Perdagangan Kayu Ilegal Masih Marak, Bisakah Sains Forensik Jadi Solusi?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 27 Maret 2026 | 16:52 WIB
Perdagangan Kayu Ilegal Masih Marak, Bisakah Sains Forensik Jadi Solusi?
Ilustrasi Kayu Ilegal. (Freepik)
baca 10 detik
  • Pemberantasan kayu ilegal di Indonesia terhambat oleh pemalsuan dokumen; solusi baru gabungkan sains forensik dan hukum.
  • Teknologi forensik kayu seperti DNA dan isotop penting untuk verifikasi akurat, namun implementasinya terkendala basis data.
  • Penerapan sains forensik memerlukan kolaborasi lintas sektor dan akreditasi laboratorium agar hasilnya sah di pengadilan.

Suara.com - Upaya pemberantasan perdagangan kayu ilegal di Indonesia masih menghadapi tantangan serius, meski berbagai kebijakan telah diterapkan.

Praktik pemalsuan dokumen, manipulasi jenis kayu, hingga klaim asal-usul yang tidak akurat membuat penegakan hukum kerap tersendat. Di tengah kompleksitas tersebut, pendekatan baru mulai diperkenalkan: menggabungkan sains forensik kayu dengan sistem hukum.

Pendekatan ini diangkat dalam working paper bertajuk “Bridging Science and Law: Aligning Forensic Wood Analysis with Indonesia’s Forest Law Enforcement to Tackle Illegal Timber Trade”.

Studi ini menyoroti bagaimana teknologi identifikasi kayu, mulai dari analisis anatomi, DNA, hingga isotop, dapat menjadi alat verifikasi yang lebih akurat untuk memastikan legalitas kayu.

Jajaran Polres Siak saat menangkap terduga pelaku illegal logging di Siak. [Dok Polres Siak]
Ilustrasi Ilegal Logging. [Dok Polres Siak]

Secara global, perdagangan kayu ilegal diperkirakan bernilai antara 51 hingga 152 miliar dolar AS. Di Indonesia sendiri, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat kerugian akibat praktik ini mencapai 6,5 hingga 9 miliar dolar AS sepanjang 2003–2014.

Angka ini menunjukkan bahwa persoalan bukan hanya pada regulasi, tetapi juga pada lemahnya sistem verifikasi di lapangan.

Ketika Data dan Fakta Tak Selalu Sejalan

Selama ini, identifikasi kayu di Indonesia masih bergantung pada analisis anatomi untuk menentukan jenis spesies. Metode ini cukup efektif, tetapi memiliki keterbatasan dalam menelusuri asal geografis kayu, padahal aspek ini krusial untuk membuktikan legalitas.

Di sisi lain, praktik manipulasi terus berkembang. Dalam rantai pasok kayu bernilai tinggi seperti sonokeling (rosewood), dokumen kerap dipalsukan untuk menghindari kewajiban izin dan pembayaran royalti. Kayu yang seharusnya masuk kategori dilindungi bahkan kerap “disamarkan” sebagai jenis non-CITES atau diklaim berasal dari hutan rakyat.

baca juga

Teknologi baru seperti analisis DNA, isotop stabil, hingga DART-TOF-MS sebenarnya menawarkan solusi untuk mengidentifikasi asal-usul kayu secara lebih presisi. Namun, penerapannya masih terbatas.

Studi ini menemukan bahwa tantangan utama terletak pada kapasitas lembaga, ketersediaan basis data referensi, serta belum terintegrasinya metode ini dalam sistem pembuktian hukum.

Selain itu, Indonesia belum memiliki database nasional yang komprehensif terkait identitas genetik dan kimiawi kayu. Kondisi ini berbeda dengan Malaysia, yang telah mengembangkan database DNA untuk beberapa spesies komersial dan menggunakannya dalam proses penegakan hukum.

Membangun Jembatan antara Sains dan Hukum

Di tengah keterbatasan tersebut, studi ini menawarkan arah solusi yang lebih terstruktur. Salah satu kunci utamanya adalah memperkuat kolaborasi lintas sektor, antara aparat penegak hukum, peneliti, lembaga pemerintah, hingga komunitas lokal.

