Penyewa menghadapi tiga pukulan sekaligus, yaitu harga sewa dan biaya kebutuhan pokok yang meningkat, serta semakin langkanya rumah sewa yang harganya terjangkau.
Dia mengatakan banyak penyewa yang mengaku terpaksa melewatkan makan, tidak lagi mampu membeli obat-obatan, serta menunggak pembayaran tagihan listrik.
RAHU menyatakan penyewa tidak bisa begitu saja pindah ke tempat lain karena kurangnya properti yang terjangkau di perkotaan dan wilayah regional.
"Agen real estate menyebutkan persediaan rumah sewa masih banyak. Tapi masalahnya bukan hanya jumlah yang tersedia, melainkan harga sewanya yang tak terjangkau," ujarnya Eirene.
RAHU mendesak pemerintah negara bagian dan federal untuk mengadopsi peraturan tentang biaya sewa yang berlebihan, batas kenaikan sewa serta sewa yang harus dikaitkan dengan upah minimum.
Utang kian memberatkan
Menurut National Debt Helpline, salah satu konselor keuangan, kini semakin banyak pemintaan konseling dari klien yang kesulitan membayar sewa rumah.
National Debt Helpline sendiri selalu menekankan kepada kliennya bahwa sewa dan makanan harus diprioritaskan di atas semua pengeluaran lainnya.
"Ada hak sebagai klien yang mengalami kesulitan dalam membayar utang atau tagihan listrik," ujar Kirsty Robson, salah seorang konselor.
"Sewa rumah harus menjadi prioritas untuk dibayar," tambahnya.
Kistry mengatakan tekanan finansial dapat membahayakan kesehatan fisik seseorang.
"Hal pertama yang harus dilakukan adalah selalu berusaha memenuhi kebutuhan makanan secara konsisten," katanya.
"Mereka biasanya melewatkan makan demi membayar utang," jelasnya.
Namun, dia mengatakan kekhawatiran soal keuangan juga dapat berimplikasi pada kesehatan mental.
Terpaksa hanya tinggal di rumah
Seorang pensiunan di Kota Adelaide, Elaine (tak bersedia disebutkan nama lengkapnya), mengalami kesulitan ini sehingga harus banyak tinggal di rumah saja.
Wanita berusia 67 tahun itu menjalani kehidupan yang sangat tenang di unit pinggiran kota, tapi bukan karena pilihannya sendiri.
Dia menghabiskan lebih dari setengah uang pensiun untuk sewa unit tersebut. Tekanan kenaikan biaya hidup, katanya, membuatnya tidak punya uang cukup untuk menikmati hidup atau menabung.
"Saya terpaksa hanya tinggal di rumah karena tidak ada lagi yang tersisa untuk dibelanjakan," katanya.
"Kami mendapatkan kenaikan uang pensiun sebesar A$20. Tapi apa yang terjadi? Harga bensin dan makanan juga naik," tuturnya.
Elaine mengaku khawatir karena masa sewa rumahnya berakhir pada Agustus nanti sehingga dia menerima tawaran perumahan sosial.
Biaya sewa di perumahan sosial adalah setengah dari sewa yang dia bayar saat ini.
Dia mengaku senang bila teman-temannya mengajak makan siang di luar, dan dia bisa mengiyakannya karena punya kemampuan untuk membayar makanan.
"Pemerintah harus memahami bahwa krisis perumahan itu nyata. Mereka tampaknya mengabaikannya dan tidak mengeluarkan uang untuk perumahan umum. Berhenti membangun stadion dan mulailah membangun rumah yang terjangkau," tutur Elaine.
Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News.