Lewat BRIN, Bagaimana Indonesia Ikut Menentukan Cara Dunia Baca Ancaman Mikroplastik Laut?

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Rabu, 24 Desember 2025 | 15:13 WIB
Lewat BRIN, Bagaimana Indonesia Ikut Menentukan Cara Dunia Baca Ancaman Mikroplastik Laut?
Ilustrasi limbah yang mengandung mikroplastik (Pexels/Magda Ehlers).
  • Tantangan riset mikroplastik global ada pada standar data yang belum seragam.
  • BRIN terlibat dalam NUTEC Plastics IAEA untuk menyatukan metode pemantauan mikroplastik.
  • Riset BRIN menelusuri risiko mikroplastik pada rantai makanan laut dengan teknologi nuklir.
  •  

Suara.com - Upaya membaca ancaman mikroplastik di laut dunia kini bergerak melampaui perdebatan soal jumlah riset yang dipublikasikan. Tantangan terbesarnya justru terletak pada kemampuan negara-negara menyandingkan data secara setara.

Tanpa standar yang sama, temuan ilmiah berisiko menyesatkan arah kebijakan dan memperlebar jurang antara pengetahuan dan tindakan.

Dalam konteks inilah Indonesia mulai mengambil peran strategis. Lewat keterlibatannya sebagai salah satu dari lebih 100 negara dalam peta riset mikroplastik global, Indonesia tak lagi hanya menjadi wilayah terdampak, tetapi turut terlibat dalam upaya menyusun bahasa ilmiah bersama.

Ilustrasi mikroplastik (Unsplash/FlyD)
Ilustrasi mikroplastik (Unsplash/FlyD)

Melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia bergabung dalam Nuclear Technology for Controlling Plastic Pollution (NUTEC Plastics) yang digagas Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) untuk menyatukan cara dunia mengukur, membaca, dan menafsirkan pencemaran mikroplastik di laut.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi BRIN, Ali Arman, menjelaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam program ini merupakan bagian dari mandat internasional.

“Kegiatan ini muncul karena tugas dari IAEA. Sebelumnya, kami memang belum memiliki program monitoring mikroplastik laut dengan protokol seperti ini,” katanya.

Dalam kerangka kerja NUTEC, Indonesia berkontribusi melalui dua jalur utama, yakni pemantauan regional Asia Pasifik (RAS 7038) dan pengumpulan basis data global kawasan pesisir (INT 7021).

Pada tahap awal, meskipun berada di bawah payung teknologi nuklir, riset belum menggunakan pendekatan nuklir sama sekali. Fokusnya adalah disiplin metodologis: memastikan cara pengambilan sampel, identifikasi polimer, dan pelaporan data dilakukan secara seragam.

Tahap ini menjadi fondasi penting bagi riset lanjutan. Ali Arman menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi nuklir baru akan dimaksimalkan pada fase berikutnya, yakni 2026–2029, ketika fokus penelitian bergeser dari pemetaan konsentrasi menuju penelusuran sejarah pencemaran mikroplastik.

Di luar kerangka NUTEC, BRIN juga mengembangkan pendekatan lain untuk membaca risiko mikroplastik, khususnya melalui biota laut. Kajian yang dipimpin Peneliti Utama Ahli Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri BRIN, Heny Suseno, memanfaatkan teknologi nuklir sebagai alat perunut mikroplastik di dalam organisme hidup.

Heny menjelaskan bahwa mikroplastik berpotensi masuk ke rantai makanan melalui plankton, terakumulasi pada ikan dan kerang, lalu dikonsumsi manusia. Untuk memahami proses tersebut, tim peneliti melabeli mikroplastik dengan radioisotop iodium-131 dan memantau pergerakannya dalam tubuh biota menggunakan spektrometer gamma, tanpa mematikan hewan uji.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti menghitung tingkat bioakumulasi, waktu tinggal mikroplastik, serta distribusinya di organ tertentu seperti insang. Data yang dihasilkan diharapkan menjadi pijakan ilmiah untuk memperkirakan potensi paparan mikroplastik pada manusia berdasarkan pola konsumsi ikan.

