bbc

Bocah Usia 6 Tahun Selamat Setelah Terkurung 48 Jam di Bawah Reruntuhan

Siswanto | BBC
Bocah Usia 6 Tahun Selamat Setelah Terkurung 48 Jam di Bawah Reruntuhan
BBC

Terkurung sekitar 46 jam di reruntuhan rumah orang tuanya yang ambruk, seorang bocah berusia enam tahun ditemukan dalam kondisi selamat di sebuah desa yang hancur di Cianjur.

Suara.com - Terkurung sekitar 48 jam di reruntuhan rumah orang tuanya yang ambruk, seorang bocah berusia enam tahun ditemukan dalam kondisi selamat di sebuah desa yang luluh lantak akibat gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Azka Maulana Malik, nama bocah itu, selamat karena tidak tertimpa tembok yang runtuh.

Namun ibunya, Eti Suryati, dan neneknya ditemukan meninggal dunia di lokasi yang sama.

Pada Rabu (23/11), Azka berhasil diselamatkan tim evakuasi di dalam reruntuhan rumahnya di Desa Rawa Cina, Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jawa Barat.

Baca Juga: Cerita Ibu Guru Asal Cianjur Yang Terjebak 1,5 Jam di Reruntuhan Sekolah 'Musibah Itu Ujian dari Allah'

"Beri ruangan, beri ruangan kasih jarak, kasih jarak kasih napas pak, oksigen pak," kata tim evakuasi gabungan secara bergantian ketika Azka berhasil dikeluarkan dari puing-puing bangunan.

Tubuh anak berusia enam tahun itu terlihat dipenuhi debu dari reruntuhan. Pakaiannya juga kotor. Namun, tidak terdengar tangisan saat dia dievakuasi.

Baca juga:

"Korban sudah bersama tim medis, belum bisa berbicara, terlihat trauma," kata Jackson Kolibu, relawan Tim Reaksi Cepat Radio Antar Penduduk Indonesia (TRC RAPI), yang mengirimkan video evakuasi Azka kepada BBC News Indonesia, Rabu (23/11).

Paman Azka, Wahyudi, mengatakan kondisi Azka sehat. Bahkan anak kecil itu tidak terluka.

Baca Juga: Kembali Bertambah, Jumlah Korban Jiwa Gempa Cianjur Jadi 271

"Dampak tiga hari tiga malam nggak makan nggak minum, sakit perutnya, katanya. Cuma kalau kondisi badan dalam dan luar, nggak ada luka. Itu dokter bedah yang ngomong tadi," papar Wahyudi kepada wartawan BBC News Indonesia Muhammad Irham, yang berada di lokasi kejadian.

Wahyudi memiliki peran penting dalam proses evakuasi Azka. Dia memang tidak tinggal di Cugenang karena bekerja di Tangerang, tetapi laki-laki berusia 29 tahun itu hafal kebiasaan keluarganya, termasuk keponakannya Azka.

Dia menunjukkan tempat Azka biasanya berada saat di rumah, kepada tim SAR.

"Saya bilang 'depan ini, depan teras, ini tempat warung, terus ini kamarnya, barangkali di sini'. Eh tahunya benar. Pas ditunjuk di situ, memang di situ ada," ujar Wahyudi.

Dia sangat bersyukur menemukan keponakannya ditemukan dalam kondisi hidup, meski anggota keluarga yang lain meninggal dunia.

Azka ditemukan di sebelah neneknya yang juga tertimpa reruntuhan. Namun, neneknya meninggal dunia.

Bibi Azka, Rizma Sari, mengatakan ibu dan kakaknya--yang merupakan nenek dan ibu Azka--meninggal dunia akibat gempa magnitudo 5,6 pada Senin (21/11) lalu.

"Ibu saya nggak ketolong, sudah ketemu tapi dalam keadaan tidak bernyawa, sama kakak saya [juga tidak bernyawa]," kata Rizma.

Ibu Azka, yang merupakan kakak Rizma, ditemukan meninggal dunia sehari sebelumnya, yaitu pada Selasa (22/11).

Meski kala itu Rizma menemukan fakta bahwa kakaknya sudah tiada, dia berharap Azka dan ibunya yang masih hilang bisa ditemukan dengan selamat.

Sampai hari ketiga pascagempa, harapan Rizma masih besar.

"Karena dengar dari tetangga-tetangga, dari teman juga ada, waktu itu ibu katanya ke sawah. Saya berharap semuanya selamat, mengungsi," ujar Rizma.

Namun, harapan Rizma pupus karena ibunya ditemukan tak bernyawa.

Di sisi lain, dia bersyukur karena ayahnya dan keponakannya yang lain, Eza, ditemukan selamat.

"Bapak dan keponakan saya Eza sudah aman, ada di rumah keluarga di Ciranjang," ujar dia.

Syamsul Hadi, 43 tahun, guru agama dan sosok yang dituakan di Kampung Rawa Cina, termasuk orang yang semula meyakini Azka bakal tidak tertolong.

"Karena secara logika, kalau menurut ukuran manusia, sudah tidak mungkin [hidup]," kata Hadi.

Apalagi, jenazah ibunya ditemukan sehari sebelumnya, yaitu Selasa (22/11). Bagi orang kebanyakan, tidak terpikir bahwa Azka bakal selamat.

Tapi, "Azka tertimbun dua hari satu malam, ketemu di hari ketiga, masih hidup. Itulah kekuasaan Allah," ujar Hadi kepada wartawan BBC News Indonesia, Muhammad Irham, di lokasi pengungsian.

Ayah Azka, M.Eka, yang sedang berada di luar kota saat gempa mengguncang, juga semula pasrah akan nasib anaknya itu.

"Dia sudah memperkirakan anaknya meninggal di hari pertama. 'Sudah tidak mungkin kang', katanya kepada saya. Kalimat mustahil sudah keluar dari mulut ayahnya," tutur Hadi.

"Tapi ternyata di hari ketiga, Allah menunjukkan kuasanya," kata guru agama tersebut.

Keberhasilan tim SAR menyelamatkan Azka dari reruntuhan disambut suka cita dan rasa syukur warga desa.

Nama Azka, dan kisah penyelamatannya, kemudian menjadi pemberitaan media massa nasional.

Desa Rawa Cina, yang terletak di Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, pada hari kedua setelah gempa, nyaris belum mendapat perhatian otoritas terkait.

"Desa ini memang terisolir, belum terjangkau. Selasa kemarin masih sepi, tapi sekarang [Rabu] banyak orang datang," kata Jackson Kolibu, relawan Tim Reaksi Cepat Radio Antar Penduduk Indonesia (TRC RAPI).

"Sebelumnya kita kekurangan alat untuk evakuasi, tapi hari ini [Rabu], ada bantuan dari Basarnas, TNI dan Brimob," tandasnya.