Benarkah Pertumbuhan Ekonomi Selalu Merusak Alam? Studi Baru Justru Menemukan Sebaliknya

Bimo Aria Fundrika

Senin, 25 Mei 2026 | 16:35 WIB
Benarkah Pertumbuhan Ekonomi Selalu Merusak Alam? Studi Baru Justru Menemukan Sebaliknya
Pemandangan hutan (Pexels/Tom Fisk)

Suara.com - Selama bertahun-tahun, pembangunan ekonomi kerap dianggap sebagai ancaman bagi lingkungan. Pertumbuhan ekonomi dinilai mendorong pembukaan hutan, perluasan lahan pertanian, dan hilangnya habitat satwa liar. Namun, penelitian terbaru menunjukkan hubungan keduanya tidak selalu bertolak belakang.

Studi yang dilakukan tim peneliti interdisipliner dari University of Minnesota dan dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi di negara-negara berpenghasilan rendah justru berpotensi membantu melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem alami.

Temuan tersebut didasarkan pada analisis tren global mengenai pertumbuhan penduduk, produksi pangan, hasil pertanian, serta perdagangan komoditas pertanian. Para peneliti menilai percepatan pembangunan ekonomi dapat mengurangi tekanan terhadap konversi lahan alami menjadi area pertanian baru.

Saat ini, sektor pertanian menjadi pengguna lahan terbesar di dunia. Data penelitian menunjukkan sekitar 12 persen daratan bebas es di Bumi digunakan sebagai lahan pertanian, sementara 25 persen lainnya dimanfaatkan sebagai padang penggembalaan.

Aktivitas tersebut menjadi salah satu penyebab utama hilangnya habitat satwa darat dan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca global.

Jika pola saat ini terus berlanjut, luas lahan pertanian global diperkirakan bertambah lebih dari satu miliar hektare hingga tahun 2100. Ekspansi terbesar diproyeksikan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah yang masih mengalami pertumbuhan penduduk tinggi dan produktivitas pertanian yang relatif rendah.

Namun, penelitian ini menunjukkan skenario berbeda ketika pembangunan ekonomi berjalan lebih cepat. Peningkatan kesejahteraan umumnya diikuti oleh transisi demografis, yaitu menurunnya angka kelahiran dan melambatnya pertumbuhan penduduk.

Pada saat yang sama, investasi dalam teknologi, infrastruktur, dan penelitian pertanian mampu meningkatkan produktivitas lahan sehingga kebutuhan membuka area baru dapat ditekan.

Selain itu, para peneliti menyoroti pentingnya perubahan pola konsumsi di negara-negara berpenghasilan tinggi. Pengurangan limbah makanan, penerapan pola makan yang lebih sehat, serta penurunan penggunaan tanaman untuk biofuel dinilai dapat menurunkan permintaan lahan pertanian global secara signifikan.

baca juga

Profesor di Fakultas Ilmu Biologi University of Minnesota sekaligus salah satu penulis studi, Craig Packer, mengatakan percepatan pembangunan di negara-negara miskin berpotensi memberikan manfaat ganda.

“Perkembangan yang lebih cepat di negara-negara miskin tidak hanya akan meningkatkan kehidupan jutaan orang, tetapi juga dapat secara substansial mengurangi tekanan untuk membuka lahan baru bagi pertanian,” ujarnya.

Menurut penelitian tersebut, kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat di negara berkembang dan penurunan permintaan tanaman di negara maju dapat mengurangi kebutuhan lahan pertanian global secara drastis pada akhir abad ini. Dampaknya bukan hanya membantu menekan kemiskinan, tetapi juga mengurangi risiko kerusakan habitat dan kehilangan keanekaragaman hayati.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa skenario tersebut membutuhkan dukungan kebijakan yang kuat. Peningkatan investasi pada riset pertanian, pengembangan teknologi produksi pangan, serta pengurangan hambatan perdagangan internasional dinilai menjadi faktor penting untuk mewujudkan manfaat ekonomi dan lingkungan secara bersamaan.

