Soroti Tragedi Dukono, Ahli Kebencanaan: Gunung Bukan Tempat Cari Konten, Zona Bahaya Itu Garis Maut

Muhammad Yasir

Minggu, 10 Mei 2026 | 09:30 WIB
Soroti Tragedi Dukono, Ahli Kebencanaan: Gunung Bukan Tempat Cari Konten, Zona Bahaya Itu Garis Maut
Asap putih dari aktivitas erupsi Gunung Dukono membumbung tinggi ke angkasa, Jumat, 8 Mei 2026. [dok BNPB]
baca 10 detik
  • Erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara pada Mei 2026 menelan korban jiwa akibat pendaki yang melanggar zona bahaya.
  • Ahli kebencanaan menegaskan bahwa menerobos larangan pendakian demi konten media sosial merupakan tindakan fatal yang sangat membahayakan nyawa.
  • Pelanggaran radius aman tidak hanya mengancam diri sendiri tetapi juga mempertaruhkan keselamatan tim SAR saat melakukan proses evakuasi.

Suara.com - Tragedi erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara yang menewaskan sejumlah pendaki menjadi tamparan keras bagi publik.

Di tengah maraknya tren pendakian demi adrenalin dan konten media sosial, ahli kebencanaan mengingatkan bahwa gunung api bukan ruang bermain yang bisa ditaklukkan sesuka hati.

Eks Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan alam tidak pernah berkompromi ketika bencana mulai terjadi.

“Alam tidak pernah memberikan negosiasi ketika ia mulai bicara. Di balik kemegahan puncaknya yang menembus awan, gunung api menyimpan kekuatan purba yang mampu melumatkan kehidupan dalam hitungan detik,” kata Daryono dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).

Menurutnya, tragedi di Gunung Dukono harus menjadi pengingat pahit bahwa radius bahaya yang ditetapkan otoritas bukan sekadar formalitas administratif, melainkan batas hidup dan mati.

“Tragedi di Gunung Dukono pada Mei 2026 menjadi nisan pengingat yang pahit bagi kita semua. Ketika warga negara asing dan pendaki lokal tercatat dalam sejarah kelam korban erupsi—kita dipaksa melihat kenyataan bahwa zona bahaya bukan sekadar garis di atas peta. Ia adalah batas antara napas dan binasa,” ujarnya.

Proses evakusi korban erupsi Gunung Dukono, Halmahera Utara. [Suara.com/Basarnas]
Proses evakusi korban erupsi Gunung Dukono, Halmahera Utara. [Suara.com/Basarnas]

Daryono menyoroti fenomena pendaki yang nekat menerobos zona merah demi mengejar kepuasan adrenalin atau membuat konten media sosial.

Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bentuk kenekatan yang sangat fatal ketika gunung aktif mulai menunjukkan aktivitas vulkaniknya.

“Mengabaikan larangan pendakian demi konten media sosial atau kepuasan adrenalin adalah bentuk kenekatan yang paling fatal. Saat kolom abu membubung hingga 10.000 meter dan lava pijar mulai dimuntahkan, tidak ada teknologi atau keberanian yang sanggup menyelamatkan manusia dari aliran piroklastik yang bergerak lebih cepat dari teriakan minta tolong,” tegasnya.

baca juga

Untuk memperkuat peringatannya, Daryono mengungkit sederet tragedi erupsi besar di dunia dan Indonesia yang menelan ribuan korban jiwa. Mulai dari Gunung Pelée di Martinik, Nevado del Ruiz di Kolombia, hingga Merapi dan Marapi di Indonesia.

“Sejarah tragedi erupsi dari Gn. Pelée (1902: 29.000 orang tewas), Gunung Nevado del Ruiz (1985: 23.000 orang tewas), Gn. Ontake (2014: 50 orang tewas), Gn. Merapi (2010: 341 orang tewas), Gn. Marapi (2023): 23 orang tewas) telah mengajarkan bahwa gunung tidak butuh izin kita untuk meletus,” kata Daryono.

Ia juga mengkritik pendaki yang tetap masuk ke kawasan Gunung Dukono meski jalur resmi telah ditutup sejak April 2026.

Menurutnya, tindakan itu bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga mempertaruhkan nyawa tim SAR dan relawan yang harus melakukan evakuasi di tengah ancaman erupsi susulan.

“Menembus jalur yang telah ditutup secara resmi sejak April 2026, bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga mempertaruhkan nyawa tim SAR dan relawan yang harus bertaruh nyawa di bawah hujan abu dan ancaman erupsi susulan,” ujarnya.

