Proyek PLTS 100 GW Dorong Desa Mandiri Energi, Benarkah Buka Peluang Kerja dan Kurangi Emisi?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 07 Agustus 2025 | 17:19 WIB
Proyek PLTS 100 GW Dorong Desa Mandiri Energi, Benarkah Buka Peluang Kerja dan Kurangi Emisi?
SUN Energy, perusahaan pengembang energi surya (solar developer) mengawali triwulan-IV 2024 ini dengan menggenapi total instalasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) telah mencapai 175 MWp (Foto ist)

Suara.com - Pemerintah Indonesia tengah menggagas proyek besar pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt (GW) yang menyasar hingga 80 ribu desa. Proyek ini diyakini akan mengubah wajah energi nasional dan memperkuat kemandirian desa lewat energi bersih.

Dari total kapasitas tersebut, sebanyak 80 GW PLTS akan tersebar di desa-desa dan dikelola oleh Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), sementara 20 GW lainnya akan berbentuk PLTS terpusat. Proyek ini juga akan dilengkapi dengan sistem penyimpanan baterai (Battery Energy Storage System/BESS) sebesar 320 GWh agar distribusi listrik lebih stabil dan merata.

Apa Dampaknya untuk Masyarakat?

Bagi masyarakat desa, kehadiran PLTS ini akan menjadi solusi atas minimnya akses listrik berkualitas. Selama ini, banyak desa masih bergantung pada pembangkit diesel (PLTD) yang mahal dan tak ramah lingkungan. Dengan PLTS, desa tak hanya mendapatkan listrik yang lebih murah dan bersih, tetapi juga memiliki kendali langsung melalui koperasi.

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) terus meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di seluruh area operasi Perusahaan, salah satunya di pabrik Tuban, Jawa Timur. (Foto Ist)
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) terus meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di seluruh area operasi Perusahaan, salah satunya di pabrik Tuban, Jawa Timur. (Foto Ist)

Menurut CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, program ini bisa menyelesaikan tiga masalah sekaligus: ketimpangan akses listrik, ketergantungan pada PLTD, dan rendahnya bauran energi terbarukan di Indonesia.

“Jika dilaksanakan dengan tepat, ini bisa jadi proyek elektrifikasi desa terbesar di Asia Tenggara,” jelas Fabby.

Potensi Ekonomi: Lapangan Kerja hingga Industri Lokal

Tak hanya soal listrik. Proyek PLTS ini juga membuka peluang ekonomi yang besar, mulai dari peningkatan kapasitas industri panel surya dalam negeri hingga penciptaan ribuan lapangan kerja hijau.

Fabby menjelaskan, setiap pembangunan 1 MW PLTS dan 4 MWh BESS bisa menyerap hingga 50 tenaga kerja selama proses konstruksi selama 9–12 bulan. Namun, saat ini Indonesia masih kekurangan tenaga kerja terampil di sektor ini.

baca juga

Untuk menjawab tantangan tersebut, IESR menyarankan agar pemerintah menggandeng BLK, sekolah vokasi, dan perguruan tinggi untuk menyiapkan teknisi bersertifikat. Program pelatihan ini juga harus menyasar masyarakat lokal agar warga desa bisa turut berkontribusi dan menikmati manfaat ekonomi dari proyek ini.

Meski potensial, proyek ini tetap punya tantangan besar. Pertama, pemilihan lokasi harus memperhatikan kondisi geografis, kebutuhan listrik setempat, serta kelayakan teknis dan finansial. Kedua, tenaga kerja terampil masih terbatas dan belum tersebar merata.

Ketiga, proyek ini butuh koordinasi lintas kementerian, pemda, dan sektor swasta. Karena itu, IESR mendorong Presiden Prabowo untuk menjadikan proyek ini sebagai Program Strategis Nasional (PSN), lengkap dengan satuan tugas khusus dan Project Management Unit (PMU) yang profesional.

Harus Libatkan Masyarakat

IESR menekankan pentingnya pelibatan masyarakat desa sejak awal. Mereka harus diajak ikut merancang, mengelola, dan memanfaatkan proyek agar manfaatnya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga ekonomi dan sosial.

