WFH untuk Hemat BBM di Tengah Krisis Energi, Solusi Efektif atau Hanya Sementara?

Vania Rossa, Lilis Varwati

Senin, 30 Maret 2026 | 15:56 WIB
WFH untuk Hemat BBM di Tengah Krisis Energi, Solusi Efektif atau Hanya Sementara?
Ilustrasi WFH untuk Hemat BBM (Suara.com)
baca 10 detik
  • Konflik Timur Tengah memicu kewaspadaan global terhadap pasokan minyak, mendorong Indonesia mengkaji kembali kebijakan WFH untuk penghematan BBM.
  • Kebijakan WFH efektif menekan konsumsi energi transportasi jangka pendek, namun tidak menyelesaikan akar masalah ketahanan pasokan energi.
  • Ekonom menyarankan krisis energi dijadikan momentum untuk transisi cepat dari energi fosil menuju energi hijau dan elektrifikasi transportasi.

Suara.com - Krisis energi global kembali mengetuk pintu. Konflik di kawasan Timur Tengah, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz, membuat banyak negara waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia. Indonesia, yang masih bergantung pada impor BBM, tak luput dari bayang-bayang risiko tersebut.

Di tengah situasi itu, pemerintah mulai melirik kembali kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sebagai salah satu opsi. Bukan tanpa alasan, pengalaman selama pandemi menunjukkan bahwa pembatasan mobilitas bisa berdampak langsung pada penurunan konsumsi bahan bakar.

Namun, di balik narasi efisiensi tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah WFH benar-benar solusi untuk menghadapi ancaman krisis energi, atau hanya langkah sementara yang tidak menyentuh akar persoalan?

Negara Lain Sudah Lebih Dulu, Indonesia Baru Mengkaji

Wacana WFH sebagai strategi penghematan energi sebenarnya bukan hal baru di tingkat global. Sejumlah negara di Asia Tenggara bahkan sudah lebih dulu menerapkannya sebagai respons terhadap tekanan harga dan pasokan BBM.

Filipina, misalnya, mengambil langkah cukup drastis dengan memangkas jam kerja pegawai pemerintah sekaligus memperluas skema WFH. Kebijakan ini bertujuan menekan konsumsi energi di sektor transportasi yang menjadi salah satu penyumbang terbesar penggunaan BBM.

Bahkan, langkah tersebut tidak berdiri sendiri. Pemerintah Filipina juga harus menyesuaikan kebijakan energi lainnya, mulai dari melonggarkan standar bahan bakar hingga menyiapkan skenario darurat untuk menjaga stabilitas pasokan.

Langkah serupa juga mulai terlihat di negara lain seperti Vietnam dan Thailand yang mendorong pola kerja fleksibel untuk mengurangi beban energi nasional.

Jika melihat pola ini, wacana WFH di Indonesia bisa dibaca sebagai bagian dari tren global, bukan kebijakan yang berdiri sendiri.

baca juga
Infografis WFH untuk Hemat BBM (Suara.com/Syahda)
Infografis WFH untuk Hemat BBM (Suara.com/Syahda)

Menekan Konsumsi, Tapi Bukan Menjawab Akar Masalah

Dari sisi dampak, efektivitas WFH dalam menekan konsumsi energi sebenarnya cukup terukur. Berkurangnya mobilitas harian, terutama perjalanan pergi-pulang kerja, berbanding lurus dengan penurunan penggunaan BBM.

Penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ahli dari Institut Teknologi Massachusetts, Amerika Serikat, menunjukkan korelasi tersebut secara langsung. Mereka mengukur dampak dari penghematan energi selama masa WFH saat pandemi covid-19 di 141 kota di AS.

Hasilnya, setiap peningkatan 1 persen penerapan WFH mampu menurunkan emisi transportasi hingga sekitar 1,8 persen, indikasi kuat bahwa konsumsi energi ikut tertekan seiring berkurangnya aktivitas perjalanan.