Daryono menegaskan kepatuhan terhadap radius bahaya Gunung Dukono yang telah ditetapkan PVMBG menjadi satu-satunya perlindungan yang dimiliki manusia saat berhadapan dengan gunung api aktif.

“Gunung akan selalu ada di sana, tetapi nyawa tidak memiliki memiliki cadangan. Hormatilah batas yang telah ditentukan oleh alam dan otoritas,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gunung Dukono Meletus Berapa Kali? Ini Riwayat Erupsi Gunung Api Aktif di Halmahera

Gunung Dukono Meletus Berapa Kali? Ini Riwayat Erupsi Gunung Api Aktif di Halmahera

Lifestyle | Sabtu, 09 Mei 2026 | 10:33 WIB

Erupsi Gunung Dukono: 3 Pendaki Masih Hilang, Tim SAR Berpacu dengan Waktu

Erupsi Gunung Dukono: 3 Pendaki Masih Hilang, Tim SAR Berpacu dengan Waktu

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:20 WIB

9 Fakta Maut Erupsi Gunung Dukono: Pendakian Terlarang Berujung Tragedi

9 Fakta Maut Erupsi Gunung Dukono: Pendakian Terlarang Berujung Tragedi

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:50 WIB

Terkini

Alasan Kemlu, Indonesia Walkout saat Benjamin Netanyahu Pidato di Sidang Umum PBB

Alasan Kemlu, Indonesia Walkout saat Benjamin Netanyahu Pidato di Sidang Umum PBB

News | Sabtu, 26 September 2026 | 06:48 WIB

Akui Timnas Indonesia Belum Maksimal Usai Kalahkan Singapura, John Herdman: Pemain Jet Lag

Akui Timnas Indonesia Belum Maksimal Usai Kalahkan Singapura, John Herdman: Pemain Jet Lag

Bola | Sabtu, 26 September 2026 | 06:40 WIB

Bechi Divonis 7 Tahun, Tapi Baru 3 Tahun Sudah Bebas: Bagaimana Bisa?

Bechi Divonis 7 Tahun, Tapi Baru 3 Tahun Sudah Bebas: Bagaimana Bisa?

News | Sabtu, 26 September 2026 | 06:31 WIB

Perawatan Ibu Hamil Tak Cuma Soal Fisik, Kesehatan Mental Juga Perlu Dijaga

Perawatan Ibu Hamil Tak Cuma Soal Fisik, Kesehatan Mental Juga Perlu Dijaga

Health | Sabtu, 26 September 2026 | 04:03 WIB

6 Perbedaan Night Cream dan Sleeping Mask, Apakah Harus Dipakai Dua-duanya?

6 Perbedaan Night Cream dan Sleeping Mask, Apakah Harus Dipakai Dua-duanya?

Lifestyle | Jum'at, 25 September 2026 | 23:39 WIB

Day Trading Bukan Sekadar Kejar Cuan, Risiko Justru Jadi Kunci

Day Trading Bukan Sekadar Kejar Cuan, Risiko Justru Jadi Kunci

Bisnis | Jum'at, 25 September 2026 | 23:30 WIB

Dituduh Huni 'Rumah Khusus' di Lapas Cibinong, Pengacara Ferdy Sambo Buka Suara

Dituduh Huni 'Rumah Khusus' di Lapas Cibinong, Pengacara Ferdy Sambo Buka Suara

Bogor | Jum'at, 25 September 2026 | 23:14 WIB

DPRD Banten Soroti Tukin Kepala Sekolah SMA dan SMK Rp14,5 Juta, Minta Dievaluasi

DPRD Banten Soroti Tukin Kepala Sekolah SMA dan SMK Rp14,5 Juta, Minta Dievaluasi

Banten | Jum'at, 25 September 2026 | 22:55 WIB

Ponaryo Astaman Prediksi FIFA ASEAN Cup 2026 Bakal Berlangsung Ketat

Ponaryo Astaman Prediksi FIFA ASEAN Cup 2026 Bakal Berlangsung Ketat

Jabar | Jum'at, 25 September 2026 | 22:35 WIB

Ferdy Sambo Buka Suara soal Sel Mewah di Lapas Cibinong

Ferdy Sambo Buka Suara soal Sel Mewah di Lapas Cibinong

News | Jum'at, 25 September 2026 | 22:33 WIB

×