupa manusia, hewan, perahu, senjata, hingga alat musik tradisional.

Menurut dilaporkan Archaeologymag, karya seni luar biasa ini berasal dari rentang abad kelima Sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi.

Masyarakat Luoyue di wilayah tersebut diyakini secara luas sebagai pencipta warisan seni cadas bernilai tinggi ini.

Catatan sejarah menggambarkan suku Luoyue sebagai masyarakat matrilineal yang mendiami kawasan Sungai Zuojiang pada masa lampau.

baca juga

Kondisi lingkungan sekitar tebing penempatan lukisan terkenal sangat keras dan mengancam keutuhan karya seni.

Wilayah Guangxi mempunyai iklim monsun tropis yang panas, lembap, serta diguyur hujan deras setiap musim panas tiba.

Selain itu, daerah tersebut juga rutin diterjang dua hingga tiga badai topan setiap tahunnya dengan suhu di atas empat puluh derajat Celcius.

Namun, sebagian besar cat merah tersebut tetap bertahan melekat kuat di tebing batu kapur setinggi puluhan meter.

Rahasia Campuran Darah di Balik Ketahanan Lukisan Tebing Huashan

Para ilmuwan melakukan investigasi mendalam untuk memahami metode pembuatan dan alasan di balik keawetan cat tersebut.

Mereka meneliti serpihan material yang jatuh dari tiga situs Huashan tanpa merusak struktur asli di tebing.

Tim peneliti menggunakan berbagai teknologi modern seperti spektroskopi Raman, mikroskopi elektron, analisis inframerah, dan proteomik.

Pengujian tersebut membuktikan bahwa pigmen merahnya berasal dari tanah liat lokal yang kaya akan kandungan nano-hematit.

Analisis kimiawi menunjukkan bahwa pigmen tersebut direkatkan menggunakan mortar khusus berbahan dasar kapur dan darah.

Para peneliti juga menemukan adanya kandungan kalsium fosfat di dalam campuran bahan pengikat cat kuno tersebut.

Penerapan metode pengecatan dilakukan melalui dua tahapan sistematis oleh para perajin zaman dahulu.

Pertama, mereka melapisi tebing dengan adukan kapur tohor, kalsium fosfat, dan darah sebelum menimpanya dengan pigmen tanah liat.

Reaksi kimia antara kapur dan karbon dioksida di udara menghasilkan kalsium karbonat yang sangat kuat.

Protein darah membantu menciptakan struktur mineral padat yang mengunci partikel nano-hematit agar terikat sempurna pada batu kapur.

Temuan uji proteomik turut mengidentifikasi keberadaan protein serum manusia di dalam sampel fragmen cat kuno.

Para peneliti mengemukakan hipotesis bahwa komponen darah tersebut mungkin berasal dari kaum wanita yang baru melahirkan.

Aspek biologis ini sejalan dengan pandangan budaya masyarakat Luoyue yang menjunjung tinggi kesuburan perempuan dalam ritual tradisional.

Oleh karena itu, darah memiliki fungsi teknis sekaligus nilai simbolis yang amat penting dalam pembuatan karya seni.

Studi inovatif yang diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science ini memberikan perspektif baru bagi para sejarawan.

Masyarakat purba ternyata memiliki pengetahuan teknik pencampuran material organik dan mineral yang sangat matang.

Situs Huashan bukan sekadar proyek pengerjaan seni berskala masif di tebing curam. Keberhasilan karya tersebut melintasi zaman membuktikan tingkat kecerdasan peradaban masa lalu dalam menguasai sains material.

Perpaduan elemen budaya dan penguasaan teknik alam membuat karya lukisan tebing ini tetap lestari hingga era modern.

Warisan leluhur ini terus menjadi objek penelitian berharga untuk mengungkap misteri teknologi kuno dunia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

El Nino Ancam Lukisan Gua Berusia 50.000 Tahun: Studi Ungkap Dampak Mengerikan Perubahan Iklim pada Warisan Budaya

El Nino Ancam Lukisan Gua Berusia 50.000 Tahun: Studi Ungkap Dampak Mengerikan Perubahan Iklim pada Warisan Budaya

News | Sabtu, 22 Maret 2025 | 21:33 WIB

Masih Jadi Pertentangan, 'Titik-titik' Lukisan Gua Berusia 20.000 Tahun Tulisan Pertama

Masih Jadi Pertentangan, 'Titik-titik' Lukisan Gua Berusia 20.000 Tahun Tulisan Pertama

Tekno | Senin, 16 Januari 2023 | 08:57 WIB

Terkini

Rendi Apriyanto Dikontrak 6 Bulan Jadi Tentara Bayaran Rusia, 18 September Telepon, 8 Hari Kemudian

Rendi Apriyanto Dikontrak 6 Bulan Jadi Tentara Bayaran Rusia, 18 September Telepon, 8 Hari Kemudian

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:24 WIB

Review Venom: The Last Dance, Penutup Trilogi Antihero yang Sangat Kocak!

Review Venom: The Last Dance, Penutup Trilogi Antihero yang Sangat Kocak!

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:24 WIB

Bahas Self Love! Yuqi i-dle Rangkul Nilai Diri di Lagu Terbaru, I Like You

Bahas Self Love! Yuqi i-dle Rangkul Nilai Diri di Lagu Terbaru, I Like You

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:19 WIB

Tak Bisa Asal Berlayar, Kemenhub Pelototi Keselamatan Kapal

Tak Bisa Asal Berlayar, Kemenhub Pelototi Keselamatan Kapal

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:18 WIB

Bukan Sekadar Tempat Rekreasi, Taman Kota Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental

Bukan Sekadar Tempat Rekreasi, Taman Kota Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental

Health | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:17 WIB

Rupiah Berotot Hingga Akhir Perdagangan ke Level Rp17.882

Rupiah Berotot Hingga Akhir Perdagangan ke Level Rp17.882

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:12 WIB

Berhenti Jadi Budak Produktivitas: Lawan Ekspektasi Semua Harus Selesai Hari Ini dengan Jeda Sejenak

Berhenti Jadi Budak Produktivitas: Lawan Ekspektasi Semua Harus Selesai Hari Ini dengan Jeda Sejenak

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:08 WIB

Berawal dari Teguran Knalpot Bising, 'Bang Jago' di Bekasi yang Geruduk Rumah Warga Ditangkap Polisi

Berawal dari Teguran Knalpot Bising, 'Bang Jago' di Bekasi yang Geruduk Rumah Warga Ditangkap Polisi

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:07 WIB

Dapat Rating di Atas 9, "Warga Rusun 609" Bikin Penonton Ngakak Brutal dan Nonton Dua Kali

Dapat Rating di Atas 9, "Warga Rusun 609" Bikin Penonton Ngakak Brutal dan Nonton Dua Kali

Entertainment | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:04 WIB

Pembangunan Data Center AI Jatiluhur Disetop, IESR Minta Kajian Dampak Dibuka ke Publik

Pembangunan Data Center AI Jatiluhur Disetop, IESR Minta Kajian Dampak Dibuka ke Publik

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:00 WIB

×