Menilik Lokasi IKN 10 Tahun Lalu, Disebut Jadi Langganan Banjir Karena Eksploitasi Lahan

Bangun Santoso

Senin, 12 Agustus 2024 | 15:59 WIB
Menilik Lokasi IKN 10 Tahun Lalu, Disebut Jadi Langganan Banjir Karena Eksploitasi Lahan
Gambar dari udara ini menunjukkan Istana Kepresidenan Indonesia yang baru (tengah) di calon ibu kota Nusantara di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Kamis (11/7/2024). [STRINGER / AFP]

Suara.com - Cita-cita Presiden Joko Widodo mewujudkan Ibu Kota Negara baru di Kalimantan sebentar lagi terwujud. Memiliki luas sekitar 324.332 hektare,lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN) berada di dua kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur yakni Kutai Kertanegara dan Penajam Paser Utara (PPU).

Pada awal Maret 2024 lalu, Suara.com menerbitkan artikel berujudul 'Suara Masyarakat Sepaku: Banjir, IKN dan Masa Depan yang Tak Pasti'. Di artikel itu dijabarkan bagaimana penjelasan sejumlah narasumber kredibel terkait persoalan ekologi di kawasan IKN yang berada di Kabupaten Penajam Paser Utara.

Ternyata, 10 tahun lalu atau sebelum program IKN digaungkan, faktanya di lokasi IKN disebut sudah kerap dilanda banjir. Banjir itu disebabkan karena masifnya eksploitasi lahan, baik untuk perkebunan maupun pertambangan.

Dalam artikel itu, salah satu yang diwawancari adalah Manager Kampanye Hutan dan Kebun WALHI Nasional, Uli Arta Siagian. Lewat sambungan telepon, Uli membeberkan bagaimana kondisi PPU 10 tahun ke belakang sebelum ada IKN.

"Di wilayah PPU sebelum diputuskan IKN bakal dipindahkan ke wilayah PPU, itu kan memang sudah masif terjadi banjir. Apalagi kalau misalnya hujan yang lebih dari satu jam, itu sudah banjir," ujar Uli.

Dia menyebut, berdasarkan banyak laporan yang diterimanya dalam bentuk video, banjir yang terjadi di PPU merupakan konsekuensi logis dari perubahan lanskap di wilayah tersebut.

Dia menjelaskan, perubahan lanskap itu seperti hutan dan serapan air kini menjadi monokultur sawit atau tambang. Hal itu menyebabkan fungsi hutan sebagai serapan air hilang.

"Faktanya, sekitar wilayah PPU itu adalah tempat yang memang masih dieksploitasi sejak tahun 1980-an. Logging (dilakukan) di sana, dilanjutkan dengan HTI, sawit, bahkan ada tambang. Jadi sebenarnya, situasi kerentanan wilayah itu ketika kemudian negara memutuskan memindahkan ibu kota di wilayah tersebut, pasti pembangunannya skala besar," beber dia.

Dia menyebut, masalah di Penajam Paser Utara cukup kompleks. Selain soal lanskap yang sudah buruk, kualitas daya dukung dan tampung juga tidak memadai. Penambahan pembangunan infrastruktur secara besar katanya akan memperburuk keadaan tanah PPU.

baca juga

"Dan beberapa kali kan kita dapat sebaran video yang menunjukkan bahwa wilayah PPU. Bahkan (wilayah) dekat titik nol itu terendam banjir. Sebenarnya situasi banjir yang masif terjadi itu adalah konsekuensi logis dari perubahan lanskap dari wilayah itu sendiri," ujar Uli.

Berdasarkan fakta yang dia sebutkan tadi, wilayah PPU adalah tempat yang memang masih dieksploitasi sejak 1980-an. Pembuatan hutan tanaman industri (HTI), perkebunan sawit, lalu tambang, dia menyebut hal itu sudah berlangsung sejak lama.

Dia bilang, pembangunan IKN bukan diakomodir pada perencanaan ruang sebelumnya. Melainkan pada perencanaan ruang yang mengikuti keputusan politik.

Baginya, kajian lingkungan hidup strategis untuk IKN, secara sederhana dilakukan pasca-pemutusan bahwa ibu kota negara akan dipindahkan ke PPU.

"Ada banyak hal yang sebenarnya itu adalah analisa-analisa substansi, seperti analisa KLHS, (lalu analisa) kesesuaian dengan tata ruang, (semua) itu mengikuti keputusan politik. Basisnya bukan saintifik, bukan ekologis, tetapi keputusan politik dengan kepentingannya," katanya.

"Itu yang salah dan itu yang terjadi di IKN. Kalau kemudian ditanya apakah penataan ruangnya berkesesuaian dengan pemindahan ibu kota, bisa jadi iya. Karena perda tata ruangnya mengalami perubahan, pasti dia mengikuti soal keputusan politik tadi," lanjutnya.

