Polusi Energi Bakar Batubara, Petaka Bagi Warga

Erick Tanjung | Suara.com

Selasa, 21 Februari 2023 | 16:31 WIB
Polusi Energi Bakar Batubara, Petaka Bagi Warga
Aktivitas PLTU Indramayu yang berada di Desa Mekarsari, Indramayu, Jawa Barat. (Dok. Trend Asia)

Suara.com - Pandangan Surmi mendadak gelap, yang kelihatan cuma bintik hitam. Wanita 50 tahun itu tidak dapat lagi melihat apapun dalam radius 5-10 meter. Awal mulanya terjadi pada 2019. 

RABUN itu dialami Surmi sejak dirinya kerap terpapar abu pekat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Indramayu yang berada di Desa Mekarsari, Patrol, Jawa Barat.

Surmi selalu melihat abu menghitam mengudara yang bersumber dari cerobong PLTU setiap beraktivitas di sawah. Tiap sore hari, sekitar pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, pembangkit yang dioperasikan untuk mengaliri listrik di wilayah Jawa-Bali itu mengeluarkan abu. Jarak persawahan dengan pembangkit sekitar 500 meter ”Kalau angin dari barat saya harus lari. Terkena abu rasanya perih di mata,” kata Surmi kepada Suara.com, Minggu, 5 Februari 2023.

Tak tahan menahan rasa sakit di matanya berhari-hari, Surmi memutuskan pergi ke salah satu rumah sakit di wilayah Indramayu. Oleh dokter kedua matanya diperiksa. Menurut dokter yang memeriksa, ada gangguan pada retina dan terdapat pendarahan di mata sehingga matanya tidak dapat berfungsi secara normal. Untuk itu, ia dianjurkan untuk operasi mata. ”Sebelum adanya PLTU, saya tidak pernah alami sakit mata,” ungkapnya.

Tak tahan dengan sakitnya, Surmi memilih untuk segera melakukan operasi mata. Ia pun menjalani operasi mata sekitar satu jam. Pascaoperasi, bintik hitam yang muncul di matanya hilang. Surmi cukup lega dengan hasil operasi itu. Namun penglihatannya makin tak tampak. ”Jadi makin tidak jelas melihat,” ujarnya.

Surmi disarankan untuk menggunakan kacamata untuk membantu melihat dengan jelas. Namun hasilnya sama saja. Selang beberapa bulan pascaoperasi, Surmi alami masalah penglihatan lagi. Ia lantas mengajak keluarganya untuk memeriksakan kondisi matanya. Rumah sakit di wilayah Cirebon dan Cikampek ia datangi dengan tekad pulih. ”Belum juga bisa melihat normal,” katanya.

Aktivitas PLTU Indramayu yang berada di Desa Mekarsari, Indramayu, Jawa Barat. (Dok. Trend Asia)
Aktivitas PLTU Indramayu yang berada di Desa Mekarsari, Indramayu, Jawa Barat. (Dok. Trend Asia)

Tak ingin patah arah, Surmi mencoba memeriksakan matanya lagi ke Rumah Sakit Permata. Ia harus menempuh perjalanan selama satu jam dari rumahnya ke Rumah Sakit itu. Surmi harus berangkat subuh untuk bisa tiba di rumah sakit lebih pagi supaya dapat nomor urut antrean lebih awal. ”Total saya sudah operasi lima kali dan injeksi satu kali.  Jadi bisa dikatakan sudah enam kali saya operasi mata selama tiga tahun ini,” tuturnya.

Namun, Surmi merasa proses pengobatan membuatnya mengganggu aktivitas dan biaya yang harus dikeluarkan. Ia mencontohkan sekali memeriksakan mata ke rumah sakit harus merogoh koceknya sebanyak Rp500 ribu untuk menyewa mobil satu hari. Rumah Surmi ke Rumah Sakit di Kota berjarak sekitar 20-30 kilometer. Selain itu, ia juga harus mengeluarkan biaya makan selama berada di rumah sakit. ”Karena biaya saya memutuskan untuk berhenti kontrol. Suruh kontrol lagi tapi enggak ada duit,” ucapnya.

Akibat sakit mata itu, Surmi tidak bisa lagi ke sawah. Pekerjaan yang membantunya memenuhi kebutuhan harian keluarga pupus. Banyak tawaran pekerjaan, seperti mencari rumput, menanam di sawah warga, dan memasak ketika ada kegiatan harus ia tolak karena matanya yang sudah rabun. ” Saya rugi karena PLTU, tidak bisa bekerja dengan orang lain. Saya maunya ditutup dan PLTU dua jangan sampai dibangun. Dampaknya sudah terasa,” ujarnya sembari tersedu.

Banyak Pohon Kelapa Mati

Lain Surmi, lain juga dialami oleh Rodi. Menurutnya kendati telah menggunakan sistem Co-firing, dampak yang dirasakan justru lebih buruk. Rodi merupakan seorang petani yang lahannya berada sekitar 500 meter dari PLTU.

Ia menceritakan keberadaan PLTU. Menurutnya, abu yang keluar dari cerobong lebih pekat dan padat. Akibatnya, ia membutuhkan obat semprot lebih banyak dari biasanya untuk tanaman padi di sawah. Hal itu mengakibatkan biaya produksi padi membengkak.

