Sebelum Insiden Penembakan 5 Petani Bengkulu, Warga Sering Diintimidasi Buntut Konflik Agraria

Bangun Santoso, Faqih Fathurrahman

Jum'at, 12 Desember 2025 | 15:06 WIB
Sebelum Insiden Penembakan 5 Petani Bengkulu, Warga Sering Diintimidasi Buntut Konflik Agraria
kolase penembakan petani di Panen Rayo, Bengkulu
baca 10 detik
  • Penembakan lima petani di Pino Raya pada 24 November 2025 merupakan puncak konflik agraria dengan PT ABS.
  • Petani mengalami intimidasi sistematis seperti perusakan tanaman dan kekerasan verbal sebelum insiden penembakan terjadi.
  • Laporan petani perempuan mengenai ancaman pembunuhan dan kekerasan seksual pada September 2025 terindikasi diabaikan polisi.

Suara.com - Insiden penembakan terhadap lima orang petani di Pino Raya, Bengkulu Selatan, pada 24 November lalu ternyata hanyalah puncak dari gunung es konflik agraria yang membara.

Jauh sebelum peluru dimuntahkan, serangkaian teror dan intimidasi sistematis diduga telah menghantui para petani yang bersengketa lahan dengan perusahaan sawit, PT Agro Bengkulu Selatan (ABS).

Tim advokasi petani dari Akar Law Office mengungkap adanya jejak panjang dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dialami warga.

Bentuknya beragam dan brutal, mulai dari perusakan tanaman yang menjadi sumber kehidupan mereka, pembakaran pondok-pondok di kebun, hingga intimidasi personal yang menyasar psikologis para petani.

Bahkan, konflik ini disebut telah merosot ke level yang paling merendahkan martabat manusia, yakni kekerasan seksual secara verbal.

Salah satu petani perempuan menjadi korban, namun jeritan permintaan keadilannya seolah membentur tembok tebal.

Ricky Pratama, pengacara dari tim advokasi, membeberkan bahwa seorang petani perempuan berinisial JH sebenarnya telah mengambil langkah hukum.

Pada September 2025, JH memberanikan diri melapor ke Polres Bengkulu Selatan atas dua tindak pidana serius sekaligus yakni ancaman pembunuhan dan kekerasan seksual secara verbal yang diduga dilakukan oleh oknum karyawan perusahaan.

Namun, laporan tersebut seakan lenyap ditelan kesunyian. Tidak ada kemajuan berarti yang dirasakan korban, seolah laporannya hanya tumpukan kertas tak bermakna.

baca juga

“Namun hingga hari ini laporan kepolisian yang dibuat oleh saudari JH atau petani perempuan yang mengalami ancaman pembunuhan dan juga kekerasan seksual secara verbal tersebut itu tidak mengalami proses yang signifikan bahkan cenderung diabaikan,” kata Ricky dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (12/12/2025).

Menurut Ricky, indikasi kuat diabaikannya laporan tersebut adalah tidak adanya Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) yang diterima pihak korban hingga berbulan-bulan kemudian.

Padahal, surat tersebut merupakan hak pelapor untuk mengetahui sejauh mana proses hukum berjalan.

Sebagai kuasa hukum, Ricky mengaku sangat kecewa dengan lambatnya penanganan aparat kepolisian, sementara di lapangan, intimidasi terhadap warga terus terjadi berulang kali.

Pembiaran terhadap laporan-laporan awal inilah yang diyakini menjadi pupuk penyubur bagi eskalasi kekerasan.

Puncaknya tak terelakkan. Pada 24 November 2025, cekcok akibat penghentian paksa operasional perluasan lahan sawit oleh warga berujung petaka.

Lima orang petani terkapar setelah ditembak oleh pihak keamanan perusahaan. Insiden berdarah ini, menurut tim advokasi, adalah tragedi yang seharusnya bisa dicegah jika saja laporan-laporan intimidasi sebelumnya ditanggapi dengan serius.

