Kisah seorang wartawan di atas yang setiap hari berganti profesi itu diceritakan oleh Kepala Dinas Kominfosan Kota Yogyakarta, Ignatius Tri Hastono. Padahal, wartawan sebenarnya bisa jadi mitra kerja BUMN yang baik jika memang profesional.
Tri Hastono mengakui bahwa tulisan-tulisan wartawan kompeten ini sangat membantunya dari sisi pemerintahan untuk berbagi informasi ke masyarakat. Kemasan tulisan wartawan itu berbeda dengan pers rilis yang dibuat bagian Humas kantor.
"Bagi kami, wartawan itu merupakan mitra Humas dalam menyampaikan informasi Kepada masyarakat," ujar Tri Hastono saat membuka UKW PWI di Hotel Forriz Yogyakarta, Kamis (18/1/2024).
Bagusnya, praktik-praktik kerja jurnalisme bodrek sudah tak lagi ia temukan di Daerah Istimewa Yogyakarta, terutama sejak dilakukan Uji Kompetensi Wartawan.
"Kami merasa ada perubahan positif terkait dengan kualitas wartawan, termasuk pemenuhan kode etik wartawan di dalam membangun relasi dengan sumber berita. Wartawan-wartawan di wilayah DIY umumnya sangat memahami sebagai profesi yang terhormat dan kemudian menjaga marwah dengan memenuhi kode etik," ungkap Tri Hastono.
Di sinilah peran BUMN terhadap profesi wartawan sangat besar. Bukan saja dari segi materiil, tapi perusahaan BUMN memiliki tujuan yang sama dengan wartawan yakni berperan dan memberi makna untuk publik.
" Tagline 'Menciptakan wartawan profesional dan berakhlak' inline (sejalan) dengan kami untuk tetap memberi makna pada Indonesia," kata Regional Operation Head BRI Yogyakarta Muji Prasetyo Widodo.
Peran PT BRI (Persero) Tbk dalam perkembangan pers di Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Bank yang identik dengan warna biru ini pada bulan Maret 2023 pernah memberikan ruang bagi insan pers untuk mengembangkan kompetensinya melalui lomba penulisan artikel.
Selain itu, PT BRI (Persero) Tbk juga kerap bekerja sama dengan media untuk memaksimalkan informasi mengenai perbankan. Saat ini, pemanfaatan media untuk mengenalkan informasi perbankan dilakukan BRI melalui artikel berbasis SEO.
Tak bisa dipungkiri kalau di era digital ini masyarakat lebih banyak menghabiskan waktunya melalui internet, termasuk mencari informasi soal perbankan. Di sinilah kreatifitas pers diuji. Bukan cuma soal kemasan tulisan yang ciamik, artikel tentang perbankan pun harus memuat informasi resmi dari pihak terkait dalam hal ini BRI, sehingga masyarakat bisa mencerna berita yang kredibel.
Wartawan Bukan Sekadar Watchdog
BUMN melalui Manager Supporting PT PNM Cabang Yogyakarta, Muhammad Shofa mengingatkan, wartawan tidak hanya bertindak sebagai watchdog alias anjing penjaga, tapi juga harus kreatif.
"(Wartawan) bukan hanya sebagai watchdog yang berperan mengawasi, mengingatkan, memberikan kritikan kepada siapa pun yang memimpin, lembaga eksekutif, legislatif, lembaga penegak hukum, dan lainnya. Namun, pers juga perlu mengangkat isu-isu yang berkembang di masyarakat," kata Shofa yang turut hadir dalam pembukaan UKW.
Meski bernaung di bawah perusahaan milik pemerintah, Shofa juga mengingatkan wartawan soal integritas lewat kutipan dari tokoh pers Petrus Kanisius Ojong atau PK Ojong.
"‘Tugas pers bukanlah untuk menjilat penguasa, tapi untuk mengkritik yang sedang berkuasa’. Jargon ini tentu adalah bentuk kasih sayang dari insan pers yang menginginkan hal-hal yang baik atas negara dan tanah air yang dicintainya," kata Shofa.
Di sinilah poin indepensi wartawan dalam Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik dibuktikan. BUMN melalui PT PNM Cabang Yogyakarta mendukung pembuktian kritisisme tersebut.
Lulus UKW, Bukti Wartawan Sudah Kompeten
Dari pelaksanaan UKW yang dilakukan di DIY, 27 dari 29 wartawan dinyatakan lulus. Dilihat dari prosesnya yang cukup panjang dengan 10 poin ujian untuk dan kredibilitas pengujinya, seorang wartawan yang lulus UKW bisa dipastikan sudah kompeten.
"Jumlah peserta yang terdaftar 29 orang, yang hadir juga 29 orang. Yang kompeten 27 orang. Sehingga yang dinyatakan belum kompeten adalah 2 orang," ungkap Amir Machmud NS selaku Ketua PWI Jawa Tengah, Jumat (19/1/2024).
Sepuluh poin ujian untuk jenjang wartawan muda meliputi pemahaman Kode Etik dan Pedoman Pemberitaan Ramah Anak, Merencanakan Liputan, Rapat Redaksi, Liputan Terjadwal, Wawancara Cegat, Membangun Jejaring, Menulis Berita, Menyunting Berita Sendiri, Wawancara Tatap Muka, hingga Menyiapkan Isi Rubrik.
UKW dilaksanakan untuk tiga jenjang wartawan yakni Muda, Madya dan Utama. Dari pelaksanaan UKW PWI bersama BUMN di Daerah Istimewa Yogyakarta, seluruh peserta jenjang Muda dan Madya dinyatakan lulus. Semenrara itu ada dua peserta jenjang UKW utam yang belum lulus.
Disebutkan Hudono, ketidaklulusan dalam UKW bukan hal baru mengingat yang tingkat kesulitan ujian dan kesempatan yang masih terbuka lebar. Ketidaklulusan juga tidak perlu disesali karena UKW bisa diikuti lagi setiap enam bulannya. Namun, ada ketentuan khusus bagi wartawan yang ingin naik jenjang. Misalnya, seorang wartawan Muda ingin naik jenjang ke Madya, maka harus menjadi wartawan Muda minimal tiga tahun terlebih dahulu sebelum naik jenjang.
Pelaksanaan UKW oleh dibantu BUMN ini turut menunjukkan pentingnya jurnalisme sehat untuk kemaslahatan bersama.
"Kenapa stakeholder (BUMN) dari luar mau membantu kita berkaitan dengan peningkatan SDM wartawan? Ini artinya penting, bukan bagi kita saja penting, tapi bagi mereka (stakeholder) juga penting," jelas Firdaus Komar selaku perwakilan Direktorat UKW PWI Pusat pada Jumat (19/1/2024).
"Bagaimana mereka menginginkan produk jurnalistik yang dibuat oleh wartawan itu sehat, bagus. Jadi kalau produk itu berkualitas, terstandar, (dibuat) oleh wartawan yang kompeten, stakeholder juga merasa senang karena berita kita itu tidak abal-abal," imbuhnya.