Riset: Sepertiga Hutan di Dunia Hilang Sejak 2001, Masih Bisakah Dipulihkan?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 13 Juni 2025 | 12:26 WIB
Riset: Sepertiga Hutan di Dunia Hilang Sejak 2001, Masih Bisakah Dipulihkan?
Ilustrasi Hutan Amazon (unsplash)

Suara.com - Dunia kehilangan hutan lebih cepat dari kemampuan bumi untuk memulihkannya. Kini, kita tak hanya tahu di mana pepohonan hilang, tapi juga mengapa mereka tak kembali.

Laporan terbaru dari World Resources Institute (WRI) dan Google DeepMind memetakan penyebab deforestasi secara rinci, mengungkap fakta mengejutkan: sepertiga dari seluruh kehilangan tutupan pohon global sejak 2001 bersifat permanen.

Artinya, pohon-pohon itu tak akan tumbuh kembali secara alami. Demikian seperti dilansri dari Euronews, Jumat, (13/06/2025). 

Pertanian, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur menjadi penyebab utamanya. Data ini mengingatkan kita bahwa hilangnya hutan bukan sekadar dampak teknis, tapi sebuah peringatan ekologis yang tak bisa diabaikan.

“Kita sudah lama mengetahui di mana hutan hilang. Sekarang kita lebih memahami alasannya,” kata Michelle Sims, rekan peneliti di WRI.

“Pengetahuan ini penting untuk mengembangkan tindakan yang lebih cerdas di tingkat regional, nasional, dan bahkan lokal - untuk melindungi hutan yang tersisa dan memulihkan hutan yang terdegradasi.”

Ilustrasi Deforestasi(Penggundulan Hutan).[Unsplash.com]
Deforestasi adalah proses hilangnya atau berkurangnya luas hutan, baik secara alami maupun karena aktivitas manusia. Proses ini melibatkan penebangan pohon secara besar-besaran, pembukaan lahan untuk pertanian atau perkebunan, dan pembangunan infrastruktur yang mengubah fungsi hutan menjadi non-hutan. .[Unsplash.com]

Temuan tersebut juga membongkar mitos lama: bahwa semua hutan bisa pulih seiring waktu. Faktanya, sebanyak 177 juta hektar hutan yang hilang antara 2001 dan 2024 tidak akan kembali.

Dari angka itu, 95 persen disebabkan oleh pertanian berkelanjutan, dan separuhnya terjadi di kawasan hutan hujan tropis, rumah bagi keanekaragaman hayati tertinggi dan penyimpan karbon terbesar di bumi.

Itu berarti, hampir seluas Thailand telah berubah fungsi secara permanen. Dari hutan menjadi lahan pertanian, tambang, atau kota.

baca juga

Namun, bukan berarti tak ada solusi. Laporan ini bukan sekadar alarm, tetapi juga peta jalan. Teknologi penginderaan jauh dan kecerdasan buatan kini bisa mengidentifikasi pola deforestasi dengan lebih akurat. Data ini memberi peluang bagi pemerintah, masyarakat adat, hingga pelaku industri untuk merancang strategi yang sesuai dengan konteks wilayahnya.

Di Eropa, misalnya, 91 persen kehilangan tutupan pohon disebabkan oleh penebangan terencana. Di Swedia, penebangan bahkan menyumbang 98 persen dari total kehilangan tutupan pohon. Tapi negara ini juga menerapkan sistem regenerasi hutan: pohon ditanam kembali atau dibiarkan tumbuh alami. Ini bukan sistem yang sempurna, tapi menunjukkan bahwa pengelolaan hutan bisa diarahkan agar tetap produktif sekaligus berkelanjutan.

Namun, harapan semacam itu tak selalu berlaku global. Di wilayah tropis dan subtropis, perubahan iklim, kebakaran, serta tekanan ekonomi membuat regenerasi hutan menjadi jauh lebih kompleks.

“Hanya karena pohon tumbuh kembali, bukan berarti hutan kembali ke keadaan semula,” ujar Radost Stanimirova, peneliti WRI lainnya.

Pohon-pohon yang baru tumbuh seringkali menyimpan lebih sedikit karbon, memiliki keanekaragaman hayati yang lebih rendah, dan lebih rentan terhadap gangguan di masa depan.

Laporan ini menyarankan beberapa langkah konkret: memperkuat hak tanah masyarakat adat dan lokal, merancang kebijakan pertanian yang relevan dengan kondisi lokal, serta mengedepankan tata ruang ekologis dalam pembangunan infrastruktur. Peraturan Deforestasi Uni Eropa juga disebut sebagai salah satu regulasi yang perlu ditegakkan secara serius, agar rantai pasok global tak terus mendorong deforestasi di negara produsen.

Risiko kebakaran hutan juga perlu dikelola dengan pendekatan yang lebih kontekstual. Sistem peringatan dini harus disesuaikan dengan ekosistem setempat, bukan sekadar mengandalkan data historis atau solusi umum.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemanasan Global Hambat Upaya Pengendalian Polusi Udara, Mengapa Demikian?

Pemanasan Global Hambat Upaya Pengendalian Polusi Udara, Mengapa Demikian?

News | Jum'at, 13 Juni 2025 | 11:19 WIB

Kabel CCTV Menjuntai di Cengkareng Diduga Akibat Pohon Tumbang, Ini Tanggapan Jakarta Smart City

Kabel CCTV Menjuntai di Cengkareng Diduga Akibat Pohon Tumbang, Ini Tanggapan Jakarta Smart City

News | Jum'at, 13 Juni 2025 | 10:56 WIB

Lima Tantangan Iklim Global, Saatnya Gerakan Lintas Iman Bersatu Lindungi Hutan Tropis

Lima Tantangan Iklim Global, Saatnya Gerakan Lintas Iman Bersatu Lindungi Hutan Tropis

News | Jum'at, 13 Juni 2025 | 10:27 WIB

Terkini

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:22 WIB

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:17 WIB

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

Tak Sesuai Domisili, 1.900 Manajer Kopdes Ditempatkan Lintas Provinsi

Tak Sesuai Domisili, 1.900 Manajer Kopdes Ditempatkan Lintas Provinsi

Video | Selasa, 29 September 2026 | 22:00 WIB

Petani PALI Tewas Ditembak di Kebun, Cekcok Pelepah Sawit Berujung Maut

Petani PALI Tewas Ditembak di Kebun, Cekcok Pelepah Sawit Berujung Maut

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 21:57 WIB

Geger Penemuan Mayat Pria Terbungkus Karung Ditemukan di Bawah Tol Bocimi

Geger Penemuan Mayat Pria Terbungkus Karung Ditemukan di Bawah Tol Bocimi

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 21:52 WIB

Bukan Cuma Mobil Mewah, Apartemen Vinna Ledy Anggraeni Ikut Disita KPK Terkait Kasus Suap!

Bukan Cuma Mobil Mewah, Apartemen Vinna Ledy Anggraeni Ikut Disita KPK Terkait Kasus Suap!

News | Selasa, 29 September 2026 | 21:48 WIB

Dukung MotoGP Mandalika 2026, BRI Siapkan Strategi Khusus untuk Dongkrak UMKM Lokal

Dukung MotoGP Mandalika 2026, BRI Siapkan Strategi Khusus untuk Dongkrak UMKM Lokal

Bri | Selasa, 29 September 2026 | 21:46 WIB

Modus 'Pemilik Tanah Palsu' Terbongkar, Kades di Bogor Jadi Tersangka

Modus 'Pemilik Tanah Palsu' Terbongkar, Kades di Bogor Jadi Tersangka

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 21:42 WIB

×