“Hingga kemarin, bahkan belum ada jawaban resmi dari pihak kepolisian,” katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lima Petani Pino Raya Luka Berat Diduga Ditembak Keamanan Perusahaan Sawit! Begini Kronologinya

Lima Petani Pino Raya Luka Berat Diduga Ditembak Keamanan Perusahaan Sawit! Begini Kronologinya

News | Senin, 24 November 2025 | 16:59 WIB

Dua Resep Kunci Masa Depan Media Lokal dari BMS 2025: Inovasi Bisnis dan Relevansi Konten

Dua Resep Kunci Masa Depan Media Lokal dari BMS 2025: Inovasi Bisnis dan Relevansi Konten

News | Jum'at, 14 November 2025 | 19:30 WIB

Ditodong Gubernur Bengkulu Di Bandara, Ketua DPD RI Gercep Langsung Telepon Menkes

Ditodong Gubernur Bengkulu Di Bandara, Ketua DPD RI Gercep Langsung Telepon Menkes

News | Selasa, 21 Oktober 2025 | 18:14 WIB

AgenBRILink LQQ, Wujud Nyata Inklusi Keuangan BRI di Bengkulu Utara

AgenBRILink LQQ, Wujud Nyata Inklusi Keuangan BRI di Bengkulu Utara

Bisnis | Rabu, 24 September 2025 | 20:17 WIB

Balita di Bengkulu Muntahkan Cacing, Cak Imin Minta Kemenkes Usut Tuntas Akar Masalah

Balita di Bengkulu Muntahkan Cacing, Cak Imin Minta Kemenkes Usut Tuntas Akar Masalah

News | Senin, 22 September 2025 | 19:24 WIB

Kasus Balita Bengkulu Cacingan, DPR Ingatkan Jangan Sampai Terulang Tragedi Raya di Sukabumi

Kasus Balita Bengkulu Cacingan, DPR Ingatkan Jangan Sampai Terulang Tragedi Raya di Sukabumi

News | Rabu, 17 September 2025 | 14:33 WIB

Cerita Pengabdian di Desa Manau Sembilan II dari Satria Hutan Indonesia 2025

Cerita Pengabdian di Desa Manau Sembilan II dari Satria Hutan Indonesia 2025

News | Rabu, 03 September 2025 | 17:30 WIB

Terkini

Kelakuan Keluarga George Soros Borong Tanah di New York Picu Amarah Warga: Mereka Rakus!

Kelakuan Keluarga George Soros Borong Tanah di New York Picu Amarah Warga: Mereka Rakus!

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 03:28 WIB

Gelombang Panas di Eropa Tewaskan 1300 Orang, Pejabat Prancis Salahkan Warga AS dan Pengguna AC

Gelombang Panas di Eropa Tewaskan 1300 Orang, Pejabat Prancis Salahkan Warga AS dan Pengguna AC

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 03:05 WIB

Terjebak di Bawah Bangunan Runtuh Gempa Venezuela, Pria Ini 8 Hari Melawan Maut

Terjebak di Bawah Bangunan Runtuh Gempa Venezuela, Pria Ini 8 Hari Melawan Maut

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 02:30 WIB

Bom Meledak di Jantung Damaskus, Korban Bergelimpangan di Lokasi

Bom Meledak di Jantung Damaskus, Korban Bergelimpangan di Lokasi

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 22:41 WIB

Pilot Tabrak Gedung Tertinggi Beijing Diduga Bunuh Diri, Tinggalkan Catatan Harian Mengejutkan

Pilot Tabrak Gedung Tertinggi Beijing Diduga Bunuh Diri, Tinggalkan Catatan Harian Mengejutkan

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 22:41 WIB

Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin Capai Level Berbahaya, 64 Warga Dievakuasi

Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin Capai Level Berbahaya, 64 Warga Dievakuasi

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 22:07 WIB

KPK Perluas Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA Silmy Karim, Kini Bidik Imigrasi Depok

KPK Perluas Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA Silmy Karim, Kini Bidik Imigrasi Depok

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 21:34 WIB

Satu Polisi Gugur dan 2 Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba di Kalteng

Satu Polisi Gugur dan 2 Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba di Kalteng

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 21:02 WIB

Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen

Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 20:45 WIB

Kelola Sampah Organik ala Warga Meruya Selatan Hingga Jadi Bernilai Ekonomi

Kelola Sampah Organik ala Warga Meruya Selatan Hingga Jadi Bernilai Ekonomi

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 20:05 WIB

×