Pengembangan database referensi menjadi langkah krusial. Dengan sekitar 4.000 spesies kayu di Indonesia, meski hanya sebagian yang bersifat komersial, pemetaan data genetik dan kimiawi perlu dipercepat. Pemerintah didorong untuk melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi, serta unit pengelola hutan di daerah untuk mengumpulkan sampel secara sistematis.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengenal Lab Digital Forensik, Fasilitas Canggih yang Bedah Rekaman CCTV Bukti Perzinaan Inara Rusli

Mengenal Lab Digital Forensik, Fasilitas Canggih yang Bedah Rekaman CCTV Bukti Perzinaan Inara Rusli

Entertainment | Jum'at, 05 Desember 2025 | 15:52 WIB

Detik-detik Mencekam Ledakan Bom di SMA 72 Jakarta Terungkap, Pelaku Terlihat Tenang Saat Eksekusi

Detik-detik Mencekam Ledakan Bom di SMA 72 Jakarta Terungkap, Pelaku Terlihat Tenang Saat Eksekusi

News | Selasa, 11 November 2025 | 19:37 WIB

Profil dan Pendidikan Rismon Sianipar yang Menduga Prabowo Tahu Ijazah Palsu Wapres Gibran

Profil dan Pendidikan Rismon Sianipar yang Menduga Prabowo Tahu Ijazah Palsu Wapres Gibran

News | Rabu, 05 November 2025 | 20:09 WIB

Terkini

Video 'Tebak-tebakan' Cak Imin Skakmat Gibran Viral Lagi, Sindir Level SMP dan Ijazah Palsu

Video 'Tebak-tebakan' Cak Imin Skakmat Gibran Viral Lagi, Sindir Level SMP dan Ijazah Palsu

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:51 WIB

Di Antara Soeharto dan Reformasi: Bedah Buku 'Bersaksi di Tengah Badai' Jenderal Wiranto

Di Antara Soeharto dan Reformasi: Bedah Buku 'Bersaksi di Tengah Badai' Jenderal Wiranto

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:50 WIB

Siak Diguyur Investasi Rp1,6 Triliun, Diklaim Serap 700 Tenaga Kerja Anak Muda

Siak Diguyur Investasi Rp1,6 Triliun, Diklaim Serap 700 Tenaga Kerja Anak Muda

Riau | Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:50 WIB

Bukan Sekadar Nostalgia, Serial Harry Potter HBO Janjikan 1 Buku per Season

Bukan Sekadar Nostalgia, Serial Harry Potter HBO Janjikan 1 Buku per Season

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:50 WIB

Apakah Lipstik Expired Masih Bisa Dipakai? Ketahui Faktanya, Jangan Sampai Keliru

Apakah Lipstik Expired Masih Bisa Dipakai? Ketahui Faktanya, Jangan Sampai Keliru

Lifestyle | Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:50 WIB

Jokowi Buka Suara Soal Polemik Ijazah Gibran: Setiap Negara Punya Sistem Berbeda!

Jokowi Buka Suara Soal Polemik Ijazah Gibran: Setiap Negara Punya Sistem Berbeda!

Surakarta | Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:47 WIB

Uji 15 Calon Dewas RRI, Novita Hardini Soroti Nasib Honorer di Tengah Efisiensi Anggaran

Uji 15 Calon Dewas RRI, Novita Hardini Soroti Nasib Honorer di Tengah Efisiensi Anggaran

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:47 WIB

Petite Histoire Indonesia Jilid 3: Menyusuri Kisah yang Luput dari Sejarah

Petite Histoire Indonesia Jilid 3: Menyusuri Kisah yang Luput dari Sejarah

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:45 WIB

25 Shade Lipstik Viva Cosmetics Lengkap untuk Berbagai Look Makeup

25 Shade Lipstik Viva Cosmetics Lengkap untuk Berbagai Look Makeup

Lifestyle | Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:45 WIB

Kekerasan Seksual di Pesantren, DPR Ultimatum Kemenag: Cabut Izin yang Lalai Lindungi Santri!

Kekerasan Seksual di Pesantren, DPR Ultimatum Kemenag: Cabut Izin yang Lalai Lindungi Santri!

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:42 WIB

×