Temuan ini sekaligus menantang pandangan lama bahwa pembangunan dan konservasi selalu berada di dua sisi yang berlawanan. Dalam kondisi tertentu, pertumbuhan ekonomi justru dapat menjadi bagian dari solusi untuk menjaga alam.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prabowo Dorong Energi dari Limbah Jagung dan Sawit, Pakar Ingatkan Keseimbangan Pangan

Prabowo Dorong Energi dari Limbah Jagung dan Sawit, Pakar Ingatkan Keseimbangan Pangan

News | Senin, 25 Mei 2026 | 12:55 WIB

Studi: Bahan Kimia Berbahaya dari Busa Pemadam Kebakaran Bertahan di Lingkungan hingga 33 Tahun

Studi: Bahan Kimia Berbahaya dari Busa Pemadam Kebakaran Bertahan di Lingkungan hingga 33 Tahun

News | Senin, 25 Mei 2026 | 12:10 WIB

Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?

Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?

News | Senin, 25 Mei 2026 | 11:45 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Hiasan: 4 Rekomendasi Kristal Populer untuk Tarik Rezeki dan Picu Ketenangan Batin

Bukan Sekadar Hiasan: 4 Rekomendasi Kristal Populer untuk Tarik Rezeki dan Picu Ketenangan Batin

Lifestyle | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 15:49 WIB

Persija dan Persib Kembali Beraksi, Simak Jadwal Lengkap Super League Pekan Keempat

Persija dan Persib Kembali Beraksi, Simak Jadwal Lengkap Super League Pekan Keempat

Bola | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Andovi da Lopez Akui Suka Jadi Politikus Kena Kutukan di Film Bapak Paling Jujur

Andovi da Lopez Akui Suka Jadi Politikus Kena Kutukan di Film Bapak Paling Jujur

Entertainment | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 15:44 WIB

Realisasi Anggaran MBG Tembus Rp 153,2 T per September 2026, Dinikmati 57 Juta Penerima

Realisasi Anggaran MBG Tembus Rp 153,2 T per September 2026, Dinikmati 57 Juta Penerima

Bisnis | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 15:43 WIB

HYDROPLUS Soccer League 2026/2027 Libatkan 110 Tim, Perluas Pembinaan Sepak Bola Putri ke Solo

HYDROPLUS Soccer League 2026/2027 Libatkan 110 Tim, Perluas Pembinaan Sepak Bola Putri ke Solo

Surakarta | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 15:43 WIB

Jalur Migrasi Terputus Akibat Kebun, Bencana Besar Mengintai Populasi Gajah Kita

Jalur Migrasi Terputus Akibat Kebun, Bencana Besar Mengintai Populasi Gajah Kita

Your Say | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 15:40 WIB

Jelang Lawan PSIM Yogyakarta, Shin Tae-yong Tegaskan Persija Jakarta Ogah Kalah

Jelang Lawan PSIM Yogyakarta, Shin Tae-yong Tegaskan Persija Jakarta Ogah Kalah

Bola | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 15:39 WIB

Tips Memilih Sepeda Listrik Praktis untuk Mobilitas Harian

Tips Memilih Sepeda Listrik Praktis untuk Mobilitas Harian

Otomotif | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 15:35 WIB

DPR Desak DKPP Periksa KPU-Bawaslu soal Dugaan Pasal 'Karpet Merah' untuk Gibran

DPR Desak DKPP Periksa KPU-Bawaslu soal Dugaan Pasal 'Karpet Merah' untuk Gibran

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 15:31 WIB

Rocky Gerung: Jangan Sampai Isu Ijazah Gibran Dikaitkan dengan Prabowo

Rocky Gerung: Jangan Sampai Isu Ijazah Gibran Dikaitkan dengan Prabowo

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 15:28 WIB

×