Tak heran jika kebijakan ini kembali dilirik sebagai “solusi cepat”. Tanpa perlu intervensi besar pada infrastruktur atau subsidi, pemerintah cukup mengurangi mobilitas untuk menahan laju konsumsi energi. Namun pada saat yang sama juga ada batasannya.

Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa WFH tidak cukup untuk menghadapi krisis energi yang lebih dalam.

Filipina, misalnya, tetap harus menghadapi lonjakan harga BBM dan tekanan ekonomi meski telah menerapkan pembatasan mobilitas. Artinya, persoalan utama bukan semata pada tingginya konsumsi, melainkan pada ketahanan pasokan dan distribusi energi itu sendiri.

Selain itu, tidak semua sektor bisa menerapkan WFH. Layanan publik, industri, hingga sektor perdagangan tetap harus berjalan normal. Ketergantungan pada aktivitas fisik ini membuat penghematan dari WFH hanya bersifat parsial.

Krisis Energi Jadi Momentum Transisi ke Energi Listrik

Di tengah wacana WFH sebagai solusi jangka pendek, kalangan ekonom melihat persoalan energi tidak bisa diselesaikan hanya dengan menekan mobilitas. Lonjakan harga minyak global dinilai sudah membawa dampak yang lebih luas, bahkan berpotensi menjalar ke sektor fiskal dan ekonomi secara keseluruhan.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik J. Rachbini, mengingatkan tekanan energi saat ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan krisis lain yang lebih kompleks.

“Selain ada masalah krisis iklim dan beberapa minggu ini harga minyak melesat tinggi sehingga menimbulkan krisis energi, krisis fiskal dan bukan tidak mungkin menjalar menjadi krisis ekonomi,” ujarnya.

Dalam situasi tersebut, ia menilai momentum krisis justru harus dimanfaatkan untuk mendorong perubahan yang lebih mendasar, khususnya mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

“Karena itu, mutlak harus memanfaatkan momentum krisis ini untuk melakukan transformasi dan transisi cepat dari energi minyak, termasuk batubara yang kotor, menjadi energi hijau,” tegasnya.

Didik juga menyoroti bahwa ketergantungan terhadap BBM impor berisiko membebani anggaran negara jika tidak segera diantisipasi.

Berdasarkan kajian INDEF, percepatan elektrifikasi transportasi menjadi salah satu langkah yang dinilai paling realistis untuk menekan beban subsidi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Dengan kata lain, di tengah tekanan global, kebijakan seperti WFH mungkin bisa menahan konsumsi dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, arah kebijakan energi dinilai perlu bergerak lebih jauh, dari sekadar penghematan menuju transformasi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Hanya Energi, Eropa Kini Dilanda Krisis Cokelat KitKat

Tak Hanya Energi, Eropa Kini Dilanda Krisis Cokelat KitKat

News | Senin, 30 Maret 2026 | 15:52 WIB

Siap-siap! Mendagri Sebut Kebijakan WFH demi Hemat Energi Diumumkan Besok

Siap-siap! Mendagri Sebut Kebijakan WFH demi Hemat Energi Diumumkan Besok

News | Senin, 30 Maret 2026 | 15:31 WIB

Wacana WFH Sehari per Minggu, Purbaya Jamin Tak Ganggu Produktivitas

Wacana WFH Sehari per Minggu, Purbaya Jamin Tak Ganggu Produktivitas

Bisnis | Senin, 30 Maret 2026 | 15:27 WIB

Terkini

Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot

Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:39 WIB

Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral

Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:31 WIB

Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan

Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:14 WIB

Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan

Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan

Lifestyle | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:11 WIB

Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan

Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan

Jabar | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:52 WIB

BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan

BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan

Bri | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:43 WIB

Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel

Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel

Banten | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:35 WIB

Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak

Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:29 WIB

Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi

Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi

Jawa Tengah | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:28 WIB

Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali

Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali

Jabar | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:26 WIB

×