Pelibatan masyarakat juga penting untuk memastikan proyek ini berjalan dengan prinsip partisipatif, bebas korupsi, dan menghormati hak atas tanah serta sumber daya lokal.

Proyek PLTS 100 GW ini bukan sekadar infrastruktur, tapi langkah nyata Indonesia menuju transisi energi yang berdaulat dan adil. Selain memperluas akses listrik, proyek ini membantu menekan emisi gas rumah kaca dan memperkuat kontribusi Indonesia dalam mitigasi perubahan iklim global.

Jika dijalankan dengan baik, desa-desa di Indonesia tak lagi tertinggal dalam urusan energi, justru jadi pelopor transisi energi hijau dari bawah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

PLN Catat Lonjakan Pengguna REC, Penjualan Tembus 13,68 TWh di Semester I 2025

PLN Catat Lonjakan Pengguna REC, Penjualan Tembus 13,68 TWh di Semester I 2025

News | Kamis, 07 Agustus 2025 | 12:22 WIB

CNG Market Day: Langkah Nyata Pertamina Dorong Energi Bersih

CNG Market Day: Langkah Nyata Pertamina Dorong Energi Bersih

Bisnis | Kamis, 07 Agustus 2025 | 11:52 WIB

PLN Hasilkan 472,2 GWh Energi Bersih, Hemat Ratusan Ribu Ton Emisi Karbon

PLN Hasilkan 472,2 GWh Energi Bersih, Hemat Ratusan Ribu Ton Emisi Karbon

News | Kamis, 07 Agustus 2025 | 11:10 WIB

Terkini

Ada Kesempatan Beli, Harga Emas Antam Lagi Murah Jadi Rp2.597.000/Gram

Ada Kesempatan Beli, Harga Emas Antam Lagi Murah Jadi Rp2.597.000/Gram

Bisnis | Senin, 28 September 2026 | 09:48 WIB

Apa Itu Diplomasi Panda Xi Jinping dan Donald Trump?

Apa Itu Diplomasi Panda Xi Jinping dan Donald Trump?

News | Senin, 28 September 2026 | 09:44 WIB

Rupiah Semakin Anjlok Pagi Hari Ini ke Level Rp17.964

Rupiah Semakin Anjlok Pagi Hari Ini ke Level Rp17.964

Bisnis | Senin, 28 September 2026 | 09:44 WIB

Pertamax Turbo Mulai Menyasar Motor Premium, Ini Strategi Pertamina

Pertamax Turbo Mulai Menyasar Motor Premium, Ini Strategi Pertamina

Bisnis | Senin, 28 September 2026 | 09:41 WIB

24 Tahun Car Free Day, Laju Polusi Jakarta Masih Kronis

24 Tahun Car Free Day, Laju Polusi Jakarta Masih Kronis

News | Senin, 28 September 2026 | 09:40 WIB

Brigjen Simson Resmi Jabat Wakapolda Riau: Ini Pertama Berdinas di Sumatera

Brigjen Simson Resmi Jabat Wakapolda Riau: Ini Pertama Berdinas di Sumatera

Riau | Senin, 28 September 2026 | 09:40 WIB

Sungai Cikole Mengering, Petani Sukabumi Temukan Tengkorak dan Tulang Belulang Manusia

Sungai Cikole Mengering, Petani Sukabumi Temukan Tengkorak dan Tulang Belulang Manusia

Jabar | Senin, 28 September 2026 | 09:40 WIB

Geledah Kanwil BPN Jatim, KPK Temukan Uang USD dan SGD

Geledah Kanwil BPN Jatim, KPK Temukan Uang USD dan SGD

News | Senin, 28 September 2026 | 09:36 WIB

Pemuda Tewas Tertembak Saat Tawuran di Makassar, 5 Polisi Diperiksa Propam

Pemuda Tewas Tertembak Saat Tawuran di Makassar, 5 Polisi Diperiksa Propam

Sulsel | Senin, 28 September 2026 | 09:35 WIB

Review 'Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?': Mengupas Pengorbanan Sunyi Seorang Ibu yang Bikin Dada Sesak

Review 'Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?': Mengupas Pengorbanan Sunyi Seorang Ibu yang Bikin Dada Sesak

Your Say | Senin, 28 September 2026 | 09:35 WIB

×