- Staf Khusus Zita Anjani memantau posko kebakaran di Desa Sade, Lombok, pada Minggu (23/8/2026).
- Kunjungan pejabat tersebut menuai kritik tajam dan komentar sinis dari warganet di media sosial.
- Kebakaran hebat melanda 120 bangunan tradisional di Desa Sade, Lombok Tengah, pada Sabtu (22/8/2026) malam.
Suara.com - Kehadiran Zita Anjani, Staf Khusus Bidang Pariwisata sekaligus putri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, di Desa Sade, Lombok, Minggu (23/8/2026), menuai sorotan tajam dari warganet.
Zita disebut datang untuk memantau posko terpadu penanganan kebakaran. Namun, unggahan mengenai kedatangannya justru memicu kritik dan komentar sinis di media sosial.
Sejumlah netizen menyoroti narasi yang menyebut Zita sebagai putri dari Zulkifli Hasan.
Mereka mempertanyakan relevansi penyebutan latar belakang keluarga tersebut dalam pemberitaan mengenai kunjungan ke lokasi bencana.
“‘Putri dari’ harus banget di-mention,” tulis salah satu akun.
Komentar lain bahkan mengaitkan kunjungan Zita dengan aktivitasnya saat bencana banjir di Aceh. Seorang warganet menulis, “Ingin mengulang akting saat banjir Aceh,” disertai emoji yang menunjukkan sindiran.
Kritik tidak berhenti pada persoalan latar belakang Zita. Beberapa pengguna media sosial juga menyoroti gaya kunjungannya ke lokasi dan menilainya kurang natural.
“Kurang natural,” tulis salah satu akun dalam kolom komentar.
Komentar lain bahkan menyindir Zita agar tidak sekadar tampil di depan kamera. “Jangan-jangan kayak bapaknya cari muka aja,” tulis akun lainnya.
Kebakaran hebat melanda kawasan ikonik Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pada Sabtu (22/8/2026) malam.
Sebanyak 120 bangunan tradisional yang terbuat dari bambu dan beratap ilalang hangus terbakar, menyisakan duka mendalam bagi warga setempat.
Berdasarkan kronologi di lapangan, api mulai berkobar sekitar pukul 22.00 WITA. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Lombok Tengah, Supardan, menjelaskan bahwa pihaknya segera mengerahkan unit pemadam untuk memutus perambatan api.
Kepala BPBD Lombok Tengah, Ridwan Maruf, menyampaikan bahwa petugas gabungan TNI-Polri dan warga masih berjaga hingga pagi hari untuk memastikan tidak ada api yang kembali menyala.
Terkait penyebab pasti musibah yang melanda ikon wisata budaya Lombok ini, pihak berwenang masih terus melakukan pendalaman di lapangan.
“Apakah akibat arus pendek listrik atau faktor lain, masih dalam penyelidikan,” pungkas Ridwan.