Dalam satu lahan miliknya seluas 70 meter persegi saja, Rodi harus mengeluarkan biaya sebesar Rp10-12 juta sampai panen. Padahal sebelum adanya PLTU biaya yang dikeluarkan berkisar Rp5 juta.”Normalnya butuh obat habis dua botol. Namun karena PLTU bisa bertambah dari dua botol,” kata Rodi dalam perbincangan dengan Suara.com baru-baru ini.

Aktivitas PLTU Indramayu yang berada di Desa Mekarsari, Indramayu, Jawa Barat. (Dok. Trend Asia)
Aktivitas PLTU Indramayu yang berada di Desa Mekarsari, Indramayu, Jawa Barat. (Dok. Trend Asia)

Selain itu, air untuk irigasi persawahan menghitam ketika pembangkit mengeluarkan abu. Hal ini kian memperburuk tanaman padinya. Ia harus memanen lebih lama dari waktu panen pada umumnya. Normalnya padi panen 3-4 bulan. Karena abu dan air irigasi menghitam, waktu panen menjadi  enam bulan. ” Sudah biaya besar dan waktunya lama,” kata Robi yang mengaku sudah berulang kali protes kepada pihak perusahaan.

Tak hanya padi, tanaman lain seperti timun dan kacang kerap mati ketika ditanam. Hasil panen yang dihasilkan tidak maksimal karena setiap panen timun dan kacang buahnya jadi kecil-kecil. Lebih parah lagi, tanamannya kerap layu karena terkena abu. ”Menanam sayur-mayur jadi sulit. Tidak berbuah lagi,” katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hetero For Startup Season 3, Ganjar Pranowo Tak Menyangka Bisa Seluas Ini Jangkauannya

Hetero For Startup Season 3, Ganjar Pranowo Tak Menyangka Bisa Seluas Ini Jangkauannya

| Selasa, 21 Februari 2023 | 15:20 WIB

Daftar Pelatih Pecatan Borneo FC di Era Liga 1 Indonesia

Daftar Pelatih Pecatan Borneo FC di Era Liga 1 Indonesia

Bola | Selasa, 21 Februari 2023 | 15:20 WIB

Gugatan Cerai Dianggap Cuma Gertakan, Daus Mini Tertawa Ngakak Istrinya Absen di Sidang Perdana

Gugatan Cerai Dianggap Cuma Gertakan, Daus Mini Tertawa Ngakak Istrinya Absen di Sidang Perdana

| Selasa, 21 Februari 2023 | 15:19 WIB

Terkini

Transjakarta Tutup Halte Kebon Sirih Arah Selatan Mulai Jumat Malam, Ini Pengalihannya

Transjakarta Tutup Halte Kebon Sirih Arah Selatan Mulai Jumat Malam, Ini Pengalihannya

News | Jum'at, 15 Mei 2026 | 08:05 WIB

Dugaan Prostitusi Anak di Jakbar, Mucikari hingga Kasir Karaoke Jadi Tersangka

Dugaan Prostitusi Anak di Jakbar, Mucikari hingga Kasir Karaoke Jadi Tersangka

News | Jum'at, 15 Mei 2026 | 07:25 WIB

Rano Karno Bawa Jakarta Kolaborasi dengan Milan, Ruang Publik Bakal Lebih Artistik

Rano Karno Bawa Jakarta Kolaborasi dengan Milan, Ruang Publik Bakal Lebih Artistik

News | Jum'at, 15 Mei 2026 | 07:17 WIB

Sikat Jalur Maut! KAI Daop 1 Jakarta Targetkan Tutup 40 Perlintasan Liar di 2026

Sikat Jalur Maut! KAI Daop 1 Jakarta Targetkan Tutup 40 Perlintasan Liar di 2026

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 22:00 WIB

Tren Miris di Karawang: Jadi Pengedar demi Nyabu Gratis, 41 Pelaku Diringkus Polisi!

Tren Miris di Karawang: Jadi Pengedar demi Nyabu Gratis, 41 Pelaku Diringkus Polisi!

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 21:00 WIB

Dikenal Religius, Pedagang Rujak di Duri Kepa Digerebek Warga usai Diduga Cabuli Siswi SD

Dikenal Religius, Pedagang Rujak di Duri Kepa Digerebek Warga usai Diduga Cabuli Siswi SD

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 19:51 WIB

Geger! Pria Tewas Bersimbah Darah di Kampung Ambon Usai Cekcok Mulut, Warga: Lukanya Banyak Sekali..

Geger! Pria Tewas Bersimbah Darah di Kampung Ambon Usai Cekcok Mulut, Warga: Lukanya Banyak Sekali..

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 19:09 WIB

Kasus Mafia Emas PT SJU, Bareskrim Tetapkan Anak Bos Besar Sebagai Tersangka, Ini Sosoknya

Kasus Mafia Emas PT SJU, Bareskrim Tetapkan Anak Bos Besar Sebagai Tersangka, Ini Sosoknya

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 19:02 WIB

Dihantam Innova di Lampu Merah Pesing, Pemotor Supra Terpental hingga Tewas di Tempat

Dihantam Innova di Lampu Merah Pesing, Pemotor Supra Terpental hingga Tewas di Tempat

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 18:45 WIB

Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!

Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 18:21 WIB