Di tengah laut yang kian sarat mikroplastik, langkah Indonesia terlibat dalam riset global menandai pergeseran penting: dari sekadar negara terdampak menuju aktor yang ikut membentuk cara dunia memahami dan mengendalikan pencemaran.

Standarisasi data, rekonstruksi jejak pencemaran, hingga pembacaan risiko bagi manusia menjadi fondasi agar kebijakan lahir bukan dari asumsi, melainkan dari bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penulis: Muhammad Ryan Sabiti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bandingkan Kasus Brigadir J, Roy Suryo Cs Minta Uji Labfor Independen Ijazah Jokowi di UI atau BRIN!

Bandingkan Kasus Brigadir J, Roy Suryo Cs Minta Uji Labfor Independen Ijazah Jokowi di UI atau BRIN!

News | Senin, 22 Desember 2025 | 17:17 WIB

BRIN Pastikan Arsinum Aman dan Optimal Penuhi Kebutuhan Air Minum Pengungsi Bencana Sumatera

BRIN Pastikan Arsinum Aman dan Optimal Penuhi Kebutuhan Air Minum Pengungsi Bencana Sumatera

News | Senin, 22 Desember 2025 | 09:33 WIB

Denise Chariesta Operasi Plastik di Wajah, Klaim Habiskan Rp1 Miliar

Denise Chariesta Operasi Plastik di Wajah, Klaim Habiskan Rp1 Miliar

Entertainment | Jum'at, 19 Desember 2025 | 17:29 WIB

Terkini

Kondisi Terkini Wanita yang Coba Akhiri Hidup di Dekat Istana, Masih Dirawat Intensif di RSCM

Kondisi Terkini Wanita yang Coba Akhiri Hidup di Dekat Istana, Masih Dirawat Intensif di RSCM

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 22:10 WIB

Arus Balik Padat, Korlantas Polri Berpeluang Perpanjang One Way Nasional Trans Jawa

Arus Balik Padat, Korlantas Polri Berpeluang Perpanjang One Way Nasional Trans Jawa

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:45 WIB

Respons KPK Usai Dapat Sindiran Satire Soal Status Tahanan Rumah Yaqut

Respons KPK Usai Dapat Sindiran Satire Soal Status Tahanan Rumah Yaqut

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:26 WIB

Urai Kepadatan di Jalur Arteri, Jam Operasional Tol Fungsional Purwomartani Diperpanjang

Urai Kepadatan di Jalur Arteri, Jam Operasional Tol Fungsional Purwomartani Diperpanjang

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:00 WIB

Waka MPR Ingatkan Opsi Sekolah Daring untuk Hemat BBM: Jangan Ulangi Kesalahan Saat Covid-19

Waka MPR Ingatkan Opsi Sekolah Daring untuk Hemat BBM: Jangan Ulangi Kesalahan Saat Covid-19

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:00 WIB

Cegah Pemudik Nyasar ke Sawah, Jasamarga Hapus Rute Google Maps

Cegah Pemudik Nyasar ke Sawah, Jasamarga Hapus Rute Google Maps

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:56 WIB

Kenapa Krisis Minyak Global 2026 Lebih Parah dari 1973? Begini Penjelasannya dari Ahli

Kenapa Krisis Minyak Global 2026 Lebih Parah dari 1973? Begini Penjelasannya dari Ahli

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:55 WIB

Terminal Kampung Rambutan Bakal Dirombak Total Usai Terendam Banjir

Terminal Kampung Rambutan Bakal Dirombak Total Usai Terendam Banjir

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:52 WIB

Siapa Mohammad Bagher Zolghadr? Pengganti Ali Larijani sebagai Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran

Siapa Mohammad Bagher Zolghadr? Pengganti Ali Larijani sebagai Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:31 WIB

Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani

Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:12 WIB