Pengakuan Warga Sepaku

Situasi banjir di Sepaku. [Ist]
Penampakan wilayah Sepaku saat dilanda banjir. [Ist]

Masyarakat di wilayah Sepaku juga mengamini bahwa di sekitar IKN di Kabupaten PPU sering terjadi banjir, meski tidak terjadi tiap tahun.

Salah satu Kepala Adat yang dihubungi Suara.com pada awal 2024 lalu mengatakan, tempat tinggalnya sempat dilanda banjir pada Maret 2023 lalu.

Ia mengatakan, dirinya salah satu korban banjir tersebut. Musibah yang terjadi saat itu tak semua merendam rumah di wilayahnya.

"Banjir itu di mana yang rumah-rumah berdirinya di dataran rendah, itu yang terkena (banjir). Tapi yang (rumahnya dibangun di dataran) tinggi, mungkin juga tidak kena (banjir). Termasuk punya saya juga (dibangun) di tanah rata, di rawa-rawa, lalu dekat sungai, jadi otomatis (kebanjiran)," ujar Kepala Adat berinisial JU saat dihubungi Suara.com, Jumat (23/2/2024).

Menurut JU, ada sejumlah faktor yang menurutnya menjadi penyebab banjir di daerahnya. Pertama, diakibatkan intensitas hujan yang tinggi di Sepaku. Kedua, air sungai yang pasang dan bertemu di titik tempatnya tinggal.

Untuk banjir di Maret 2023 lalu, menimpa RT 02 dan 01. Air pasang yang bertemu menetap hingga menimbulkan genangan.

"Kalau korban banjir di RT 02 dan 01 kemarin, mungkin juga karena penggundulan hutan. Karena hutan alam sudah tidak ada lagi. Sudah tidak seperti dulu," ujar dia.

Ia menegaskan, hutan industri justru lebih dominan. Hutan tersebut cuma bisa bertahan selama 5 tahun. Hilangnya hutan alam juga membuat resapan air tak lagi ada.

IKN Jadi Driver Deforestasi

Jokowi dan Prabowo Subianto di kawasan Istana Garuda IKN. (Ist)
Jokowi dan Prabowo Subianto di kawasan Istana Garuda IKN. (Ist)

Kampanye, Advokasi, Media FWI, Anggi Putra Prayoga saat dihubungi melalui panggilan telepon, mengatakan, IKN sebagai proyek nasional dan urbanisasi yang ingin menciptakan peradaban baru di Kaltim membutuhkan sumber daya air, energi dan tanah yang berlimpah.

"Ketika proyek IKN dibangun, membutuhkan lahan yang tidak sedikit. Akan dibangun proyek-proyek lain, berkaitan dengan food estate, energi, dan air untuk memenuhi kebutuhan di IKN," ujarnya, Senin (26/02/2024).

Ia menegaskan, ketika proyek urbanisasi IKN masuk di Kaltim, yang mengalami dampak adalah hutan dan ruang hidup masyarakat. Namun, tak cuma Bumi Mulawarman saja yang akan merasakan hal tersebut, tetapi juga Kalsel, Kalteng, Kalbar dan Kaltara.

Ia membenarkan akan ada pembukaan hutan yang sangat masif di Kalimantan. Kegiatan itu mereka sebut sebagai anatomi deforestasi IKN.

"Sebetulnya ini, ketika proyek IKN dibangun, maka akan ada proyek-proyek baru. Saat ini belum ada mobilisasi atau urbanisasi yang masif, terjadi nanti di Agustus, nah proyek itu apakah nanti berdampak positif jika memang diasumsikan bahwa IKN memerlukan lahan yang banyak, terkait pangan, energi dan air, justru ini akan meningkatkan laju deforestasi di Kalimantan," ujar dia.

Untuk diketahui, dari data yang diperoleh, deforestasi hutan alam di IKN terus terjadi. Sepanjang 2017 sampai 2021 ada 18 ribu hektare.

Lalu, di 2022 sekitar 1.322,57 hektare. Kemudian, deforestasi pada 2023 di periode Januari sampai Juni, sebanyak 310,67 hektare.

"Saya sempat ke sana, saya juga sempat memantau daerah pesisir wilayah IKN. Ada beberapa kelompok marginal yang kita sorot, seperti kelompok masyarakat adat, nelayan, perempuan dan masyarakat kecil," sebutnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Daftar 23 Pahlawan Kemerdekaan RI dari Muhammadiyah, Termasuk Jenderal Sudirman hingga Buya Hamka dan Soekarno

Daftar 23 Pahlawan Kemerdekaan RI dari Muhammadiyah, Termasuk Jenderal Sudirman hingga Buya Hamka dan Soekarno

Lifestyle | Senin, 12 Agustus 2024 | 15:09 WIB

Rapat Kabinet Perdana di IKN, Jokowi Sudah Buat Pusing Para Menteri Soal Laporan Ekonomi Ini

Rapat Kabinet Perdana di IKN, Jokowi Sudah Buat Pusing Para Menteri Soal Laporan Ekonomi Ini

Bisnis | Senin, 12 Agustus 2024 | 15:01 WIB

Cek Fakta: Jokowi Akan Jual Separuh Kaltim untuk Pemindahan Ibu Kota ke IKN, Benarkah?

Cek Fakta: Jokowi Akan Jual Separuh Kaltim untuk Pemindahan Ibu Kota ke IKN, Benarkah?

News | Senin, 12 Agustus 2024 | 14:42 WIB

Pesta Mewah di IKN vs Nasib Warga Tergusur: Inikah Kemerdekaan Sejati?

Pesta Mewah di IKN vs Nasib Warga Tergusur: Inikah Kemerdekaan Sejati?

Your Say | Senin, 12 Agustus 2024 | 14:26 WIB

Bakso IKN Penuh Keakraban: Jokowi, Prabowo dan Airlangga Duduk Berdekatan

Bakso IKN Penuh Keakraban: Jokowi, Prabowo dan Airlangga Duduk Berdekatan

Bisnis | Senin, 12 Agustus 2024 | 14:16 WIB

Usai Bermalam di IKN, Sri Mulyani Berharap Kota Ini Bisa Hidup

Usai Bermalam di IKN, Sri Mulyani Berharap Kota Ini Bisa Hidup

Bisnis | Senin, 12 Agustus 2024 | 14:13 WIB

Sejarah Upacara 17 Agustus di Istana Merdeka: Digagas Presiden Soekarno, Dialihkan Jokowi ke IKN di HUT RI ke-79

Sejarah Upacara 17 Agustus di Istana Merdeka: Digagas Presiden Soekarno, Dialihkan Jokowi ke IKN di HUT RI ke-79

Lifestyle | Senin, 12 Agustus 2024 | 14:03 WIB

Terkini

Dua Perusahaan Jumbo Mau IPO Dalam Waktu Dekat

Dua Perusahaan Jumbo Mau IPO Dalam Waktu Dekat

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 18:13 WIB

Ruas Jalan Padang-Solok Lewat Pintu Angin Ditutup Sementara

Ruas Jalan Padang-Solok Lewat Pintu Angin Ditutup Sementara

Riau | Minggu, 27 September 2026 | 18:13 WIB

Disorot Usai Tenggelam di Laut Jawa, Siapa Pemilik Perusahaan Kapal Virgo Transport 8?

Disorot Usai Tenggelam di Laut Jawa, Siapa Pemilik Perusahaan Kapal Virgo Transport 8?

News | Minggu, 27 September 2026 | 18:11 WIB

Pertumbuhan Ekonomi 8% Hanya Mimpi Jika Industri Manufaktur Lesu

Pertumbuhan Ekonomi 8% Hanya Mimpi Jika Industri Manufaktur Lesu

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 18:08 WIB

Kupas Tuntas 'Palu Arit di Ladang Tebu', Bukti Nyata Tragedi 1965 Tak Sekadar Hitam Putih!

Kupas Tuntas 'Palu Arit di Ladang Tebu', Bukti Nyata Tragedi 1965 Tak Sekadar Hitam Putih!

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 18:05 WIB

Ketika Turbin Kembali Diharapkan Berputar, Rumah Kopi Pelakat Menunggu Energi dari Air

Ketika Turbin Kembali Diharapkan Berputar, Rumah Kopi Pelakat Menunggu Energi dari Air

Sumsel | Minggu, 27 September 2026 | 18:03 WIB

Cari Info Kesehatan Makin Mudah, Peran Apoteker Tetap Jadi Rujukan Konsumen

Cari Info Kesehatan Makin Mudah, Peran Apoteker Tetap Jadi Rujukan Konsumen

Health | Minggu, 27 September 2026 | 17:45 WIB

Haji Isam Bukan Pengendali Saham BYAN

Haji Isam Bukan Pengendali Saham BYAN

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 17:43 WIB

Persiapan Dana Pensiun Harus Dimulai Sejak Hari Pertama Bekerja

Persiapan Dana Pensiun Harus Dimulai Sejak Hari Pertama Bekerja

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 17:36 WIB

CFX Mulai Bidik Tokenisasi Aset Riil dan Stablecoin

CFX Mulai Bidik Tokenisasi Aset Riil dan Stablecoin

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 17:31 WIB

×